Tag Archives: selabintana

Idang Rasjidi Bertemu Ngajess Sukabumi

ngajess sukabumiObyek wisata alam Pondok Halimun yang asri menjadi tempat berkumpul komunitas penikmat jazz Sukabumi, Ngajess, Kamis (17/5/2012) bertepatan dengan libur nasional kemarin. Acara berlangsung meriah. Kemeriahan bertambah saat Idang Rasjidi & Syndicate melantunkan beberapa lagu sambil berinteraksi dengan penonton. Dan yang lebih asyik, Idang Rasjidi membuka klinik jazz untuk mereka sesudah itu.

Continue reading

Sukabumi

Ini kali kedua saya ke Sukabumi. Yang pertama adalah saat akan camping ke Pondok Halimun beberapa waktu yang lalu. Perjalanan pertama itu pernah saya tulis di blog ini.

Saya katakan ke Sukabumi dalam artian turun dan jalan-jalan di kotanya. Bila Cuma lewat sih sudah berkali-kali, seperti saat mau ke Sumedang beberapa waktu yang lalu. Perjalanan kedua ini memang sudah direncanakan jauh-jauh hari bersama teman-teman sekantor dan dimatangkan kembali saat mereka main ke rumah. Ternyata yang akhirnya bisa berangkat adalah saya dan keluarga (Tami, Al, Rey), Fajar, Widy, dan Yuli. Yuli sendiri baru nyusul esok harinya. Kami ingin main ke rumah Suci, salah satu teman kerja, yang di Sukabumi. Rumah di Sukabumi ini sebenarnya rumah orangtuanya. Suci sendiri dan suaminya, Adi, tinggal di Bogor. Hampir setiap akhir pekan mereka berdua ini naik motor Bogor-Sukabumi menengok rumah orangtuanya. Luar biasa… staminanya.

19 April 2008 sebelum berangkat ke Sukabumi, saya mengikuti acara wisuda di Gedung Alumni IPB Bogor. Biasa, acara rutin tahunan yang hampir selalu saya ikuti. Saya, mantan pacar, dan kedua junior saya berangkat bersama dari rumah. Meskipun molor setengah jam, yang harusnya jam 07.00 jadi 07.30 pagi, saat sampai di gedung, acara belum dimulai. Dua junior saya bagi dengan mantar pacar. Yang kecil ikut saya, kakaknya ikut rapat di kantor emaknya. Selesai rapat, mereka menyusul dan bergabung ke Gedung Alumni.

Setelah acara wisuda keenam dari anak-anak BEC angkatan 10 selesai, saya sekeluarga dan Widy ikut rombongan yang akan menengok gedung baru BEC di Cimahpar. Tidak banyak yang perlu saya ceritakan perihal gedung baru ini. Gedung yang bila sudah jadi nanti pasti megah itu memiliki tiga lantai yang dilengkapi dengan fasilitas pendidikan modern. Saya akan menulis khusus tentang gedung baru ini someday, tapi nggak janji lho. Sebelum ke Cimahpar saya sudah janjian dengan mereka yang akan berangkat ke Sukabumi tapi tidak ikut ke Cimahpar untuk kumpul lagi di Gedung Alumni jam 13.00. Kami akan berangkat naik angset (angkutan setan), julukan transportasi jenis Colt L300 tujuan Cianjur atau Sukabumi, yang suka ngetem di sebelah gedung itu.

Ternyata jam 12.30 rombongan yang menengok gedung baru sudah kembali lagi di Gedung Alumni. Saya sempatkan sholat lohor di masjid belakang Gedung Alumni. Dari situ kemudian balik lagi ke tempat pertemuan tetapi ternyata belum ada siapa-siapa. Sambil menunggu, diputuskan makan siang dulu di warung tenda yang ada di sepanjang jalan samping Gedung Alumni. Ternyata Suci dan Adi suaminya ada di dekat warung tempat rombongan saya makan. Mereka selesai makan siang di warung dekat-dekat situ juga sambil menunggu kami datang dari Cimahpar. Rencananya mereka akan berangkat bareng dengan kami naik angset sekaligus menjadi pemandu menuju rumah Sukabumi. Untuk sementara motor yang biasa mereka pakai dititipkan dulu di rumah kakaknya Adi. Kami kemudian menunggu Fajar yang belum datang. Tinggal dia saja yang belum kelihatan.

