Siapa sangka, alam yang begitu indah bisa berubah menjadi pembunuh mematikan. Kawah Ratu yang menarik dikunjungi telah meminta korban enam jiwa hari Minggu (8/7) kemarin. Para pelajar SMPN 67 Jakarta Selatan yang mengadakan perkemahan di Bumi Perkemahan Cangkuang, Cidahu, Sukabumi sebagian di antaranya memutuskan untuk mendaki Kawah Ratu yang berjarak 2 km dari lokasi mereka berkemah. Tak dinyana perjalanan yang tadinya untuk berwisata berubah duka. Saat mereka cuci muka, gas beracun masuk ke paru-paru. Kadar racun yang dihisap melebihi ambang batas.
Racun belerang yang di atas ambang batas dapat membuat saluran nafas meradang dan membengkak yang selanjutnya terjadi penyempitan saluran nafas. Saat terjadi peradangan, saluran nafas lebih banyak mengeluarkan cairan dan lendir. Akibatnya, yang bersangkutan bisa sesak napas, pingsan, atau bahkan meninggal seketika. Apalagi bagi mereka yang punya penyakit asma.
Dengan adanya kejadian tersebut, kita jadi ingat bahwa maut bisa datang tiba-tiba. Tidak lihat umur, tidak lihat tempat. Bila memang waktunya tiba, siapapun tidak bisa menolak. Yang penting dilakukan adalah selalu berbuat kebaikan selama masih diberi hidup. Nggak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Ironisnya, justru itulah yang sering terjadi. Menyesal ketika nasi sudah menjadi bubur.
Kalau anda masih menjawab juga bahwa lumayanlah menjadi bubur, masih bisa dimakan, berarti anda cocoknya menjadi penjual bubur. Walah.
