Ingin tahu seorang guru atau dosen yang benar-benar pendidik? Merekalah yang memiliki tiga H: head, heart, dan hands. Istilah ini muncul dalam obrolan sore hari sambil menikmati kopi bersama dua sahabat, dua perempuan yang adalah pendidik sejati. Di mata saya, mereka memiliki tiga H tersebut di atas.

Jika diminta mencari guru yang sekadar guru atau dosen yang sekadar dosen, artinya mereka sebenarnya tak layak menjalani profesi mulia itu, bukan pekerjaan sulit. Banyak kita temukan pengajar yang sebenarnya bisa dibilang hanya sebatas mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saya tidak menyepelekan pekerjaan seorang pengajar. Hanya saja, saya menemukan tidak sedikit pengajar yang melakukan pekerjaan sesuai jam kerja dan hanya memindahkan pengetahuan yang dia miliki, pengetahuan yang jarang atau tidak pernah ditingkatkan. Mereka tidak mengajar sepenuh hati dan tak peduli dengan kondisi anak didik.

Head. Isi kepala seorang pengajar mestinya penuh pengetahuan mutakhir. Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pengajar harus terus ditingkatkan, ditambah, di-upgrade dan di-update. Caranya? Salah satunya adalah dengan banyak membaca. Bahan bacaan bisa berupa buku cetak maupun eletronik dan situs di internet. Sumber pengetahuan yang melimpah itu bisa dimanfaatkan bahkan bisa diperoleh secara gratis. Namun yang terjadi, berapa banyak guru dan dosen yang memanfaatkan itu? Mereka lebih senang ngobrol tak jelas dan bila sedang online lebih suka dan lebih banyak waktu yang digunakan untuk aktif main game atau bermedia sosial semacam Facebook yang intinya sama saja: ngobrol!

Heart. Pengajar harus berhati. Memang tidak semua, sebagian pengajar menjalankan fungsinya di dalam kelas dengan penuh emosi, bukan sepenuh hati. Ketika pengajar menggunakan hati dalam mentransfer pengetahuan, maka hati pula yang akan menerima. Artinya, jika pengajar bisa mendekatkan diri kepada anak didiknya, proses belajar akan lebih mudah. Buat anak didik, guru atau dosen bukanlah manusia yang tak dapat didekati dan menyeramkan tetapi seorang sahabat yang menyenangkan. Jika kondisi semacam ini sudah terbentuk, sesulit apa pun pelajaran, akan lebih gampang untuk diajarkan atau dipelajari. Maukah setiap pengajar membuka hatinya agar bisa didekati hati anak didiknya? Bila pengajar lebih memilih mengambil jarak dan tinggi hati, maka jangan harap anak didik bisa menjangkau hati gurunya yang berada di seberang dan di ketinggian itu.

Hands. Bentangkan kedua tangan untuk setiap saat siap membantu semua anak didik. Di antara tugas pengajar adalah membantu anak didiknya keluar dari kesulitan. Guru atau dosenlah yang seharusnya menjadi andalan saat ada di ruang kelas atau di lingkungan sekolah atau kampus. Jangan biarkan anak didik kebingungan dan tak tahu ke mana harus minta bantuan karena pengajarnya tidak mau mengulurkan tangan. Jangan pelit untu membantu anak didik. Siaplah selalu menjadi seorang penolong, bahkan bila perlu menjadi dewa penolong, bagi semua anak didik. Jangan pernah pilih kasih. Sungguh menyakitkan bagi yang lain bila pengajar hanya mau mengulurkan tangannya untuk siswa-siswa tertentu.

Menjadi guru atau dosen jelas pekerjaan mulia. Akan lebih mulia lagi bila bukan hanya sekadar menjadi pengajar tetapi juga menjadi pendidik. Pengajar hanya memindahkan pengetahuan yang dimiliki. Pendidik menggunakan tiga H di atas dalam mengajarkan segala pengetahuan, pengalaman hidup, dan budi pekerti yang harus dipunyai anak didiknya. Pengajar menghasilkan robot-robot yang pintar secara akademis. Pendidik memproduksi manusia seutuhnya, meski pun di bidang akademik mungkin tidak sehebat para robot itu.

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here