Akhirnya rombongan komplit dan berangkat ke Sukabumi jam 13.55. Seperti biasa bila naik angset, jantung ini harus dipersiapkan agar tidak copot. Namanya juga angset, pasti kayak kesetanan jalannya. Tetapi saat itu agak aneh, mungkin karena tidak begitu memperhatikan, rasanya mobil yang saya naiki itu tidak seliar seperti sebelum-sebelumnya. Apa karena sudah beberapa kali saya naik angset sehingga jadi terbiasa ya? Justru yang saya rasakan adalah lamanya perjalanan yang menyiksa yang disebabkan macet. Perjalanan yang harusnya ditempuh dua jam molor menjadi tiga jam. Siksaan lain selain lama adalah penumpangnya penuh dan saya tidak bisa bergerak begitu banyak karena tergencet tas besar yang jonggrok di pangkuan saya. Sampai-sampai saya bilang ke teman-teman, “Bujurna leungit.” Pantat ini rasanya jadi tepos, berkurang sekian senti.

Cobaan itu akhirnya lewat. Jam 17.10 angset yang kami bayar per penumpang Rp.9.000 sampai di Sukabumi. Kami turun di dekat apotik Kimia Farma. Karena penumpang diturunkan di tempat itu, bukan di alun-alun, maka sore itu kami harus olah raga sedikit menuju angkutan yang akan membawa kami ke rumah orangtua Suci. Bukannya sedih, kami sangat antusias ketika harus jalan kaki menuju pangkalan angkot itu. Itu artinya, kami bisa menikmati sore dan kota Sukabumi. Dalam perjalanan kedua saya ke Sukabumi ini saya menyaksikan ramainya orang-orang di jalan-jalan yang saya lewati. Di Jl. A. Yani yang kata Suci merupakan pusat kotanya Sukabumi, manusia seperti ditumpahkan sore itu. Saya tidak tahu apakah sehari-harinya seperti itu atau karena saat itu menjelang malam minggu. Begitu juga Jl. Kapten Harun Kabir. Sepanjang jalan dipadati dengan orang-orang yang saya tidak tahu dari mana saja dan mau ke mana saja. Sore itu memang cerah sehingga mendukung sekali untuk plesiran di tengah kota.

Pangkalan angkot yang akan kami naiki ada di Jl. Kapten Harun Kabir. Saat itu sudah jam 17.30, dan itu ternyata batas akhir dari angkot yang akan menuju ke arah rumah orangtua Suci. Bila ketinggalan maka harus naik angkot lain jurusan kemudian disambung dengan ojek. Untung saja kami masih disisakan satu angkot yang langsung penuh ketika rombongan orang-orang Bogor ini naik. Untuk mencapai rumah Suci yang ada di desa Sindangsari, Lembur Situ, angkot yang digunakan no.21 jurusan Ramayana-Cicadas. Orang setempat biasa menyebut angkot jurusan ini angkot cicadasan. Tarif normalnya, Rp.2.500. Tetapi saat saya kasih sepuluh ribu untuk tiga orang, kembalian yang diberikan empat ribu, berarti saya hanya dikenakan tarif Rp.2.000 per orang. Padahal teman-teman yang lain membayar Rp.2.500. Mungkin sopirnya setelah melihat tampang saya jadi jatuh belas kasihannya dan sambil menyerahkan kembalian dia berdoa dalam hati, “Mudah-mudahan orang miskin ini cepat kaya.”

