warung kopi bernama milis

Yang namanya milis (mailing list) seharusnya diperlakukan seperti gedung DPR. Gedung terhormat yang berisi orang-orang ’katanya’ terhormat. Saat berbicara di dalamnya, tetap menjaga kesopanan dan sadar etika. Kenyataannya, apakah demikian?

Sayangnya yang ada di dalam sebuah milis tidak selalu seperti itu. Layaknya telur sepeti, selalu ada yang retak. Dalam sebuah milis, selalu ada orang yang entah tidak mengerti atau memang sengaja tidak peduli dengan yang namanya tata krama dalam menyampaikan sesuatu. Barangkali anda pernah bertemu dengan anggota seperti ini dalam milis yang anda ikuti. Alangkah menyebalkan. Ingin rasanya terjun ke dalamnya dan menyumpahi habis-habisan orang yang tidak tahu diri itu. Untungnya hal tersebut belum pernah saya lakukan. Entah nanti kalau bertemu lagi dan saya dalam keadaan mabuk (meskipun tidak pernah menenggak miras), mungkin bisa kejadian juga. Mudah-mudahan saja tidak.

Bila milis saya tamsilkan gedung DPR, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa milis itu memiliki ruangan-ruangan yang disebut dengan thread seperti gedung DPR yang mempunyai ruangan-ruangan untuk mengkaji bidang-bidang tertentu. Anggota DPR menggunakan ruangan itu untuk membahas suatu kajian yang tentunya tidak akan keluar dari pokok bahasannya. Thread dalam milis juga seperti itu. Thread dibuat untuk menyampaikan hal-hal yang spesifik. Sayangnya, selalu ada saja anggota milis yang berpartisipasi dengan berbicara di luar konteks atau istilahnya OOT (out of topic).

OOT dalam milis barangkali masih bisa dimaklumi. Anggota DPR yang sedang rapat serius kadang-kadang juga melontarkan intermezo, sebagaimana yang saya tonton di stasiun televisi. Yang menjengkelkan adalah ketika ada anggota milis yang bicaranya sudah OOT alias ngelantur ke mana-mana, eh lha kok juga memicu munculnya konflik SARA. Bukannya tidak boleh membahas SARA tetapi jika kemudian menyebabkan ketidaknyamanan bagi anggota yang lain, jelas orang-orang yang terlibat tersebut bisa dibilang tidak tahu etika dan tidak tahu diri. Seharusnya bila memang itu unsur yang sensitif, alangkah baiknya tidak dibawa ke dalam milis. Ah, pantat memang sama bulatnya, tetapi celananya beda-beda. Rambut boleh sama hitamnya tetapi isi kepalanya bisa beraneka. Apa yang saya anggap tidak layak disampaikan dalam milis, ternyata bagi mereka lumrah-lumrah saja. Jika itu yang terjadi, bisa-bisa saya yang dikatakan OOT.

Jika dulu saya pernah menulis Seni Mengomentari Tulisan, barangkali diperlukan juga seni berpartisipasi dalam milis sebelum ikut melibatkan diri. Sebaiknya kita pintar-pintar menuliskan apa yang ingin kita sampaikan dalam milis. Jangan sampai kita memberi kesan menggurui anggota lain. Saya yakin semua anggota milis pasti jago di bidangnya masing-masing atau memiliki kelebihan tertentu dibandingkan yang lain, berat badan misalnya (ah, maaf, bercanda). Dengan demikian, bersikap hati-hati dan merendah adalah lebih baik daripada pamer sesuatu yang mungkin saja ternyata ada anggota lain yang lebih hebat. Tentu sangat memalukan dan konyol bila kita ternyata sedang mengajari ikan berenang. Mau dibawa ke mana muka ini?

Kembali ke ruangan-ruangan di gedung DPR, anda tentu tidak setuju jika ruangan itu dijadikan sebagai warung kopi, artinya tempat itu hanya digunakan untuk ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada juntrungannya? Jelas itu melanggar aturan. Thread di milis juga memiliki aturan. Jika anda menggunakannya untuk debat kusir yang bahkan sampai membuat tidak nyaman orang lain, maka anda sedang memperlakukannya layaknya warung kopi. Bila anda bisanya hanya debat kusir, sebaiknya langsung saja ke warung kopi beneran, jangan masuk milis.

Milis dan warung kopi tentu saja beda. Namun, bila sewaktu-waktu anda menemukan debat kusir dalam sebuah milis, berarti anda sedang berada dalam milis bercitarasa warung kopi. Kalau begitu, selamat datang di warung kopi bernama milis.

Sumber gambar: di sini

25 COMMENTS

  1. Berkunjung ni ke warung kopi, mau nyari cemilan……
    wah….kalau saya liat-liat di TV, sekarang ini banyak sekali anggota DPR yang kaya mau tarung tinju……he..he…saling mengumbar nafsu….kacauuuu…

  2. @dobleh yang malang: salam kembali
    @nonadita: ya, pelajaran jg bisa datang dari yg tidak benar
    @achoey: hayuk
    @Asepsaiba: netiket dlm milis harusnya dipersepsikan sama oleh yg paham netiket tsb, kecuali memang tidak tahu.
    mksh ucapan selamatnya kang Asep 😉

  3. Netiket di milis pun bisa membuat kita belajar untuk menjadi bijak kan ya? Bijak dalam mengomentari sesuatu dan juga bijak dalam menegur kawan yang salah (termasuk OOT yang kronis)..

    Salam kang,

    Selamat ya, sudah menang di Sumpah Pemuda 2.0

  4. Aura milis yang satu berbeda sm milis yg lain, tergantung pd karakteristik orang2nya. Bisa tergabung dalam milis yg dinamis, enlightening dgn orang2nya yg heterogen itu barokah, pak. Kita jd bs belajar banyak 🙂

  5. menganalogikan milis dengan rapat DPR sangat bagus, ga terpikirkan oleh sayah sebelumnya. Sudah lama sayah tak berkomunikasi di milis, sepertinya diskusi di milis sekarang mulai berkurang ya

  6. memang, untuk orang-orang yang berbicara di luar dari konteks (out of topic) perlu diingatkan. namun kadangkala jika orang-orang seperti itu diingatkan dengan bahasa verbal langsung. bisa jadi, mereka melakukan pembelaan diri, dan berkata “serius amat sih, boleh dong santai dikit” nah itu dia, kata-kata pembelaan diri yang jadi senjata pamungkas bagi mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here