menara masjid agung demakSelalu menyenangkan ketika kembali ke kampung halaman. Kisah masa lalu kembali hadir dalam kehidupan saat ini. Di hari kedua lebaran nan fitri, saya akan mulai bagikan kisah menarik masa kecil. Saya yakin anda pasti memiliki juga.

Sebagai seorang anak, apapun yang ada di dekat tempat tinggal bisa menjadi obyek permainan yang sangat menarik. Sesederhana apapun bentuknya, selalu bisa memikat dan merangsang keingintahuan. Anda tentu tahu, curiosity (keingintahuan) adalah salah satu bagian yang dimiliki semua anak di dunia ini. Meskipun kadang-kadang keingintahuan itu bisa mendatangkan bahaya, mana anak-anak peduli dengan hal itu?

Masjid Agung Demak adalah salah satu obyek wisata yang ada di dekat rumah. Tempat itu menjadi arena bermain anak-anak dari kampung di sekeliling masjid. Bagi pelancong asal luar daerah, masjid tersebut sangat menarik karena merupakan salah satu peninggalan Wali Songo (Wali Sembilan). Bagi kami, masjid itu memikat karena banyak hal yang bisa dieksplorasi. Masjid itu bukan obyek wisata tapi hanya sekedar arena bermain kami.

menara masjid agung demakJika anda pernah mengunjungi Masjid Agung Demak, di depannya akan anda temukan sebuah menara. Sejak saya kecil menara itu sudah tidak boleh dinaiki. Namun karena dilarang itulah malah kami jadi penasaran. Dengan mencuri-curi akhirnya kami sampai di atas. Saya bukannya senang berada di atas menara. Yang saya temukan di atas memang mengagumkan, sebuah lonceng besar yang bila berbunyi akan terdengar sampai jauh. Selain itu, dari ketinggian itu saya bisa memandang kota Demak yang membentang begitu menawan. Kesenangan-kesenangan itu sayangnya tidak bisa menghilangkan kengerian karena berada di ketinggian. Sambil mengagumi lonceng besi yang besar dan pemandangan kota, saya berpegang erat-erat pada tiang besi yang ada dalam jangkauan tangan saya. Saya hanya berharap mudah-mudahan lonceng tidak berdentang ketika saya masih berada di tempat itu.

Setelah merasa menjadi pemenang karena bisa sampai di puncak menara, melihat dan memegang lonceng menara yang tidak akan terlihat dari bawah, serta melihat pemandangan kota, kami selanjutnya turun. Sampai di bawah, seorang petugas masjid berbadan besar sudah menunggu. Satu persatu kami diperbolehkan pergi dengan bonus satu sentilan di telinga. Apalah artinya sebuah sentilan dan bahayanya jatuh dari atas menara? Saya tidak ingat dengan berapa teman saat itu berpetualang menaklukkan menara masjid. Yang masih teringat sampai sekarang, kami berhasil sampai di atas meskipun deg-degan dan gamang setiap kali melihat ke bawah.

menara masjid agung demakSaat saya kecil menara itu merupakan penunjuk waktu bagi masyarakat Demak. Jarum jamnya yang besar bisa terlihat dari jarak ratusan meter dan dentang loncengnya terdengar sampai jauh. Sekarang jam itu sudah tidak berfungsi lagi namun menaranya masih berdiri megah. Pagar anyaman besi yang melingkari menara itu masih sama dengan pagar yang 36 tahun lalu saya dan teman-teman panjat.

Untuk sementara, kisah itu dulu yang bisa saya bagikan buat anda. Biar tidak terlalu panjang, saya akhiri saja sampai di sini. Masih banyak bagian di masjid bersejarah itu yang bisa saya tuliskan untuk anda. Tidak sekarang tentunya.

Selamat berlebaran.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here