Hari sudah gelap ketika kami turun dari angkot. Desa Sindangsari begitu tenang. Listrik sudah masuk di desa ini tetapi tidak ada penerangan jalan, yang ada hanya cahaya lampu yang berasal dari teras rumah-rumah penduduk. Dengan demikian, jalan rayanya sendiri jadi gelap. Jalan yang gelap dan jarangnya motor atau mobil yang lewat menciptakan suasana yang tenang damai di malam itu. Ditambah lagi dengan udara yang lebih dingin bila dibandingkan udara Bogor, cocok sekali untuk bersantai. Kami disambut oleh mamanya Suci. Sedangkan adik perempuannya yang baru datang dari Bandung, Agis, dan papanya menyusul menyalami setelah kami sholat maghrib, mandi dan makan malam.

Kami disediakan satu rumah sendiri untuk tidur yang bersebelahan selisih satu rumah dengan rumah induk, rumah kontrakan dua kamar tidur yang kebetulan saat itu sedang tidak ada yang mengisi. Sedangkan Suci dan suaminya tidur di rumah induk. Dengan demikian, privasi tamu maupun tuan rumah tetap bisa dijaga. Selesai mandi dan sholat, kami kembali ke rumah induk untuk makan malam yang sudah menanti. Disamping lapar, udara yang dingin membuat makan jadi lahap. Selesai makan malam kemudian disambung dengan nyanyi-nyanyi dan malam itu saya tutup dengan kekalahan main catur satu set dengan suami Suci.

Suci sekeluarga (mama, papa, dan adiknya) termasuk Adi, suaminya, merupakan keluarga yang luar biasa. Keluarga yang memiliki talenta. Talenta yang merupakan impian saya yang tidak kesampaian. Mereka ini keluarga penyanyi. Semua memiliki suara kelas satu. Makanya tidak heran bila mereka memiliki alat musik lengkap dan studio musik yang juga disewakan. Yang namanya penghargaan dari berbagai kejuaraan, berderet di atas bufet di ruang keluarga. Adiknya Suci, Agis, merupakan penyanyi yang sudah terkenal di Sukabumi. Penampilan dan suaranya sering muncul di tv lokal Sukabumi, juga pernah di beberapa stasiun televisi lain. Suaranya direkam untuk kepentingan pemerintah daerah Sukabumi. Agis ini juga pernah menjadi salah satu dari 24 peserta Indonesian Idol yang masuk babak karantina. Bila anda melihat penampilan penyanyi muda dengan nama Agis di layar kaca, bisa jadi dia itulah artis dari generasi setelah Desy Ratnasari yang berasal dari Sindangsari, Lembur Situ, Sukabumi. Namun sayangnya selama saya ada di rumah mereka, ada sebuah lagu yang tidak kedengaran dinyanyikan oleh mereka. Saya tahu sebabnya kenapa. Bila lagu itu dinyanyikan Suci akan sesak nafas. Tidak oleh Suci sendiri, orang lainpun yang nyanyi, tetap Suci yang megap-megap. Anda bisa tebak lagu apa atau siapa penyanyinya? Bila tidak, ya nanti akan saya kasih tahu bila ketemu.

Jam 4 pagi saya dengar alarm di hp Fajar berbunyi, namun saya tidak terus bangun. Mata yang sempat melek sebentar ini saya pejamkan lagi. Jam 5 gantian alarm hp saya bunyi. Inipun tidak terus membuat saya bangun. Tahap yang saya lalui adalah mata saya melekkan dulu, ngumpulin nyawa, baru bangun ambil air wudlu dan kemudian sholat subuh. Dua kamar di rumah yang kami tinggali, satu kamar diisi oleh saya, Al, dan Fajar. Sedangkan kamar satunya isinya Tami, Rey, dan Widy. Pagi itu saya sempat jalan-jalan bersama Tami menikmati udara pagi Sindangsari. Saya lihat ada penjual angkringan di pinggir jalan sedang melayani pembeli yang setelah saya dekati ternyata menjual makanan tradisional dodongkal. Dodongkal yang pernah mengesankan saya saat kunjungan pertama saya di Sukabumi ini ternyata bentuknya seperti tumpeng. Tami bilang ingin beli tetapi saya katakan tidak usah karena Suci sudah janji akan menyuguhi kue yang memikat itu. Dan ternyata benar. Setelah sampai kembali di rumah dari jalan pagi, saya sms Suci yang tadi malam tidak tidur serumah dengan kami. Sms tak tahu diri yang memberitakan bahwa saya sudah siap menyantap dodongkal.

