doaDua yang ingin saya catat di hari pertama tahun 2014 ini. Berpulangnya, satu lagi, orang baik yang dulu pernah menjadi tetangga menghadap Sang Khalik dan kelakuan seorang perencana keuangan mengomersilkan doa.

Di malam tahun baru, seorang mantan tetangga, Pak Dhani, mengabarkan via WhatsApp: “Pak Adi, Ibu Ali Lukman meninggal dunia malam ini.” Satu lagi, mantan tetangga yang baik telah berpulang. Karena badan letih, saya tak bisa langsung berangkat malam itu. Baru tadi pagi saya meluncur ke rumah almarhumah di perumahan yang menghadap gunung kapur di wilayah Karang Mas, Cibadak, Ciampea yang puncaknya disebut Batu Roti. Di perumahan itulah dulu kami saling bertetangga. Hanya saja, lima tahun yang lalu tepatnya Sabtu, 5 Juli 2008, saya memutuskan boyongan. Beberapa tahun kemudian Pak Dhani menyusul. Pak Ali Lukman beserta keluarga tetap tinggal. Tadi pagi, Pak Ali harus merelakan kepergian istri terkasihnya. Bukan untuk menyusul saya dan Pak Dhani, tetapi menghadap Illahi. Kami yang akan menyusul beliau. Entah kapan dan siapa dulu.

Banyak kenangan kami bangun bersama. Saya, Pak Dhani, dan Pak Ali pernah bersama-sama bergandengan tangan beserta para tetangga lain mewujudkan mimpi memiliki masjid di lingkungan kami tinggal. Setelah masjid impian terwujud, yang diberi nama Al Muhajirin, kami bertiga juga tetangga-tetangga lain selanjutnya meramaikan dan memakmurkannya. Pak Dhani dan Pak Ali bahkan pernah bergantian menjadi Ketua DKM-nya. Tadi pagi, masjid itu menjadi tempat menyalati jenazah istri Pak Ali. Almarhumah kemudian diberangkatkan ke tanah makam diiringi doa-doa yang dipanjatkan keluarga dan para tetangga. Selamat jalan, Bu Ali.

Saat pemakaman Ibu Ali Lukman.

Hari ini, di galur waktu Twitter ternyata sedang ramai terkait dengan doa. Gara-garanya, seorang perencana keuangan mengomersilkan doa. Dengan membayar ‘sedekah’ minimal sebesar Rp 100.000 dia akan mendoakan pemberi sedekah di Mekah. Istilahnya menitipkan doa, yang di galur waktu urusan ini diberi tagar #titipdoa. Maksudnya barangkali baik tetapi yang terjadi adalah kehebohan yang membuat tak nyaman banyak orang. Mungkin karena otak dan mentalnya sebagai perencana keuangan terbiasa berurusan dengan pengelolaan duit, menitipkan doa berbayar terlihat menggiurkan untuk jadi tambang uang. Meskipun akhirnya yang bersangkutan mengaku salah dan meminta maaf, kelakuannya betul-betul memprihatikan. Risakan (bully) yang bertubi-tubi dia terima di galur waktu akhirnya memelekkan matanya. Minta didoakan saat seseorang pergi haji atau umroh memang biasa dilakukan, tetapi tanpa biaya sepeser pun. Ketika kebiasaan ini dimakelari dengan biaya yang diistilahkan ‘sedekah’, bahkan ada minimalnya, orang-orang langsung tercengang. Hebat betul Ahmad Gozali (@ahmadgozali) dan orang-orang yang tergabung dalam @SedekahHarian (SH) mengangkat dirinya sendiri menjadi makelar Tuhan. Memang Tuhan butuh makelar? Pendoa tak perlu dimakelari. Mereka bisa melakukan sendiri. Ada memang tempat-tempat yang diyakini akan menjadikan mustajab sebuah doa. Tetapi yang namanya berdoa tidak harus di tempat itu. Berdoa bisa di mana saja. Bahkan, kala kita tak tahu di mana kita sedang berada, kita bisa memanjatkan doa-doa kita. Sendiri. Tak perlu makelar macam Ahmad Gozali yang merupakan salah satu anggota Dewan Penasehat SH. SH kemudian melakukan klarifikasi serta menghentikan program yang memicu kontroversi tersebut. Langkah sigap ini patut diapresiasi.

Sumber gambar: koleksi pribadi dan di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here