Ini bukan tentang alam rahim, alam fana (dunia), dan alam barzah (kubur). Namun tiga dunia ini juga dimiliki atau dijalani manusia dalam hidupnya. Hanya saja mungkin kita tidak ngeh bila memiliki dan tidak sadar sedang menjalani kehidupan di dalam ketiga dunia ini. Apa sajakah?

Tiga dunia ini disebut privasi, keluarga, dan sosial. Sudah pasti kita semua memiliki ketiganya. Tentang bagaimana cara memperlakukan atau menanganinya, masing-masing dari kita bisa jadi sama mungkin juga berbeda. Ketika perbedaan itu muncul sangat mungkin juga akan timbul konflik. Bagaimana konflik yang hadir itu ditangani, itu tergantung cara kita masing-masing. Belum tentu cara yang saya lakukan akan bisa anda kerjakan. Atau, hasil dari cara yang saya gunakan tidak tertutup kemungkinan akan berbeda bila anda yang melakukan, meskipun caranya sama persis. Biar lebih jelas, mari kita lihat satu demi satu tiga dunia yang barangkali agak asing bagi anda.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya kadang-kadang menyatukan tiga dunia ini. Suatu ketika saya juga suka menjalankan dua dunia dalam satu kesempatan. Di lain waktu saya sering menarik garis batas yang jelas di antara masing-masing dunia. Saya melakukan suatu kegiatan hanya dalam salah satu dari ketiga dunia. Ketika saya menjalani hanya satu dunia, kadang-kadang pihak yang ada di dunia lain komplain. Itu sangat mungkin terjadi. Yang saya lakukan untuk mengangani komplain itu kadang-kadang dengan mengakomodir bila memungkinkan, jika tidak, dengan menjelaskan sejelas-jelasnya meskipun belum tentu penjelasan saya bisa diterima. Jika demikian yang terjadi, saya biasanya mengabaikan. Masalah pihak lain itu suka atau tidak, bukan urusan saya lagi. Toh yang namanya toleransi itu tidak selalu bersangkutan dengan pihak lain. Ada kalanya kita harus bertoleransi dengan diri sendiri.

Privasi atau dunia yang berkaitan dengan kepentingan diri sendiri selayaknya juga mendapat porsi waktu dari 24 jam yang kita miliki dalam sehari. Suatu saat anda sebaiknya dan seharusnya menyediakan waktu buat diri anda sendiri. Tidak harus setiap hari. Setidaknya anda bisa merasakan kapan diri anda sendiri perlu dimanjakan. Membaca buku favorit, menonton film sendirian di gedung bioskop, atau makan enak seorang diri di restoran adalah contoh bentuk kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka memanjakan diri sendiri. Itu privasi anda. Dan anda jangan merasa bersalah bila melakukan itu karena tidak melibatkan suami, istri, atau anak bila memang anda sudah berumahtangga. Kan ada saatnya juga nanti bila kita akan melibatkan anggota keluarga yang lain? Lagian saya melihat bila secara pribadi kita merasa senang, hubungan dengan orang lain juga akan menjadi enak. Jika anda masih lajang, kegiatan itu tentunya tidak ada masalah.

Dunia keluarga berisi kegiatan yang melibatkan anggota keluarga yang lain. Jika belum menikah, anggota keluarga bisa orangtua, kakak, atau adik kita. Bila sudah berumahtangga dan kita masih berkumpul dengan orangtua dan kakak adik kita maka selain mereka, anggota keluarga akan bertambah dengan suami atau istri dan anak. Buatlah atau terlibatlah dalam kegiatan bersama keluarga. Kita harus melakukannya. Yang terpenting bukan masalah berapa sering kita bisa menjalankan kegiatan bersama keluarga tetapi seberapa intens kita menikmati acara itu. Jadi, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Apa gunanya kita memaksakan diri mengagendakan kegiatan keluarga jika hasilnya adalah cekcok dan gerutuan yang muncul dari anggota keluarga. Lebih penting bila meskipun tidak terlalu sering tetapi setiap kegiatan keluarga itu dijalankan, semua bisa menikmati dan merasa senang.

Sebagai manusia yang hidup dalam sebuah masyarakat dan berinteraksi dengan manusia lain maka sudah pasti akan terbentuk ikatan pertemanan. Inilah jenis dunia yang ketiga. Dunia sosial adalah tempat di mana kita melakukan aktifitas dengan orang lain baik mereka itu teman bermain, rekan kerja, teman sekolah, partner bisnis, atau tetangga. Kita tidak bisa terlepas dari lingkungan sosial. Dunia ini sudah barang tentu harus kita jalani juga, baik sendiri atau melibatkan keluarga. Memang kadang-kadang kita ketemu dengan lingkungan yang kita tidak merasa cocok. Apa yang bisa kita lakukan bila berhadapan dengan lingkungan seperti ini? Tentu saja tetap bersikap baik dan menjaga sopan santun. Bila kita bisa merubah lingkungan ke arah yang lebih baik, tidak ada buruknya kita mencobanya. Jika anda lebih memilih untuk keluar dari tempat itu dan keputusan itu anda anggap baik, lakukan.

Dari ketiga dunia ini, barangkali anda memiliki prioritas dunia mana yang akan anda dahulukan. Anda memutuskan itu tentu setelah mempertimbangkan segala sesuatunya. Misalkan ketika dulu masih lajang anda suka jalan ke mana-mana, namun setelah memiliki keluarga sendiri anda lebih suka beraktifitas dengan keluarga anda dan tidak pernah bersenang-senang untuk diri sendiri lagi, anda tentunya dengan sadar melakukan itu. Itu pilihan anda. Saya pribadi lebih suka tetap memberi porsi waktu untuk masing-masing dunia. Ketika saya perlu menyenangkan diri sendiri, saya akan melakukannya. Kadang-kadang main catur sendirian pun bisa menjadi kegiatan yang mengasyikkan bagi saya. Barangkali anda menganggap saya aneh. Tetapi saya menganggap anda lebih aneh lagi karena menganggap saya aneh. Aneh-aneh saja! I’ll spend my own time for myself. Bila tiba waktunya menjalani dunia keluarga, of course I’ll be a family man. Saat itu mungkin saya akan menjelma sebagai ayah yang baik dan suami yang penuh kemesraan serta… passionate. 😉 Ketika saya harus menjadi a good social member, saya siap menjalani. Begadang sampai pagi di pos ronda, hayok, ngeliwet bareng-bareng tetangga kemudian hasilnya digelar di atas lembaran daun pisang untuk disantap bersama, juga hayoook.

Suatu saat kemungkinan bentrok antar kepentingan dari tiga dunia itu pasti ada. Bila itu terjadi, saya akan memutuskan sebaik-baiknya. Jika yang saya lakukan adalah mengikuti keputusan mereka, itu juga karena berdasarkan keputusan yang saya ambil. Jadi ketika saya sedang menjalani dunia saya pribadi, misalnya, saya akan membaca buku di toko buku sendirian. Saya enjoy dengan hal itu. Jika harus melibatkan dunia keluarga, saya akan mengajak istri dan atau anak ke toko buku untuk baca buku atau majalah di tempat itu. Kalau ada yang menarik baru dibeli. Kegiatan itu jelas saya nikmati. Bila tiga dunia saya gabungkan maka selain keluarga sendiri saya akan mengajak teman dan atau tetangga berbondong-bondong mendatangi toko buku untuk membaca apa saja yang ada di situ. Setelahnya saya atau mereka membeli, itu urusan nanti. Jika rombongan itu disangka hendak demo, ya… itu sudah resiko.

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here