Tidak lama setelah sms itu saya kirim, Suci muncul dengan makanan melimpah. Benar-benar keterlaluan. Bukan hanya dodongkal yang utuh satu gunung yang seharusnya bisa untuk 15 orang yang disajikan tetapi juga pisang goreng, nasi uduk, dan makanan yang namanya pernah saya dengar namun baru pertama kalinya ini saya lihat, gongsir. Gongsir (membaca ‘o’nya seperti o dalam kata bolong) yang merupakan singkatan dari ‘jagong disisir’ ini terbuat dari sisiran jagung rebus yang ditaburi parutan kelapa dan gula pasir. Hati-hati bila mengatakan singkatannya gongsir. Jangan salah menyebut dengan jig eh bagong disisir. Di daerah lain mungkin punya nama berbeda untuk makanan seperti ini, contohnya di sebagian daerah di Jawa Tengah gongsir ini disebut grontol. Dengan banyaknya makanan yang disajikan ini, padahal singkong dan ubi goreng yang tadi malam masih tersisa dua piring, perut ini jadi protes. Pengennya berhenti makan tetapi sayang bila melihat makanan yang ada masih banyak. Beugah deh jadinya.

Pagi itu rencananya mau piknik ke Selabintana, tetapi masih menunggu kedatangan Yuli dulu. Dia belum lama berselang memberi kabar jadi menyusul ke Sukabumi. Dari Bogor, dia naik angset. Setelah angset yang dia tumpangi sampai Cibadak, dia mengirim sms lagi memberitakan petualangannya dikocok-kocok di dalam angset yang ditumpanginya. Dia merasa coltlag (karena yang dinaiki mobil jenis Colt bukan pesawat terbang, jadi tidak mengalami jetlag). Agar tidak terasa dikocok-kocok kenapa tidak nyanyi lagunya Inul saja Yul? Para penontooon, bapak-bapak ibu-ibu semua yang ada di sini… tarik maaang… Yuli kemudian dijemput dengan sedan merah oleh Adi, Suci, dan Fajar. Eh, ngomong-ngomong, sudah ketemu belum lagu yang bila dinyanyikan membuat Suci megap-megap? Bila belum, ini saya kasih clue-nya. Lagu itu berasal dari Malaysia. Sudah itu saja. Jika masih bingung juga, ya memang kita harus ketemu. Kita? Lu kale!

Berangkatnya ke Selabintana akhirnya tidak pagi lagi tapi menjelang tengah hari, sekitar jam 11.30. Meskipun demikian perjalanannya jadi mengasikkan. Kami merasa benar-benar menjadi orang Indonesia tulen dan menyatu dengan alam Sukabumi. Tahu sebabnya kenapa? Karena kami naik open cap, naik mobil bak terbuka. Suci sebelumnya merasa tidak enak menawarkan alternatif angkutan itu untuk pergi ke obyek wisata terkenal di kota Sukabumi. Bagi saya, terutama, justru itulah yang lebih mengasikkan dibandingkan naik mobil tertutup meskipun mewah sekalipun. Tidak ada tantangannya. Bila naik mobil bak terbuka, apalagi saat itu gerimis, jadi ajang ketahanan stamina. Kira-kira jadi masuk angin tidak sesudahnya, dan alhamdulillah ternyata tidak.

