>Bila anda mendapat perintah langsung dari atasan, anda tentu akan melaksanakan. Itu yang dilakukan oleh Nabi Musa ketika dia mendapat firman dari Penguasa Alam Raya untuk melaksanakan sepuluh perintah-Nya. Kisah kerasulan ini kemudian difilmkan dengan judul The Ten Commandments oleh Cecil B. DeMille.

Saya juga mendapat perintah. Bukan sepuluh, dan juga bukan dari Tuhan. Hanya satu dan itupun dari teman baik yang sekaligus guru menulis saya. Harap dicatat dulu, saya tidak bermaksud menyamakan dia dengan Tuhan. Perintahnya sederhana. Atau mungkin lebih cocok bila saya sebut sebagai provokasi. Dia mendorong-dorong saya untuk, ehm, merokok. Anjuran yang menyesatkan itu tentu saja dia sampaikan dengan tidak serius, dan sayapun menganggapnya begitu. Kenapa itu bisa terjadi?

Karena saya tidak ada acara kemana-mana, kemarin (Minggu) saya bertandang ke Bojong Gede. Saya main ke rumah seorang penulis yang reputasinya tidak main-main lagi. Sehari sebelumnya dia berjanji akan memberi bukunya yang baru diterbitkan asal saya mau datang ke rumahnya. Jika cuma disuruh datang agar memperoleh buku baru, ya dengan senang hatilah saya memenuhi syarat itu. Bukan hanya karena ingin mendapatkan buku baru saja yang menyebabkan saya mau datang. Kebetulan saya punya naskah buku yang butuh masukan dari dia. Selain itu, saya memang sudah lumayan lama tidak bersilaturahim ke tempat dia. Demi buku sekaligus persahabatan dan persaudaraan, saya berusaha keras untuk datang.

Lama tidak ngobrol dengan dia, kangen juga saya. Bila ketemu, seperti kemarin dan seperti biasa, obrolan yang dilakukan tidak jauh dari dunia tulis-menulis. Kami berdua memang cocok bagaikan mur dan baut. Kami kebetulan sama-sama memiliki keahlian. Dia mahir merangkai kata, saya ahli bertanya bagaimana meronce kata menjadi kalimat yang enak dibaca. Banyak petuah yang dia ucapkan untuk saya. Dengan khidmat saya mendengarkan. Selanjutnya saya berusaha menyerapnya. Sebagai seorang murid yang baik, memang seharusnya seperti itu bila gurunya berbicara.

Disamping mengajari menulis, dia juga menjadi guru untuk kegiatan lain yang juga sama-sama saya dan dia sukai. Kami berdua sama-sama penggemar permainan catur. Yang membuat saya terkesan, kok ya dalam setiap permainan dia tidak pernah terkalahkan. Setiap ketemu dengan dia, saya berharap untuk bisa bermain catur dengannya, tentu saja berharap juga untuk menang. Kemarin saya beruntung bisa bertanding melawan dia meskipun dari empat kali bermain, tidak satu pun yang saya menangkan. Saya akui, dia memang ulet dan tidak tergesa-gesa dalam melangkah. Dalam pertandingan-pertandingan yang dimainkan, termasuk kemarin, sebenarnya beberapa di antaranya saya sering berada di atas angin. Namun rupanya saya tidak seulet dan sehati-hati dia.

Pertandingan catur persahabatan saya lakukan karena hujan terlanjur turun. Akibat hujan, saya jadi tidak bisa pulang. Sebelum itu, saya dengan dia asik ngobrol di teras. Kebetulan ada empat orang dari Fakultas Hukum Unpak Bogor yang juga hadir. Mereka datang untuk urusan penerbitan buku. Mereka kemudian ikut bergabung dalam obrolan. Suasana jadi semakin ramai. Saat ngobrol itulah dia memprovokasi. Ya itu tadi, agar lancar menulis saya disarankan merokok. Dia memang perokok berat, begitu juga empat laki-laki yang dari Fakultas Hukum.

Saya hanya tersenyum mendengar anjuran itu. Kemudian saya meminta dia menyebutkan sepuluh alasan merokok untuk meyakinkan saya. Sepuluh keuntungan dari merokok. Dia dan orang-orang Fakultas Hukum dengan antusias mengumpulkan alasan itu. Pertama, merokok meningkatkan konsentrasi. Kedua, banyak penulis hebat yang perokok berat. Ketiga, orang merokok menunjukkan bahwa dirinya sehat. Buktinya, bila perokok yang sakit ditanya kenapa kok tidak merokok, dia akan menjawab, “Lagi sakit.” Keempat, rokok memiliki nilai sosial tinggi. “Perokok suka berbagi bila temannya tidak memiliki atau kehabisan rokok,” kata salah satu orang Fakultas Hukum sambil mengambil rokok teman saya yang tergeletak di atas meja. Kelima, merokok akan memperlancar dan memperpanjang percakapan. Dalam ilmu bahasa istilahnya fatis (phatic).

Kemudian saya ikut menambahi karena mereka sudah kehabisan alasan. Keenam, perokok awet muda, karena mereka tidak sempat tua. Smokers never grow old, because they die young. Begitu tulisan yang pernah saya baca pada sebuah kaos yang dipakai seseorang. Anda tentu bisa melengkapi dengan kemandulan, impotensi, keguguran dan lain-lain, bahkan lebih banyak lagi dari sekedar keuntungan merokok.

Sepuluh alasan yang saya minta memang bukan Ten Commandments, dan akhirnya mereka juga tidak dapat memberikan. Bila mereka bisa menyebutkan sepuluh alasan yang masuk akal dan tidak dicari-cari, sudah pasti anjuran merokok akan saya turuti. Dan saya anggap, alasan yang mereka sampaikan memang memiliki kebenaran yang dapat dipercaya.

Begitulah yang biasa terjadi bila orang tidak dapat melepas kebiasaan buruknya. Selalu ada legitimasi untuk menghalalkan perbuatan yang jelas-jelas banyak mudharat daripada baiknya seperti kebiasaan merokok. Hanya gara-gara susah menghentikan, akhirnya dicari alasan untuk menenangkan hati yang sebenarnya gundah. Seandainya salah satu dari Ten Commandments itu adalah perintah merokok, alangkah bangga dan besar kepala seluruh perokok di dunia ini. Mereka bisa mengatakan yang mereka kerjakan bukan hanya sekedar dilindungi peraturan rece-rece seperti undang-undang buatan manusia, tapi merupakan perintah yang datang langsung dari Tuhan. Untungnya hal itu hanya mimpi di siang bolong.

Bagi anda yang perokok, jika anda ingin tahu apa isi sepuluh perintah Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Musa, jangan tanya saya. Tonton saja film The Ten Commandments. Namun saya ingatkan, jangan harap salah satunya adalah perintah untuk merokok. Setelah nonton film itu, jangan lupa cerita kepada saya. Sebutkan kesepuluh perintah yang diberikan itu dengan sejelas-jelasnya.

Khusus untuk teman tercinta yang saya kisahkan di sini, terima kasih atas petuah, ajaran dan bimbingan menulis yang telah diberikan. Juga perlu saya sampaikan terima kasih atas permainan catur yang tidak pernah sekalipun saya menangkan. Tunggu saja. Saya akan datang lagi dan memenangkan permainan itu.

SHARE
Previous articlePenggemar Changcut
Next article>Mabok Apa Mabuk?

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here