Tong Loba Bacot

tong loba bacotMaaf, mohon maaf jika judulnya begitu kasar. Judul tersebut bukan asli karangan saya. Itu saya ambil dari kaca belakang sebuah angkot di kota Bogor. Tong loba bacot yang bisa diartikan ‘jangan banyak omong’ bagaimanapun juga memiliki makna positif.

Pernah dengar perkataan mulutmu harimau kamu kan? Seperti itulah kira-kira yang bakal terjadi suatu saat dengan orang yang banyak omong. Dengan kesukaannya berbicara yang tidak perlu dan tidak penting, orang-orang seperti ini suatu saat pasti akan menghadapi akibat dari omongannya. Ketika orang gemar bergunjing, tidak heran jika kemudian jadi bertikai dengan orang yang digunjingkan. Apalagi bila yang dikatakan merupakan sebuah fitnah, hasilnya bisa jadi ramai.

Bagaimana dengan mereka yang profesinya menuntut banyak omong semacam pengacara? Karena tuntutan profesi, tentu saja tong loba bacot tidak berlaku. Jadi janggal bila seorang pengacara bicaranya terbata-bata dan tidak banyak omong saat membela kliennya. Sayangnya, saya sendiri tidak begitu simpati dengan profesi pengacara. Mohon maaf jika anda seorang pengacara. Jujur saja, dengan banyaknya kasus yang ‘di mata saya sebagai orang awam’ terlihat jelas-jelas salah, tetap saja dibela. Misalnya, jelas dia mengakui sebagai koruptor, tetapi oleh seorang pengacara tetap dilindungi atas nama hukum. Banyak hal yang dijadikan dasar tindakan pengacara terhadap kliennya: asas praduga tak bersalah, setiap warga negara berhak mendapat keadilan, dan entah apa lagi. Barangkali hasilnya akan berbeda jika nurani yang dijadikan dasar pembelaan, bukan besarnya jumlah uang yang menjadi upahnya. Masih adakah pengacara yang berhati nurani? Entahlah. Dan sayangnya, beberapa teman yang pernah berurusan dengan pengacara, semua ceritanya negatif.

Lain pengacara lain guru. Profesi yang satu ini juga menuntut pelakunya harus banyak bicara. Sekali lagi, tong loba bacot juga tidak berlaku bagi guru. Sayangnya ada guru yang meskipun banyak omong saat mengajar tetapi tidak sampai ke muridnya. Meskipun sudah berbusa-busa mulutnya, tetap saja si murid tidak mengerti. Bisa jadi memang muridnya yang bodoh, juga tidak tertutup kemungkinan memang gurunya yang tidak pintar bicara. Sang guru memang cerdas, tetapi dia tidak pandai dalam menyampaikan.

Tong loba bacot tentu saja dimaksudkan untuk tidak banyak ngomong yang tidak manfaat. Dengan semakin banyak bicara maka akan semakin besar kemungkinan terjadi salah paham. Seperti tulisan di bawah ini, apa yang akan terjadi pada anda setelah membacanya?

Orang Malang di Bogor,
lahir di Palu,
gedenya di Balikpapan,
kuliahnya di Pakuan,
setelah mati di Blender.

Jika anda tertawa atau minimal tersenyum simpul, artinya tulisan di atas tidak anda salah pahami. Bila anda bingung, jelas anda tidak mengerti maksud tulisan tersebut. Dan bisa jadi anda bukan orang Bogor atau pernah tinggal di Kota Hujan itu.

 

*Catatan: Pakuan (Universitas Pakuan di Bogor), Blender (nama salah satu tempat pemakaman di Bogor)

 

Sumber gambar: di sini

21 thoughts on “Tong Loba Bacot

  1. Omanta

    Kalo oman???? Banyak banget ucapan yang konyol tapi bukan karena banyak bicara tadi, tapi karena hmmm kadang so tau, atau pengen diperhatiin (Hehe manusiawi ya Pak). Lama nggak buka Tulisan2 bapak, tetep keren dan Ruarrr biasa.

    Reply
  2. wongkamfung Post author

    @sjafri mangkuprawira: intinya, ada saat kapan kita ngomong dan kita harus diam ;-) (maaf pak prof, komennya masuk keranjang spam)

    Reply
  3. wongkamfung

    @Bung Iwan: makasih ‘bacot’nya mas ;-)
    @zico: pagi, selamat menikmati
    @komuter: betul perkiraannya
    @gusti: hiya, gak perlu panjang lebar, asal ukurannya pas saja dan nyaman dipakai, tidak kepanjangan dan tidak kelebaran 8)
    @novi: bahasa tubuh yg gimana? kalo jalan kedua kakinya agak ditekuk dan tangan kanan menggaruk-garuk, saya tahu maksudnya ;-)
    @masjustice: silakan
    @Miftahgeek: beberapa selebriti dan keluarganya dimakamkan di situ
    @sucie: disampaikan salamnya. 5 Maret nanti kita ketemuan ya
    @chandra iman: ibarat kata, tong kosong berbunyi nyaring ;-)

    Reply
  4. sucie

    saya suka sekali tulisan ini…. jadi mengingatkan saya untuk banyak2 introspeksi.. apalagi sbg pengajar nih… hehehe
    apa kabar pak? mohon maaf sy tdak bisa hadir di acara spesialnya tempo hari itu… waktu itu kebetulan sy hrs berobat. pgn silaturahmi lagi… kpn ya… salam buat bu tami.. ;)

    Reply
  5. gusti

    wah bener pak,,, berarti kalau sidang sama bapak enak nih, bisa menghemat energi,,, dngan dalih postingan ini saja.. hehehhe, jdi gak usah pnjang lebar,, iya kan pak?

    Reply
  6. zico

    selamat pagi, semangat pagi pak…….

    yippii… udah lama gak berkunjung ke blog pak Adi nih… :) postingan kali ini sempat membuat kaget saat melihat judul’a. tapi..pas baca ternyata banyak pesan di balik postingan ini.. :)

    saya suka sekali quote”kemungkinan memang gurunya yang tidak pintar bicara. Sang guru memang cerdas, tetapi dia tidak pandai dalam menyampaikan” yup, kadang ada juga guru selalu menitik beratkan pada hasil bukan pada ‘proses’… tapi semoga saja fenomena ini hanya sedikit terjadi..

    anyway, it’s a nice posting :) i like it…

    Reply
  7. sjafri mangkuprawira

    .kebalikan banyak ngomong adalah banyak diam…namun apakah diam adalah emas bermakna efektif?….ngomong adalah kegiatan komunikasi…efektivitasnya sangat dipengaruhi antara lain…kemampuan intrinsik sang pengirim dan penerima pesan; kejelasan isi pesan; metode penyampaiannya; jumlah dan mutu saluran media; derajat kebisingan; simbol2 penyampaian pesan…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>