image

Seperti yang sudah saya awali dua tahun lalu saat mudik, saya akan tuliskan tempat dan sarana main masa saya kecil di dalam dan seputar Masjid Agung Demak. Kali ini tentang sebuah pintu yang dikenal dengan nama Pintu Petir. Kami menyebutnya Lawang Bledhek.

Keberadaan pintu tersebut berada di tengah bangunan utama menuju ruang utama untuk salat. Pintu Petir yang menghadap serambi itu terdiri dua bagian sama bentuk dan ukuran. Masing-masing bagian memilikiΒ  ukiran kepala naga yang mulutnya menganga menghadap sekuntum bunga seolah-olah hendak mencaploknya. Arah kepala naga yang ada di bagian satu dengan satunya berlawanan sehingga ketika dua daun pintu itu dipasang, sang naga akan saling berhadapan.

image
Pintu Petir (Lawang Bledhek)

Dulu saya begitu terkagum-kagum dengan pintu itu. Setiap berdiri di depannya dan menatap ukir-ukirannya, dalam benak saya langsung terbentang layar bioskop lebar dengan adegan seru perihal kisah si penangkap petir, Ki Ageng Sela.

Terkabarkan sebuah kisah seorang sakti dari dusun di tepi Sungai Lusi di wilayah Grobogan. Dusun itu bernama Sela. Oleh karenanya, si sakti kemudian dipanggil Ki Ageng Sela. Dia bukan orang sembarangan. Kesaktiannya sudah terdengar di antero Grobogan. Tak sembarang orang berani menentangnya kecuali mencari celaka.

makam ki ageng sela
makam Ki Ageng Sela

Ki Ageng Sela adalah anak pertama dan lelaki satu-satunya dari tujuh bersaudara. Dia anak dari Ki Ageng Getaspendawa. Enam adiknya yaitu Nyai Gede Pakis, Nyai Gede Purwapada, Nyai Gede Karang, Nyai Gede Bangsri, Nyai Gede Bakung, dan Nyai Gede Ngalibaya. Kakeknya adalah Ki Ageng Tarub II atau Raden Lembupeteng yang menikah dengan Rara Nawangsih atau Dewi Nawangsih anak dari Ki Ageng Tarub. Bila ditelusuri silsilah Ki Ageng Sela, dia adalah keturunan dari Prabu Brawijaya V penguasa Kerajaan Majapahit.

Syahdan Ki Ageng Sela merantau ke Kerajaan Demak Bintoro. Dia mengabdi pada raja dan mendapat tugas menggarap tanah milik kerajaan. Seluruh lahan garapan berada di bawah pengawasannya.

Mendung hitam bergelayut di atasnya ketika Ki Ageng Sela sedang mengolah tanah garapan yang menjadi tanggung jawabnya. Dia asyik mencangkul di sawah ketika petir menyambar ke arahnya. Dengan tenang dan tanpa rasa takut, ditangkapnya petir itu.

Kabar tertangkapnya petir menyebar dengan cepat. Berduyun-duyun orang datang ke tempat Ki Ageng Sela untuk menyaksikan wujudnya. Petir yang dikurung menjadi tontonan. Dia tak berdaya dalam kurungan yang begitu kokoh. Di antara para penonton terdapat seorang perempuan renta tanpa daya. Dia membawa air dalam kendi yang digendong menggunakan kain basahan. Perempuan itu mendekati kurungan. Dia ulurkan kendi berisi air untuk memberi minum petir. Tiba-tiba terjadi ledakan. Petir yang ada dalam kurungan menghilang. Begitu juga perempuan renta. Konon katanya, perempuan itu adalah pasangan dari petir yang ditangkap Ki Ageng Sela. Dia menyaru seperti itu agar tidak dikenali saat membebaskan pasangannya.

Seperti itulah legenda yang begitu memukau di balik Pintu Petir yang saya dengar. Sejak saya kecil hingga sekarang, pintu itu tetap berdiri kokoh di tempatnya. Tidak ada yang berubah. Menginjak remaja dan mulai memahami sejarah, baru saya tahu bahwa Pintu Petir itu ternyata hanyalah pintu tiruan. Pintu yang asli disimpan di museum Masjid Agung Demak dan masih bisa dilihat.

museum masjid agung demak
Museum Masjid Agung Demak

Namanya juga legenda, kisah Pintu Petir yang beredar tentu saja sudah bercampur bumbu dan penyedap. Namun yang jelas, peninggalan yang terkait dengan legenda tersebut masih bisa ditemukan sampai sekarang. Ada sebuah tempat di Demak bernama Sawah Mendung yang konon adalah tempat Ki Ageng Sela menangkap petir. Di Desa Tarub, Kabupaten Grobogan, terdapat makam Lembupeteng atau Ki Ageng Tarub II, kakek dari Ki Ageng Sela. Masih di kabupaten sama, Desa Sela, makam Ki Ageng Sela bisa ditemukan di desa itu.

Jika Anda ada kesempatan ke Masjid Agung Demak, sempatkanlah berkeliling. Banyak bertebaran benda-benda bersejarah di tempat tersebut selain masjid itu sendiri. Dan, jangan lewatkan Pintu Petir.

Sumber gambar: koleksi pribadi

6 COMMENTS

  1. @MT: selamat ngiler. ;p
    @khrisna: ke sanalah. πŸ˜‰
    @totok: selamat menunggu dan sabarlah. :mrgreen:
    @erick: tinggal masalah waktu, kok. Suatu saat pasti sampai. Semoga. πŸ˜‰
    @omagus: datanglah, pasti tak menyesal. πŸ˜€

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here