Sudah lama saya tidak ke Jakarta. Semenjak mengundurkan diri dari tempat kerja tahun 2001, sebulan sekalipun belum tentu saya ke sana. Kesempatan ke ibukota lagi datang secara kebetulan. Ketika saya menelepon teman saya yang penulis, dia mengajak pergi ke Jakarta. Karena ada kesempatan dan saya sendiri ingin ikut, saya iyakan ajakannya itu. Perjalanan ke Jakarta ini kemudian sudah muncul di kepala saya akan saya beri nama Wisata Sastra dan yang juga akan menjadi judul tulisan saya nanti (yaitu tulisan yang sedang anda baca sekarang). Dan ini merupakan pengalaman pertama saya terlibat dalam dunianya teman saya itu.

Mengapa saya beri nama Wisata Sastra? Karena memang kepergian saya ke Jakarta adalah untuk menghadiri kegiatan sastra. Teman saya yang penulis dan juga kritikus sastra itu diundang untuk menjadi pembicara dalam Peluncuran dan Diskusi Novel Mutiara Karam karya Tusiran Suseno. Acara tersebut diadakan di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Perjalanan dimulai saat saya keluar dari rumah pukul 10.30 wib dengan motor kesayangan menuju Bojong Gede. Rencana berangkat dari Bojong Gede jam 12.00 karena acara di TIM dimulai pukul 13.00. Dengan naik KRL, diperkirakan dalam satu jam sudah sampai ke tempat tujuan. Ketika di atas motor saya hanya berdoa mudah-mudahan selamat di jalan dan tidak ada masalah dengan motor.

Doa saya terkabul. Saya sampai di Bojong Gede jam 11.15. Teman saya lagi ada di teras membaca koran bersama istri. Bukannya terus siap-siap, dia malah mengajak saya main catur. Kenapa tidak? Memang itu yang saya tunggu-tunggu. Selama ini saya tidak pernah menang dari dia. Saya berharap kali ini saya bisa mengalahkannya. Dan ternyata dari dua kali main, yang kedua berhasil saya menangkan.

Saat memainkan partai kedua, saya ingatkan ke teman saya bahwa dia harus sudah ada di TIM jam 13.00. Dijawabnya, “Kita berangkat setelah ini.” Padahal waktu sudah menunjukkan hampir jam 12.00. Terserah apa mau dia. Saya ngikut saja. Selesai main catur, kami siap-siap berangkat. Sambil menunggu dia mandi saya kemudian sholat lohor dulu.

Akhirnya kami berangkat hampir jam 12.30. Dengan menggunakan motor saya, kami menuju Stasiun Bojong Gede. Tidak lebih dari sepuluh menit sampai di stasiun. Teman saya lari ke loket beli karcis, saya menaruh motor ke tempat penitipan. Nggak lama kemudian dia kembali dengan dua tiket Pakuan Ekspres. Dia meminta saya untuk buru-buru karena sebentar lagi kereta tiba. Saya ikut lari-lari di belakangnya khawatir kereta keburu datang. Begitu sampai di peron tidak lama kemudian kereta muncul. Untung saja kami dapat kereta yang tidak berhenti di setiap stasiun sehingga bisa cepat sampai di Jakarta.

Perjalanan dengan Pakuan Ekspres cukup nyaman. Karena saat itu hari Minggu, kereta yang biasanya penuh di hari kerja sekarang sepi. Di gerbong yang saya tempati hanya terisi beberapa orang. AC kereta masih bisa saya rasakan meskipun udara di luar begitu panas. Ngobrol pun jadi enak dalam gerbong yang lega dan berpendingin sehingga tanpa terasa kereta sudah masuk Jakarta.

Kami kemudian turun di Stasiun Gondangdia. Stasiun ini merupakan tempat yang sering saya datangi untuk naik KRL ke Bogor saat dulu saya masih kerja di Jakarta. Kondisi stasiun masih tetap sama. Tidak ada perubahan yang berarti. Dari stasiun itu kami kemudian naik bajaj menuju TIM. Kendaraan roda tiga yang kelakuan pengemudinya tidak beda jauh dengan tukang becak. Slonong sana slonong sini, nyerobot jalan sesukanya, ngelawan arus, belok seenaknya, adalah hal biasa yang sering dijumpai dari sebuah bajaj. Sampai-sampai andapun akan mengalami kesulitan bila harus menebak sebuah bajaj hendak berbelok ke mana. Pokoknya bajaj itu salah satu raja jalanan di Jakarta.

