“Ya Alloh berilah kemudahan dalam usaha saya menghidupkan kembali yang mati. Lancarkan prosesnya. Bukakan jalannya. Kuatkan niat saya. Ya Alloh Sang Penguasa Kehidupan. Bila yang mati ini bangkit kembali, mudah-mudahan menjadi manfaat untuk semua. Ya Alloh Yang Maha Mungkin. Tidak ada yang mustahil bila Engkau berkehendak, begitu juga terhadap ikhtiar saya ini. Atas kehendakMu, berilah saya kekuatan untuk menghidupkan kembali yang telah mati. Amin.” Hlah, doa macam apa ini?

Sodara-sodara, saya bukan seorang bokor yang begitu jahat. Bokor adalah dukun ilmu hitam dalam kepercayaan voodoo yang ada dalam masyarakat Kreol di Afrika sana. Saya tidak sedang mengucapkan mantera untuk menghidupkan manusia yang telah mati. Doa yang saya ucapkan itu bukan untuk menciptakan zombie atau mayat hidup. Saya memang sedang berikhtiar menghidupkan yang telah mati seperti yang dilakukan pendeta voodoo. Bedanya, yang sedang saya coba untuk dihidupkan bukan manusia, tetapi … aaahhh, saya jadi berpikir lagi apakah ini perlu diceritakan kepada anda. Namun, siapa tahu dengan menyampaikan kepada anda, ada pencerahan yang akan saya terima. Setidaknya, dan ini harapan saya, anda akan mendoakan upaya saya ini menjadi lancar dan berhasil sebagaimana yang saya inginkan. Orang bilang, semakin banyak yang mendoakan semakin lebar jalan terbuka mewujudkan keinginan yang tersebut dalam doa yang dipanjatkan.

Ikhtiar saya ini beberapa hari lalu sudah saya mulai. Sahabat yang dipertemukan lewat komunitas blogger telah saya datangi. Dia yang dikenal sebagai MT atau Matahari Timoer baru saja menerbitkan buku keduanya. Siapa tahu, lewat bantuan dan kebaikan hatinya saya bisa mewujudkan keinginan saya menghidupkan yang telah mati. Lewat penerbit yang telah menerbitkan bukunya atau kenalan-kenalan dia, mudah-mudahan naskah buku saya yang mati (suri) selama satu tahun bisa hidup kembali. Naskah buku itu memang saya diamkan begitu saja setelah dikembalikan oleh sebuah penerbit yang berada di Yogyakarta. Alasan mereka tidak mau menerbitkan karena tidak sesuai dengan visi dan misi penerbit itu. Karena kesibukan yang saya buat-buat, jadilah terbengkelai itu naskah.

Betul, saya sedang mencoba menciptakan zombie. Zombie yang berbentuk naskah buku. Sebenarnya ada empat naskah lagi yang siap dizombiekan. Hanya saja yang saya titipkan ke sahabat saya baru satu dan memang baru satu dan satu-satunya yang sudah siap terbit. Rencananya, seperti yang dulu pernah saya rencanakan, naskah ini merupakan pilot project. Bila naskah buku ini berhasil diterbitkan maka empat calon lainnya sudah siap menyusul.

Bila menuruti hasrat, tentu saja saya ingin naskah saya ini diterbitkan oleh penerbit besar dan terkenal. Namun sebagai pemula yang tidak bernama, saya cukup tahu diri untuk tidak terlalu berharap. Prioritas pertama saya sekarang adalah bagaimana naskah itu bisa menjadi sebuah buku yang beredar di pasar. Dengan demikian buku itu akan menjadi sebuah prasasti yang merupakan jejak sejarah hidup saya. Kan keren tuh kalau kita bisa meninggalkan sesuatu bagi peradaban manusia di muka bumi ini. Naskah buku itu saya beri judul Perempuan Telentang. Agak provokatif memang judulnya, tetapi percayalah, tidak ada sesuatu yang vulgar di dalamnya. Bila ada kata-kata yang nyerempet-nyerempet wilayah sensitif, itu hanyalah sebuah permainan kata-kata yang saya yakin tidak akan menyakiti siapapun. Tulisan itu kan isinya kumpulan huruf dari A-Z yang kemudian dirangkai menjadi kata. Jika kata-kata itu tidak kita oprek-oprek, kita main-mainkan menjadi sebuah kalimat yang dibumbui dengan emosi dan perasaan, tentunya tulisan yang dihasilkan akan terasa monoton dan hambar. Oleh karena itulah kalau anda menemukan kata-kata yang menggelitik, itu artinya emosi dan perasaan anda sedang dipermainkan. Berarti pula, si penulis telah berhasil menciptakan ramuan perangsang emosi berbentuk kalimat-kalimat yang sedang dinikmati pembacanya.

Perempuan Telentang merupakan kumpulan sebagian tulisan saya yang berada di kampungantenan.blogspot.com. Anda bisa menikmati tulisan yang juga saya jadikan judul buku saya dalam alamat tersebut. Setelah membacanya, saya yakin anda pasti setuju dengan pernyataan saya di atas, pernyataan bahwa tidak ada sesuatu yang vulgar di dalamnya.

Saat ini yang saya lakukan adalah berdoa sambil menunggu kabar baik dari Kang MT. Semoga proses mezombiekan sebuah naskah menjadi sebuah buku berhasil dengan gilang-gemilang. Dan, apakah anda bisa membantu saya?

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here