Awalnya saya mau mengajak camping anak-anak dan maknya di Curug Cilember. Mumpung mereka pada libur sekolah. Saya bahkan melakukan survei untuk memastikan pada saat nanti acara bisa berjalan dengan baik. Tapi yang terjadi benar-benar di luar perhitungan. Dikatakan seneng ya seneng, dibilang menjengkelkan ya bisa saja kalau mau dibuat jengkel. Namun buat saya, apapun yang terjadi, itu merupakan pengalaman yang tidak terlupakan.
Sebelum berangkat camping benerannya, yang dilakukan tanggal 7 Juli, saya sama Danang berangkat camping survei ke Curug Cilember pada 30 Juni. Sesuai janji saya datang ke BEC untuk njemput Danang. Dasar orang nggak jelas, e lha kok dianya malah main ke lapangan Sempur ketika saya datang. Saya telepon Danang. Dengan santainya dia menjawab, “Kirain siang pak.” Sontoloyo! Nggak, saya nggak marah. Cuma heran saja, kok ada ya orang pelupa seperti itu. (Saya sendiri termasuk pelupa nggak ya? Kayaknya hiya deh.)
Akhirnya Danang datang. Ternyata dia main sama Teguh. Katanya habis nyobain panjat tebing. Panjat tebing kok dicobain. Emang biskuit? Setelah dia selesai melakukan persiapan kilat (karena hanya memasukkan baju ganti ke dalam backpacknya) kami berangkat naik angkot 02 jurusan Sukasari. Kebetulan pak Biyo yang rumahnya Cisarua mau pulang jadi sekalian bareng naik angkot yang sama. Tapi ternyata dia turun di BIP mau nemuin anaknya dulu. Sementara saya dan Danang baru turun di depan kantor pos dekat kampus Triguna. Dari situ nyambung angkot jurusan Cisarua.
Kalau bukan karena belum pernah, saya lebih memilih jalan kaki daripada naik ojek. Sayang sekali panorama yang indah sepanjang jalan menuju curug saya lewatkan begitu saja. Makanya saya ngomong sama Danang saat pulangnya nanti supaya jalan kaki. Saya ingin menikmati hijaunya sawah dan pepohonan lainnya. Selain badan jadi sehat, kan ngirit juga. Lumayan kan.
Saya naik terus melihat semua air terjun yang ada. saya nggak tahu curug yang saya datangi itu curug apa atau yang keberapa. Bingung bingung deh. Akhirnya diputuskan mendirikan tenda di dekat sungai yang berasal dari curug yang paling akhir ditemui. Di lokasi tersebut cuma ada dua kapling untuk mendirikan tenda. Yang menarik dari tempat tersebut adalah adanya pohon-pohon pinus. Saya paling senang camping di rerimbunan hutan pinus. Namun, ternyata saya dan Danang masuk perangkap. Lho, kok?
Sayang saya nggak doyan pacet, kalo iya, saya makan tuh pacet-pacet. Yang membuat saya gondok adalah pacet yang nggigit di sela jari kaki saya. Itu memang yang saya khawatirkan. Ee.. lha kok digigit beneran. Dendam banget deh. Padahal saya sudah super waspada dalam beberapa menit mengamati jari-jari kaki. Emang sudah nasib kali. Untung tidak dapat diraih, sial tidak dapat ditolak. Datang tidak diundang, pulang tidak diantar. Emang jalangkung?
Setelah semalaman merenungi nasib dikerubutin pacet, paginya beres-beres tenda dan segala peralatan. Hari itu, Minggu 1 Juli 2007, siap pulang. Jalan yang saya ambil jalan yang kemarin siang saya liat. Setapak, menurun, terlihat gampang. Awalnya sih emang iya, gampang. Lama-kelamaan, ternyata menurun dan becek sekali. Semalem emang agak gerimis, dan pasti beberapa hari belakangan hujan terus. Dari rimbunnya pepohonan di sepanjang jalan, ketahuan kalo jalur itu jarang dilalui. Dan, ini yang jadi horor, saya harus sering memelototkan mata mengawasi serangan pacet. Mereka ada di balik dedaunan siap menyerbu. Kaos lengan panjang yang saya pakai tidak bisa menjamin keamanan. Nyatanya lengan saya kena pacet juga. Meski pakai sepatu dan kaos kaki serta celana panjang, tetep aja ada pacet naik ke kaki. Buru-buru aja pacet sialan itu saya buang dan segera celana bagian bawah saya masukkan ke kaos kaki, persis kayak tentara kompeni.
Seminggu kemudian (7/7/o7), saya datangi lagi kerajaan pacet itu. Kali ini bersama keluarga saya. Mantan pacar dan dua jagoan ganteng saya. Saya sudah janjian dengan bu Endang dan konco-konconya ketemu di lokasi perkemahan yang ada di dekat curug 7. Saat turun angkot di pertigaan sate Kadir, saya nyambung ojeg menuju lokasi wisata curug Cilember. Mengulangi minggu kemarin, saya sport jantung lagi bersama tukang ojeg mendaki tanjakan gila. Begitu sampe di pintu gerbang Cilember ternyata bu Endang sudah nunggu. Segera dia mengajak saya untuk pindak lokasi. Empat tenda yang sudah dia dirikan diminta untuk dibongkar sama orang yang mengaku telah membooking tempat itu. Nggak tahu gimana urusannya, bu Endang bilang kalo petugas loket telah memberikan ijin dan mengatakan kalo tempat tersebut bisa dipakai. Karena nggak ingin rame, tempat tersebut dikembalikan dan sebagian uang tiket diminta lagi.