Dalam waktu beberapa menit bajaj kami akhirnya sampai di TIM meskipun sebelumnya hampir terjadi insiden. Saat meninggalkan Stasiun Gondangdia tadi, bajaj kami nyaris bertabrakan dengan bajaj yang lain. Dengan kecepatan tinggi plus sopir yang meleng, bajaj kami ngepot di tikungan yang ada di kolong rel. Bajaj kami banting ke kiri, begitu juga bajaj lawan. Beruntung dua-duanya tidak salah banting. Bila mereka berdua salah banting ke kanan, sudah pasti kamilah yang akan kebanting. Jika itu yang terjadi, bukan TIM lagi tujuannya, bisa-bisa malah RSCM.

Rupanya panitia memang menunggu kedatangan teman saya. Kegiatan yang dijadwalkan jam 13.00 jadi mundur 13.30. Acara segera dimulai begitu kami datang. Semua yang terlibat sudah hadir, penulis novel, dua pembicara, moderator, dan pembawa acara. Sambil mengikuti acara saya menikmati snak dan minuman yang saya ambil sebelumnya dari meja hidangan. Lumayan buat menggajal perut sebagai pengganti makan siang.

Selama acara, saya sempat keluar untuk melihat-lihat buku di toko buku bekas di dalam lingkungan TIM. Sayang buku yang saya cari tidak ada dan untungnya tidak ada, karena harganya terlalu mahal buat saya. Saya juga menyempatkan untuk sholat asar di Masjid Amir Hamzah walaupun mesti mencari-cari dulu letak masjid itu.

Acara berlangsung sampai sore. Ramai juga diskusi yang berlangsung. Ada tanya jawab yang sebagian saya tidak begitu paham. Mutiara Karam yang merupakan pemenang kedua sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 adalah novel sastra melayu yang ditulis oleh Tusiran Suseno seorang melayu Riau keturunan Jawa. Saya tidak begitu paham sastra melayu, tetapi saya senang bisa menghadiri diskusi tersebut. Saya selalu kagum dengan orang-orang yang pandai menuangkan idenya dalam tulisan. Begitu acara diskusi selesai saya segera menemui sang penulis untuk meminta tanda tangan. Bangga rasanya bila memiliki buku yang di dalamnya ada tanda tangan penulisnya.

Selesai diskusi, kami semua pindah ke dalam ruang teater. Acara dilanjutkan dengan menyaksikan pembacaan beberapa bagian novel yang diselingi dengan lagu-lagu melayu. Benar-benar indah dan menawan, baik nyanyian maupun pembacaan novel. Saya sangat menikmati sekaligus terpukau, terutama saat bagian novel dibacakan. Begitu teatrikal cara membacanya.

Yang lebih membuat hati saya berbunga-bunga adalah setelah acara di TIM itu. Saya makan malam bareng dengan penulis Mutiara Karam yang rupanya kenal baik dengan teman saya. Bersama beberapa sastrawan lain, kami makan di restoran Warung Daun yang lokasi persis di depan TIM. Sambil menunggu dan ketika menyantap hidangan, kami ngobrolin apa saja, termasuk kain (jarik) yang digantung di atas kepala kami sebagai pajangan. Bagi orang melayu, duduk apalagi makan di bawah kain yang digantung adalah tabu. Orang Bogor (Sunda) bilang pamali. Bagi mereka, ada di bawah kain seperti ada di bawah selangkangan perempuan. Bisa anda bayangkan bagaimana rasanya makan di bawah selangkangan, pasti horor.