Gerimis mengiringi menyambut kami di jalan. Meskipun bawa payung, tetap saja angin dan sebagian air hujan membasahi kami. Masih mending tidak hujan gede. Saat sampai di Selabintana kami menggelar tikar yang kami bawa di bawah pohon. Sayangnya karena gerimis tidak berhenti dan makin membesar, kami kemudian pindah ke teras maisonet (penginapan) yang ada di dekat tempat itu. Rame-rame kami makan siang sambil menikmati derasnya hujan. Kami tidak bisa kemana-mana. Paling-paling ke toilet atau mushola di belakang maisonet itu. Hanya Widy yang menyempatkan jalan-jalan sebentar di lokasi yang mirip Kebun Raya Bogor itu.

Kunjungan ke Selabintana ini merupakan pertama kalinya buat kami semua yang dari Bogor. Sebenarnya tempatnya menyenangkan dengan udara yang sejuk dan hijau serta rindangnya pepohonan yang ada di komplek Selabintana. Sayangnya kami hanya bisa menikmati dari teras penginapan karena hujan. Sampai kami putuskan pulang jam 14.30, hujan masih belum berhenti meskipun sudah tidak besar lagi. Kembali kami hujan-hujanan dalam perjalanan pulang menuju Sindangsari. Sampai di rumah, ganti baju, sholat asar kemudian siap-siap balik ke Bogor. Kami diantar, masih diiringi dengan hujan, ke Sukabumi kota dengan sedan dan mobil bak terbuka tapi duduknya di sebelah sopir untuk naik angset menuju Bogor. Jam 16.30 kami sudah ada di atas angset. Hari itu, 20 April 2008, di desa Sindangsari, Lembur Situ, Sukabumi yang di layar hp saya kadang terbaca Cibungur-Sukabumi, Harempoy, atau Gunung Puyuh hati kami tertinggal.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya tanya sekali lagi kepada anda. Sudah ketemu lagunya? Saya putuskan ngasih tahunya sekarang saja deh, jika anda masih belum ketemu juga lagu yang bisa membuat Suci sengsara. Lagu itu, juga penyanyinya, berasal dari Malaysia. Grup band yang membawakannya adalah Iklim. Lagunya, Suci Dalam Debu. Cape deehhh….

Pondok kok Halimun

Buat yang nunggu-nunggu cerita ini, sori, baru sekarang diterbitkan. Maklum, pengen memberi kesan terlihat sibuk (sok banget ya). Meskipun terjadinya Agustus kemarin, saya rasa masih hot juga. Apalagi untuk mereka yang suka jalan-jalan dan terutama yang terlibat langsung dalam kisah ini. Bener nggak? Kalo nggak awas, saya tunggu di perempatan!

Kenapa obyek tersebut dinamakan Pondok Halimun (PH)? Pondok kok halimun. Apa pondoknya terbuat dari halimun? Apa halimunnya suka mondok? Ato pondoknya mirip halimun? Mungkin ada pondok yang selalu diselimuti halimun? Barangkali pondoknya punya halaman penuh limun? Idih belibet banget ya? (nggak juga!) Tapi yang pasti, emang itulah yang membuat saya penasaran dan pengen nyambangin tempat itu. Dan akhirnya keinginan itu bisa terlaksana pada 4-5 Agustus 2007 kemarin.

Perjalanannya sendiri dimulai 3 Agustus. Sesuai rencana, yang pengen ikut kumpul di BEC. Kali ini sengaja berangkat sore karena mau nginep dulu di rumah Junot (Sukabumi). Jam 16.35 wib akhirnya kami berangkat. Peserta yang ikut saya, Danang, Junot, Viena serta dua temennya Ardi dan Ray.

Setelah turun dari angkot 03 di depan Hero, kami menunggu Idan dulu sebelum cabut naik angkutan setan (meskipun kami bukan gerombolan setan). Angkutan setan ato sering disingkat angset ini adalah kendaraan umum jenis Colt L300 yang pengemudinya suka ngebut gila-gilaan mirip setan, seolah semua pedal yang ada di bawah kakinya pedal gas semua. Emang setan suka ngebut ya? Tak tau lah. Begitu Idan yang tidak edan ini nyampe dari Jakarta, kami langsung naik angset ke Sukabumi. Saat itu jam 17.45 wib.

