Perbuatan tiru meniru, jiplak menjiplak, mencontek, kemudian plagiarisme, sebenarnya sudah kita latih dan lakukan sejak kita bayi. Sadar atau tidak, orangtua kitalah yang mengajari hal tersebut. Jika anda sekarang menjadi orangtua, anda pasti melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, bila terjadi penjiplakan, mengapa harus diributkan? Itu kan hal yang wajar dan pasti akan terjadi, barangkali bukan oleh kita, tetapi dilakukan orang lain. Kan kita diajari untuk menjadi peniru sejak kecil? Dan tahukah anda, siapa imitator paling jago? Ya anak-anak kecil itulah. Jangan kaget misalnya bila suatu saat tiba-tiba anak anda menjadi Jet Li dengan jurus jijitsunya, atau seorang berandal dengan sumpah serapah dan caci makinya seperti adegan dalam sinetron yang dia tonton tadi malam.
Saya tidak sedang berapologi untuk sebuah penjiplakan. Yang ingin saya sampaikan, jangan langsung meledak seperti tabung gas tiga kiloan bila menemukan sebuah kecurangan semacam itu. Meniru-niru itu kan bentuk ketrampilan awal yang kita kuasai karena memang dengan sengaja diajarkan oleh orangtua kita. Bahkan kadangkala bukan hanya asal melakukan, melainkan orangtua kita sudah merencanakan secara sistematis, terstruktur, dan berdampak sistemik. Halah! Ngomong apa toh saya ini?
Sebelum saya terlanjur disumpahi dan dihujat, saya ingin klarifikasi dulu. Meniru memang diajarkan orangtua kita. Namun yang namanya menjiplak, mencotek, plagiarisme, atau apapun sebutannya, adalah perbuatan yang tidak terpuji. Ada pelanggaran hak dan etika dalam perbuatan itu. Konsekuensi yang diterima bisa berupa denda, hukuman penjara, atau sangsi sosial dan moral.
Kembali ke dunianya para bakul, menjiplak atau meniru, itu biasa dilakukan. Bahkan kadang justru harus dilakukan bila ingin tetap survive. Selanjutnya, dimainkanlah jurus sakti atm – amati, tiru, modifikasi. Untuk modifikasi, teknik itu acapkali dilakukan agar kelihatan beda meskipun… dikiiittt. Kira-kira Alfamart, Indomart, Yomart, Smart, Kumart, Jimart, Alamart, Sukuasmart, Danlainlainmart, siapa yang dijiplak dan yang menjiplak?
Urusan jiplak menjiplak ini kadang-kadang menimbulkan pro kontra, kadangkala justru memikat. Saat video klip band Es Teh 2 Gelas yang meniru ST12 diunggah di Youtube, muncul komentar-komentar cercaan. Kasus lain, The Changcuters asal kota kembang Bandung yang merupakan tiruan dari Beatles, Rolling Stone dan Queen yang pernah saya tulis dengan judul Penggemar Changcut, mendapat pujian dan digila-gilai para ababil alias abg labil.
Singkat cerita, sebenarnya sih tulisan ini saya buat karena saya punya pamrih. Saya hanya ingin memperkenalkan logo baru Wong Kam Fung untuk Fan Page dan Group yang saya buat di Facebook. Seperti yang anda lihat, logo tersebut seratus persen hasil jiplakan dari WordPress. Saya jelas menggunakan jurus atm. Saya pasrah dan terima bila anda menilai saya tidak kreatif. Memang faktanya seperti itu. Pembelaan yang bisa saya lakukan, setidaknya saya tidak menerapkan jurus atp. Apalagi tuh? Amati tiru plek, artinya… menjiplak sama persis tanpa ada perbedaan apapun. Moga-moga saja saya tidak disantet sama WordPress.
Satu pesan saya sebelum benar-benar disantet, tolong kunjungi Fan Page WKF itu melalui tautan ini dan klik kata ’Like’ yang ada gambarnya jempol bila sudah masuk ke Facebook. Ini wasiat lho…
Satu lagi, untuk menjadi anggota Group WKF, klik di sini. Terima kasih.
