alun-alun demakSemua kota dan desa pasti punya ruang publik. Sebuah tempat di mana orang-orang beraktivitas bersama kelompoknya atau sendiri. Di depan Masjid Agung Demak ada sebuah lapangan yang menjadi ruang publik warga Demak. Itulah alun-alun Demak.

Alun-alun ini kadang-kadang disebut simpang lima. Sebutan itu sebenarnya kurang tepat karena persimpangan jalan yang ada bukan lima tetapi enam. Meski salah, istilah itu sudah lama beredar dan digunakan masyarakat. Saya sendiri menyebutnya alun-alun. Sebutan yang saya gunakan sejak kecil. Lapangan dengan luas empat kali lapangan bola ini merupakan arena bermain saya di masa kanak-kanak dan remaja. Kenangan heboh jaman saya kecil terhampar di semua sudut lapangan itu. Alun-alun adalah bagian bersejarah perjalanan kehidupan saya, suka duka, tawa canda, kenakalan masa kecil, dan hal-hal yang mungkin tak terbayangkan oleh Anda. Di tempat itu, banyak hal terjadi yang tak akan mungkin terhapus dari memori.

Dulu alun-alun dikelilingi pohon cemara. Pohon itu menjadi istimewa bukan karena bentuk atau warnanya yang lain dari biasanya. Wujud dan penampilannya sama seperti pohon cemara pada umumnya sebagaimana yang kita lihat sekarang. Di balik rerimbun dedaunan di celah ranting yang menjuntai dari dahan-dahan kokoh pohon cemara itulah kisah petualang tergelar. Bagi kami yang masih kanak-kanak, sarang burung manyar yang menggantung di ranting atau sarang pipit yang tersembunyi terjepit ranting adalah tambang emas putih yang sangat bernilai. Saya bersama teman-teman usai sekolah dan setelah makan siang di hari tertentu biasanya menyusuri barisan cemara yang mengelilingi alun-alun itu. Di setiap pohon cemara, dari bawah kami mengamati semua dahan dan ranting secara cermat. Mata kami jelalatan mencari sarang burung baru yang barangkali sudah dibangun pemiliknya satu atau dua hari yang lalu ketika kami sedang libur berburu. Bila terlihat ada sarang burung, salah satu dari kami kemudian memanjat untuk mengecek apakah di dalam sarang tersebut ada telur atau tidak. Itulah emas putih yang begitu berharga bagi kami. Sementara ada yang memanjat, yang lain menunggu di bawah untuk menangkap sarang burung yang akan dijatuhkan. Tentu saja saat itu kami tidak berpikir tentang kelestarian pemilik sarang yang kami jarah itu. Yang terpikir adalah bagaimana kami bisa mengumpulkan emas putih sebanyak-banyaknya yang kemudian hasilnya dibagi rata. Telur-telur jatah itu kemudian kami sruput dengan mata merem-melek karena nikmat padahal sebenarnya agak anyir juga. ;D

Alun-alun Demak tersebut dibagi menjadi dua meskipun tidak sama persis. Bagian yang ada di depan Masjid Agung Demak dijadikan lapangan sepakbola untuk warga Demak. Dalam periode tertentu, lapangan itu digunakan untuk turnamen sepakbola antar kampung atau daerah. Bila sedang berlangsung kompetisi, berduyun-duyunlah para pecinta bola menyaksikan pertandingan. Saya beserta teman se’gang’ tak mau ketinggalan. Kami juga ikut meramaikan dengan menjadi penonton yang mengelilingi lapangan berbaur dengan penonton lain. Kemeriahan itu begitu menyenangkan. Duduk di bagian manapun di sepanjang pinggir lapangan tidak menjadi masalah. Namun di dekat sudut lapanganlah yang menjadi tempat favorit saya. Saat itu saya berpikir dari tempat itulah bola yang masuk ke gawang dapat terlihat dengan jelas. Itulah alasan mengapa saya lebih sering berada di tempat itu.

alun-alun demak
Alun-alun Demak

Ketika rumput di lapangan sepakbola mulai meninggi, petugas kebersihan akan memangkasnya. Kadang-kadang potongan-potongan rumput tersebut tidak langsung dibuang tetapi ditumpuk menggunung di beberapa tempat. Malamnya, tumpukan rumput yang mulai mengering itu biasanya kami jadikan sarana bermain. Ada-ada saja kreasi yang dibuat dari potongan rumput itu. Awalnya kami membentuk benteng persegi empat berdinding rendah dari tumpukan rumput sebagai tempat berlindung saat bermain perang-perangan. Jika bosan, dinding-dinding benteng itu dibongkar dijadikan ‘springbed’. Kami kemudian duduk melingkar di atasnya atau adakalanya tiduran saat ngobrol sembari memandangi gemerlap bintang yang menghampar di permadani hitam di atas kami.

