tim sar tahunanKisah ini merupakan kelanjutan dari Tim SAR Tahunan #2. Namun bila anda ingin mengikuti dari awal, anda bisa mulai dari Tim SAR Tahunan #1.

—————————————————–

Saya lebih memilih balik kanan dan menuju ke warung yang sebelumnya telah saya lewati. Bukan untuk beli sesuatu tetapi untuk menanyakan letak majelis yang masih menjadi misteri itu. Si pemilik warung menjawab dengan baik tetapi tidak cukup membantu. Saya berjalan kembali beberapa saat dan bertanya kembali ke sebuah bengkel tambal ban. Kali ini jawabannya cukup membantu karena majelis tersebut hanya beberapa meter dari bengkel tersebut sehingga pemiliknya bisa langsung menunjukkan arah sekaligus bangunan yang dimaksud. Dan bangunan yang bernama Majelis Ta’lim Nurul Hikmah tersebut ternyata yang sudah saya lewati tadi. Kali ini merupakan bukti yang ketiga saya menjadi anggota tim SAR. Penyebabnya bukan petanya yang tidak jelas tetapi bangunan aslinya yang tidak ada tulisan apapun yang menunjukkan bahwa bangunan itu adalah majelis yang dimaksud. Cape deeehh…

Dari kampung belakang majelis saya melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah wilayah Dayeuh. Di tempat ini ada dua orang yang harus saya cari, satu di Perumahan Villa Dayeuh satunya lagi di Kampung Rawa Ilat. Yang pertama dengan sangat gampang saya temukan karena berada di wilayah perumahan yang deretan rumahnya tertib dan teratur. Saya tinggal menyusuri jalan perumahan tersebut dan mengurutkan dari satu rumah ke rumah berikutnya. Pencarian yang kedualah yang menguji kesabaran. Saya sudah coba telepon tetapi sinyalnya tidak bagus sehingga suara jadi terputus-putus dan tidak jelas. Akhirnya komunikasi dilakukan melalui sms. Di dalam sms itu saya disuruh mencari dia dengan bertanya kepada orang sekitar di mana rumahnya Pak Kumis Sate Madura. Ini jelas informasi tambahan yang sangat vital dan ampuh. Dengan berbekal informasi penting tersebut rumah dan orangnya dapat dengan segera saya temukan. Mereka tinggal di sebuah gang yang hanya cukup untuk satu motor. Ketika saya memarkirkan motor, saya berharap semoga tidak ada motor lain lewat di gang tersebut.

Petualangan selanjutnya masih di wilayah Cileungsi. Orang yang saya cari ini merupakan orang terakhir dalam petualangan saya sebagai anggota tim SAR. Sesuai keterangan, dia tinggal di Perumahan Cileungsi Elok. Ada peta yang disertakan dan alamat lengkap yang diberikan tetapi saya tetap menjadi anggota tim SAR alias tim kesaSAR berkali-kali dalam pencarian yang satu ini. Peta yang digambarkan hanya menunjukkan perumahan tersebut letaknya setelah perempatan Cileungsi kalau dari arah Bogor kemudian belok kiri. Di pertigaan di mana saya harus belok tidak ada petunjuk apapun. Sementara yang saya temui di lapangan, banyak pertigaan di sepanjang jalan. Pertigaan mana yang harus saya pilih? Arrgggghhhh… konyolnya lagi, pertigaan tersebut ternyata sudah saya lewati ketika saya menuju daerah Pasirangin, kemudian saya lewati lagi ketika saya ke Dayeuh. Berdasarkan informasi Pak Kumis yang ada di Dayeuh, saya harus kembali lagi ke jalan yang menuju Bekasi. Hingga akhirnya saya melewati Perumahan Limus Pratama dan berhenti di sebuah masjid untuk sholat dzuhur sekaligus istirahat dan bertanya kepada seseorang yang ada di mesjid tersebut. Dan jawabannya? Ternyata saya telah kebablasan!

Pencarian yang terakhir ini memang paling menyebalkan. Empat kali pertigaan itu saya lewati dan saya tidak tahu. Setelah bertanya kesana-kemari, alamak!, ternyata pertigaan yang menuju Perumahan Cileungsi Elok ditandai dengan sebuah minimarket yang bernama Ceria Mart. Coba di peta digambarkan minimarket itu sebagai penanda, pasti akan dengan mudah dan tidak harus empat kali bolak-balik menjadi anggota tim SAR seperti ini. But it’s okay. Saya tetap menikmati petualangan saya sebagai bagian dari sebuah tim SAR alias tim yang nyasar-nyasar nggak karuan ke segala penjuru angin. Dengan berhasil ditemukannya target terakhir ini, usai sudah petualangan saya sebagai anggota tim SAR tahunan.

Meski penuh dengan cerita menyedihkan karena kesasar berkali-kali, akhir dari petualangan ini tetap happy ending. Bagaimana tidak? Begitu selesai tugas, saya langsung meluncur ke sebuah rumah makan yang nyaman di kota Bogor. Di tempat itu saya memanjakan lidah dengan menikmati menu dahsyat namun sederhana racikan juru masak kelas satu: nasi putih, oseng-oseng toge campur teri, tahu Bandung goreng, tempe goreng tepung, dan segelas es jeruk surgawi. Karenanya, hilang sudah semua kepenatan.

 

Sumber gambar: di sini

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here