Kami kemudian memanggil salah satu pelayan restoran. Teman saya bilang kepada pelayan itu supaya disampaikan kepada yang berkuasa di restoran tentang makna kain yang digantung di atas kepala bagi orang melayu. Rupanya pemilik restoran tidak paham dengan kultur melayu berkaitan dengan kain yang suka dipakai emak-emak kampung ke pasar atau none-none kota merayakan kartinian. Mudah-mudahan pesan itu betul-betul akan disampaikan kepada penguasa atau pemilik restoran sehingga kalaupun kain itu masih tetap dijadikan dekorasi, tidak digantung di atas meja tempat para pengunjung menikmati hidangan. Saya sendiri juga baru tahu makna kain yang digantung di atas kepala dalam budaya melayu malam itu.

Selesai makan malam, Saya dan teman saya kemudian menuju Hotel Alia yang letaknya berdekatan dengan Warung Daun, juga di seberang TIM. Di hotel itu sedang ada acara yang teman saya adalah salah satu jurinya. Di acara yang bertajuk Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2008 itu, saya ketemu banyak selebriti. Bukan selebriti dalam dunia hiburan seperti penyanyi atau pemain film, tetapi mereka adalah para penulis top. Mereka itulah sebenar-benarnya selebriti bagi saya. Merupakan pengalaman yang tidak terlupakan bisa ketemu dengan Hamsad Rangkuti, Pamusuk Eneste, dan K. Usman. Mereka diperkenalkan sebagai juri-juri bidang fiksi dalam sayembara tahunan yang diadakan oleh Departemen P & K. Sebagai ketua dewan juri bidang fiksi yang totalnya berjumlah 27 orang yang malam itu tidak semuanya hadir adalah Ahmadun Yosi Herfanda yang juga berada di antara para juri.

Bila tidak karena mengejar kereta kami masih ingin lama-lama di acara itu. Keinginan saya untuk bisa foto bersama Hamsad Rangkuti hanya cukup digantikan dengan mengambil foto dia saat duduk bersama-sama juri yang lain. Kami meninggalkan hotel jam 20.20 untuk naik kopaja (bis kecil) menuju Stasiun Cikini. KRL terakhir menuju Bogor adalah jam 20.30. Kami beruntung tidak ketinggalan saat tiba di stasiun. Begitu sampai di peron, tidak lama kemudian kereta datang.

Singkat cerita, kami sampai di Stasiun Bojong Gede pukul 21.30. Motor yang tadi siang saya titipkan dekat stasiun masih ada tetapi sudah tidak pada tempatnya. Motor saya berpindah di sebelah tiang besi dari rel bekas dan dirantai. Begitu melihat kami datang, tukang parkir ngomel-ngomel. Dia merasa telah memberi tahu kami saat siang tadi bahwa waktu parkir hanya sampai jam 20.00. Dia bilang jika bukan karena kasihan, dia tidak akan menunggu kami. Motor akan ditinggalkan terantai di tiang begitu saja. Setahu saya, dia tidak pernah bilang bila parkir hanya sampai jam delapan malam. Meneketehe! Namun kami tidak mau ribut-ribut. Uang parkir Rp5000 yang diminta segera dikasih meskipun biasanya hanya Rp2000 atau Rp3000.

Seperti itulah bila kerja hanya berorientasi pada uang. Tidak ada keikhlasan dalam melayani. Motornya memang bagus dan kelihatan baru dan juga mungkin uangnya banyak, namun bisa jadi dia tidak pernah ke mana-mana. Hidupnya hanya di situ-situ saja. Hidup yang indah ini tidak begitu bisa dinikmati. Sayang sekali.

Saat tiba kembali di rumah teman saya, malam mulai larut. Dari stasiun tadi sempat mampir dulu untuk beli oleh-oleh sehingga sampai rumah hampir jam 22.30. Meskipun demikian, kami sempatkan main catur walau hanya satu set. Saya kembali menang, dan kemenangan yang saya peroleh benar-benar indah. Lawan main saya juga mengakui hal itu. Selesai main, saya siap-siap pulang.

Jam 23.30 saya baru pulang dari Bojong Gede. Jalan yang sepi dan gelapnya malam saya nikmati seutuhnya. Sang Pencipta mendukung saya menikmati perjalanan malam itu dengan tidak diturunkan hujan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here