Tiduran di atas tumpukan potongan rumput membuat kulit kami gatal-gatal. Meskipun demikian, kami tak peduli. Gatal itu seolah tidak terasa atau jika pun gatal itu datang, kami mengabaikannya. Untuk mengatasi gatal-gatal itu, sarung yang kami bawa biasanya dihamparkan dijadikan sprei. Jika sudah demikian, nikmat benar rasanya ‘ngerumpi’ sambil tiduran di atas ‘springbed’ rumput, dibelai angin malam yang sejuk. Tak heran jika kemudian membuat mata jadi berat, lebih-lebih untuk seorang teman kami bernama Rochim yang terkenal tukang tidur. Meskipun kadang kami isengi saat bermain rumput, tak ada kapok-kapoknya si Rochim ini.

Pernah suatu ketika, setelah kami ngobrol dan tiduran di atas kasur rumput, Rochim terlihat sudah tertidur. Secara perlahan, tubuhnya kami tutupi potongan-potongan rumput. Hanya mukanya saja yang masih terlihat. Kami kemudian meninggalkannya tidur sendirian di tengah alun-alun berselimutkan rumput setengah kering di sekujur tubuhnya. Besoknya dia marah-marah kepada kami semua tetapi hanya sebentar. Setelah itu, peristiwa semalam sudah terlupakan.

Selain pohon-pohon cemara yang mengitarinya, alun-alun juga dikelilingi trotoar untuk orang jalan atau lari pagi. Di malam hari, selain bermain rumput jika paginya alun-alun dipangkas, kami juga memanfaatkan trotoar tersebut sebagai jalur lintasan ‘Formula 1’. Mobil balap kami itu terbuat dari selembar papan yang bagian bawahnya ditempeli dua kayu kasau dengan posisi melintang. Kasau yang ditempel di bagian belakang dipaku mati sedang yang ditempel di bagian depan hanya dipaku di bagian tengah sehingga bisa digerakkan ke kiri dan kanan. Kasau melintang yang bisa digerakkan dan dilengkapi tali buat pegangan inilah yang menjadi kemudi Formula 1 kami. Agar kendaraan tersebut bisa meluncur, di setiap ujung kasau dipasang laker (as atau poros) sepeda atau becak sebagai rodanya. Karena rodanya berasal dari laker itulah kemudian kami menamai mobil balap tersebut ‘Laker’. Dan apabila kami mengatakan ‘lakeran’, itu artinya bermain balap mobil menggunakan Laker.

Dulu saya pernah membuat sebuah Laker yang lumayan panjang. Kapasitas penumpang yang bisa diangkut empat orang. Setelah mengaji di surau, kami biasanya membawa mobil balap tersebut ke alun-alun. Empat orang naik terlebih dahulu, sisanya mendorong. Rutenya sepanjang seperempat lingkaran alun-alun. Setelah itu bergantian. Bila isengnya muncul, kami mendorong sekencang-kencangnya sampai Laker tak bisa dikendalikan. Yang celaka kadang-kadang bukan hanya yang sedang ada di atas papan tetapi yang mendorong juga. Jika ada lutut atau mata kaki lecet karena terseret di atas trotoar, atau sarung yang sobek akibat tersangkut paku atau terlibat roda, hal itu dianggap biasa. Bagi kami, lecet atau sarung sobek justru merupakan sebuah kebanggan dan pertanda bahwa kami bukan pembalap Laker biasa.

angkringan pedagang makanan di seputar alun-alun demak
pedagang makanan di seputar alun-alun Demak hanya berjualan di malam hari

Saat ini, alun-alun itu memang masih dilingkari trotoar tetapi sudah bukan trotoar yang sama. Jika malam, di atas trotoar sudah tidak ada lagi anak-anak bermain lakeran karena sudah dijadikan tempat lesehan mereka yang jajan dari pedagang angkringan. Banyak angkringan penjual makanan yang bertebaran di seputar alun-alun. Dulu, satu pun tidak ada. Akan muncul pedagang makanan di alun-alun jika sedang ada bioskop layar tancap atau saat hari raya kurban. Pohon cemara tempat kami berburu sudah hilang semua. Lapangan sepakbola juga sudah tidak ada. Turnamen sepakbola antar daerah sudah tidak lagi dimainkan di lapangan itu.

Alun-alun di depan Masjid Agung Demak memang masih ada tetapi bukan alun-alun yang dulu. Lapangan itu sudah berubah wajah dan menjadi asing bagi kami. Meskipun demikian, alun-alun tersebut tetap menyimpan kenangan masa kecil saya dan para sahabat. Alun-alun Demak, oh.

Sumber gambar: koleksi pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here