tahi ayam di pssiKecuali anda belum pernah bertemu ayam, anda pasti tahu tahi ayam itu seperti apa. Kalaupun bukan baunya, setidaknya bentuknya. Di dalam tubuh PSSI yang menjadi organisasi pengurus persepakbolaan negeri ini, tahi ayam ada di sana.

Anda yang menjadi teman saya di Facebook (FB) tentu sering membaca status saya dipenuhi tahi ayam. Teman-teman saya di FB, barangkali termasuk anda, heran membaca status yang tidak lazim itu. Sering saya menuliskan tahi ayam dalam status FB seolah-olah barang berharga. Bahkan pemiliknya yaitu para ayam saya beri julukan yang terhormat. Status terakhir di akun FB saya sebelum tulisan ini diunggah juga mengenai tahi ayam yang saya analogikan dengan PSSI. Seperti apa itu? Kita jalan bareng menyusuri tulisan ini yuk.

Tidak heran bila anda bertanya-tanya saat membaca judul artikel ini. Biasaaaโ€ฆ itulah pekerjaan dan kelakuan saya bila membuat sebuah tulisan dan memperlakukan anda sebagai pembacanya. Boleh kan? Kembali tentang tulisan ini. Kita semua tahu pentingnya peran PSSI dalam persepakbolaan kita. Melalui organisasi yang langsung berada di bawah kendali FIFA inilah seharusnya sepakbola bisa menjadi lebih baik. Namun sayangnya yang terjadi tidak sebagaimana yang diharapkan bangsa Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi? Dari laporan media, kita bisa simpulkan ada ketidakberesan dalam pengelolaan PSSI.

Ketidakpuasan atas PSSI semakin terlihat pada saat timnas Indonesia kalah oleh Malaysia dalam final piala AFF. Sebelum tim kita dikalahkan pun, para suporter sudah membentangkan tulisan besar yang menuntut mundurnya ketua PSSI, Nurdin Halid, gara-gara kekisruhan penjualan tiket. Saya pribadi menganggap ketidakpuasan itu wajar karena selama kepemimpinan dia, Indonesia tidak pernah sekalipun membawa pulang piala kejuaraan atau turnamen. Selama dua periode atau delapan tahun dikelola Nurdin, apa yang bisa dibanggakan dari sepakbola kita? Cukupkah puas dengan menjadi runner up di AFF? Prestasi yang belum bisa memenuhi harapan pecinta sepakbola tanah air makin diperkeruh dengan banyak isu seputar Nurdin dan PSSI itu sendiri. Beberapa di antaranya misalnya status Nurdin yang pernah menjadi narapidana dalam kasus minyak goreng, upaya mempolitisir sepakbola yang jelas-jelas tidak ada kaitannya dengan politik, turnamen LPI yang ditentang habis-habisan dan dinyatakan ilegal, dan surat FIFA untuk PSSI yang diduga palsu.

Meskipun FIFA melarang pemerintah campur tangan dalam pengelolaan PSSI, dalam kondisi seperti ini akan lebih baik jika pemerintah menangani PSSI. Dengan demikian, diharapkan nanti akan lahir PSSI yang fresh dan bebas dari tangan politik dan orang-orang yang tidak benar. Perihal sanksi yang diberikan bila pemerintah cawe-cawe, tidak apa-apalah untuk diterima dan dijalani. Rasanya tidak masalah jika Indonesia tidak diijinkan berpartisipasi dalam turnamen tingkat internasional untuk beberapa tahun. Sambil menunggu masa sanksi selesai, kita bisa mengasah ketrampilan di dalam negeri. Jika di negeri ini diciptakan banyak turnamen semacam ISL yang direstui PSSI atau LPI yang dinyatakan illegal, peluang mengasah kemampuan bermain sepakbola menjadi melimpah. Betul tidak?

FIFA dalam melarang pemerintah campur tangan juga tidak konsisten. Dalam pendanaan, PSSI nyatanya masih menggunakan uang rakyat melalui APBD. Saya yakin FIFA pasti tahu akan hal itu. Tapi apa tindakan yang diambil FIFA atas pelanggaran tersebut? Nothing! Dengan demikian, sungguh aneh dan tak tahu diri jika PSSI menyatakan LPI ilegal hanya karena tidak dia restui dan sudah pasti restu itu tidak akan diberikan meskipun diminta. Dan kita tahu, LPI dalam pelaksanaannya tidak didanai pemerintah. Itu artinya LPI tidak menjadi lintah bagi uangnya rakyat.

Satu lagi yang menggelikan dari sikap antipati PSSI terhadap LPI adalah lagaknya yang sok kuasa tetapi tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai organisasi yang meningkatkan persepakbolaan. Yang dilakukan malah sebaliknya, menjegal upaya positif pihak lain yang peduli dengan sepakbola. Bila PSSI melarang LPI, apa yang bisa dia berikan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas sepakbola bangsa ini? Selain itu, PSSI itu seperti anak kecil yang mengandalkan bapaknya dalam mengalahkan lawan padahal bapaknya tidak berdaya membantu. Dalam kasus ini, bisa jadi FIFA tidak mampu menggunakan kekuasaannya karena masalah yang terjadi di luar lingkaran kewenangannya. Jika LPI bukan bagian dari PSSI, FIFA pun tak akan mampu menyentuh LPI karena merupakan liga independen. Mau apa PSSI sekarang?

Sekarang ini, PSSI seharusnya seperti tahi ayam. Meskipun terlihat menjijikkan dan berbau โ€˜sedapโ€™, tahi ayam tetap memiliki manfaat dalam menyuburkan tanah dan membesarkan tanaman. Jelas Nurdin Halid dan timnya menjadikan PSSI tidak sedap dipandang. Tetapi jika mereka bisa membawa PSSI menyuburkan persepakbolaan dan membesarkan klub-klub sepakbola negeri ini, setidaknya mereka bisa menjadi seperti tahi ayam. Dan itu lebih terhormat daripada sudah menjijikkan, bau, kelakuannya seperti lintah lagi – nyedot uang rakyat.

Sumber gambar: di sini

11 COMMENTS

  1. @zico: Memang, PSSI sadar itu. Jika LPI tetap berjalan, maka makin jelaslah bahwa PSSI hanya bisa berlangsung karena uang rakyat (pemerintah) yang berarti melanggar peraturan yang ditetapkan FIFA. Apa nggak malu tuh? Tapi entahlah… kalau malu sudah tidak dimiliki, ya the show tetap must go on ๐Ÿ™

  2. PSSI berupaya menjegal LPI karena rasa takut. jika tak ada sponsor, maka liga pun tak berjalan. uang dari sponsor yang di gelontorkan untuk liga super misalnya. jumlahnya tak sedikit.. PSSI pun menyadari hal itu. lalu, jika tak ada sponsor lagi…bisa bisa PSSI kebakaran jenggot.. dan komersil dalam liga telah hilang. karena liga prefesional harus di dukung dengan pendanaan yang cukup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here