Saya lebih banyak bengong dan ndengerin obrolan mereka di angkot sambil menikmati perjalanan malam. Keuntungan jalan malam selain tidak semacet kalo siang, juga tidak panas. Jam 19.50 angset saya melewati pasar Cisaat. Ternyata dari pertigaan pasar itu, dekat kantor polisi, arah menuju Situgunung. Oo… di situ toh tempatnya Situgunung. Kata penumpang lain yang ada di angset, dari pertigaan itu ke Situgunung angkotnya hanya Rp. 2000. Cukup murah. Saya sering (nggak banget) dengar nama Situgunung tapi nggak tau di mana tempatnya. Sekarang sudah tahu, dan, tunggu kedatanganku Situgunung. I’ll visit you someday cieee…

Nggak lama kemudian angset masuk kota Sukabumi. Cisaat emang pinggiran kotanya penggemar fanatik saya Desy Ratnasari ini (bo’ong ding). Kami turun di depan gedung perkantoran bertingkat (tauk lupa namanya). Dari situ masih harus berjalan lagi melewati mesjid agung kemudian alun-alun untuk menuju depan superkampret Yogya yang dekat apotik Kimia Farma. Saya lihat jam tangan saya menunjukkan pukul 20.10 wib sebelum naik angkot Selabintana ke rumah Junot. Rumah dia memang arah ke obyek wisata itu. Dan kebun teh Selabintana merupakan salah satu jalur masuk menuju Pondok Halimun. Hah? Pondok Halimun? (*megangin kedua pipi, mulut ngangap, mata melotot, muka mupeng*). Hanya memerlukan waktu limabelas menit dan ongkos Rp. 2000 untuk sampe ke rumah Junot. Jam 20.25 wib sudah nyampe ke rumah dia. Jarak Sukabumi sampai ke Selabintana sendiri 7 km, dari Selabintana ke PH 2 km.

Kedatangan kami disambut keluarga besar Junot, teh manis panas, makanan kecil dan makan besar. Baik bener ya. Nggak ada cerita mandi, paling cuci muka doang. Sapa yang mo mandi malam-malam di daerah yang dingin. Situ mau? Rumah Junot ada di desa Selawi Tiga ato kadang disebut Kerawang. Saya nggak mau tau kenapa kok namanya bisa dua gitu (lagian sapa yang nanyain?). Setelah ngembat segala yang disuguhkan, sholat, dan ngobrol bentar, saya berangkat tidur. Badan harus fit untuk persiapan perjalanan panjang esok hari.

Paginya, kejutan menarik telah menanti. Sepiring kue tradisional dihidangkan untuk menemani hangatnya teh nasgithel. Tau nggak artinya nasgithel? Saya nggak nanya situ yang orang Eropa eh Jawa! Nasgithel itu artinya panas, manis dan kental. Sebenarnya sih teh yang disuguhkan tidak kental-kental amat. Sengaja, agar lebih mendramatisir, saya sebut aja nasgithel. Balik ke kue tradisional. Waktu saya tanya apa nama kue tersebut, ternyata eksotik bener (sebenarnya apa sih arti eksotik?) terdengar di telinga saya, d-o-d-o-n-g-k-a-l. Tampilannya juga seksi banget, putih mulus dengan semburat coklat tua (yang ternyata gula jawa) dimana-mana, ditambah dengan taburan kelapa parut yang sudah dikupas kulitnya. Hmmm… delisies maaannn. Rasanya sendiri mirip-mirip kue putu. Tapi, karena tampilannya yang menarik, kue ini poinnya setingkat lebih tinggi dan rasanya, mak nyuus.

