Site icon Wong Kam Fung

Anak Sejuta Bintang: Sebuah Novel Pencitraan

Sah-sah saja seorang politisi melakukan pencitraan. Hanya saja, jangan sewot jika ada yang merespon secara negatif. Anak Sejuta Bintang (ASB) adalah salah satu contoh upaya pencitraan (Aburizal Bakrie/Ical) yang berbentuk novel, dan sudah bisa diperkirakan, berbagai cercaan berdatangan untuknya.

Ketika novel ini ramai diperbincangkan di linimasa, yang tadinya tidak mengerti apa-apa jadi tahu perihal ASB. Pro dan kontra tentu saja muncul, dan itu wajar. Yang pro menganggap tidak ada yang salah dengan pembuatan novel tersebut. Siapapun bisa jadi tokoh dalam sebuah novel. Kebetulan (?) saja tokoh dalam novel yang sedang hangat di linimasa ini adalah Ical yang sangat dikenal banyak orang terutama oleh korban lumpur Lapindo dan keluarganya. Ketika ada tuduhan bahwa ASB merupakan biografinya Ical, bantahanpun muncul, bahwa ASB adalah murni sebuah novel, bukan buku biografi apalagi biografi politik.

Di pihak lain, penulisan ASB dilihat seperti acara ‘tribute to’ yang isinya hanya sanjungan dan pujian bagi Ical. ASB juga dicurigai sebagai propaganda pendukung Ical menjelang diselenggarakannya pemilu nanti. Novel yang berkisah masa kecil Ical dari usia TK sampai menjelang SMP ini sudah bukan lagi dianggap murni novel. ASB dinilai sebagai novel pencitraan positif bagi tokohnya. Ini yang tidak menyenangkan karena novel ASB berbau politik. Bagaimanapun juga, sebuah fiksi yang beraroma politik jelas akan menguarkan bau busuk ketika politisinya dianggap busuk. Bukan nilai sastranya yang diperbincangkan tetapi perilaku tidak simpatik dan tidak etis dalam mempolitisir karya sastra.

Berkaitan dengan promosi dan publikasi, selain acara peluncurannya malam ini di aula Museum Nasional Jl Medan Merdeka Barat, kontroversi yang terjadi di linimasa dua hari belakangan ini tentu saja membuat Anak Sejuta Bintang makin dikenal. Namun demikian, keterkenalan itu tidak otomatis menyebabkannya laris dibeli. Justru sebaliknya, kontroversi itu bisa menjadi kontra-produktif bagi ASB yang saat ini baru akan diedarkan di wilayah Jabodetabek-Bandung-Semarang. Mereka yang dibuat sakit hati oleh Ical, misalnya mereka yang terkait dengan kasus lumpur Lapindo, pasti akan menolaknya. Masih beruntung jika sekedar tidak membeli. Repotnya bila mereka melakukan black campaign.

Akmal Nasery Basral sebagai penulisnya mungkin tidak acuh dengan penolakan yang muncul. Dia tentu hanya fokus pada pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Begitu juga dengan Khrisna Pabichara yang menjadi penyunting novel tersebut. Kegigihan dia mempromosikan novel hasil suntingannya dapat dimaklumi karena itu memang bentuk konsekuensi ikutan dari profesi yang dia jalani. Lebih-lebih untuk seorang buzzer media sosial yang sekarang sudah digunakan Mizan sebagai penerbit ASB, sang buzzer ini harus rajin berkoar-koar di Twitter membela yang bayar. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Menulis sebuah buku yang terkait dengan orang cacat di mata publik semacam Ical bukannya tidak beresiko. Saya yakin penulis dan penyunting dari Anak Sejuta Bintang pasti menyadari hal itu. Jika mereka kemudian tetap menerima pekerjaan itu, mereka pasti memiliki alasan. Mereka pasti tahu bahwa salah satu resiko yang akan dihadapi adalah tuduhan melacurkan profesi kepenulisannya demi uang. Itu artinya mereka tidak ada bedanya dengan ghost writer yang lebih peduli pada upah yang diterima. Semoga saja alasan mereka, terutama Khrisna Pabichara sebab dia teman baik saya, bukan semata-mata karena jumlah nominal yang diterima.

Catatan:
Di detiknews.com, reportase peluncurannya dikomentari dengan kecaman dan caci-maki.

Exit mobile version