Perut kami semua full setelah ngembat habis dodongkal (yang di kepala saya kok kemudian muncul kata dongok dan dongkol) dan dilanjutkan dengan main course sarapan yang sebenar-benarnya. Nasi dan segala lauk pauknya. Acara dilanjutkan dengan merapikan segala perbekalan, bersiap-siap berangkat ke PH.

4 Agustus 2007, jam 8.35 wib, berangkat dari rumah Junot menuju Selabintana dengan angkot. Cuma perlu lima menit untuk sampe tujuan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak bebatuan masuk ke kebun teh. Sebagaimana kebun teh yang lain, hamparan pepohonan teh menghijau yang ada di setiap ujung pandangan sungguh menyejukkan. Teriknya sinar matahari pagi tidak begitu terasa karenanya. Meskipun jalannya berkelok dan bercabang-cabang, saya nggak khawatir tersesat. Ada orang lokal yang menjadi guide saya. Ya si Junot itu. Untung ada dia. Kalo nggak, bisa jadi saya dan temen-temen yang lain akan muter-muter sampe celeng di kebun teh yang maha luas itu. Makasih Junot. Meskipun kayaknya kamu jarang mandi, tapi kamu baik hati.

Berkat pengalaman sang guide juga, perjalanan menyusuri kebun dapat diselesaikan dengan sukses. Kami sempat beberapa kali istirahat setelah jalan beberapa saat. Menikmati hijaunya pemandangan, menghirup segarnya udara pegunungan, dan mengambil gambar adalah kegiatan yang kami lakukan saat istirahat. Kapan lagi bisa memanjakan mata dengan warna hijau menyegarkan, menjejali paru-paru sepuas-puasnya dengan membuka hidung selebar-lebarnya saat menghirup oksigen yang jauh dari polusi knalpot, dan jadi selebriti dadakan meniru pose artis idola saat difoto. Di tengah kebun teh yang habis dipangkas, dan duduk di atas pohon teh yang rantingnya tajam-tajam sehingga membuat kami meringis menahan sakit. Puas dah.

Pukul 10.30 wib, berarti setelah kira-kira selama 1 jam 50 menit menyusuri kebun teh, akhirnya kami sampai di bibir hutan. Sebelum masuk ke dalamnya, kami sempatkan istirahat sambil merapikan bawaan. Perjalanan masuk hutan lebih menyenangkan lagi. Beda saat jalan di tengah kebun teh tadi, kali ini kepala kami dipayungi rimbunnya pepohonan yang menjulang. Adem rasanya. Apalagi jalannya berupa batu yang disusun rata dan rapi. Namun demikian, saya lebih senang kalo jalannya berupa tanah liat, pake becek dan bekas dikorek-korek babi hutan juga boleh.

Duapuluh lima menit kemudian sampailah di pertigaan yang ada pos penjagaan. Dari pertigaan itu kalo ke kiri menuju camping ground, yang belok kanan ke curug Cibeureum. Seperti biasa, mumpung ketemu tempat buat nge-break (istirahat), beban yang nempel terus di punggung kayak pacet segera saya turunkan. Punggung yang mulai bengkok segera saya luruskan lagi. Lumayan juga bawa-bawa carrier yang beratnya ada 15 kiloan. Setelah acara lapor dan bayar tiket masuk, kesempatan ini saya gunakan mengorek informasi dari petugas jaga. Rupanya, penyedia yang juga pengurus bumi perkemahan di PH lebih dari satu. Mereka yang ngapling-ngapling gunungnya rakyat Indonesia adalah:

1. Taman Nasional Gn. Gede-Pangrango sendiri,
2. Cipelang yang milik Perum Perhutani,
3. Kabayan yang dikelola penduduk setempat,
4. Goal Para, juga dikelola orang lokal,
5. Elang Jawa, lokal juga,
6. Bumi Perkemahan Diparda (kalo nggak salah Dinas Pariwisata Daerah deh).

Sekarang tinggal pilih mau yang mana. Cuma jangan heran kalo bingung nentuin bates-batesnya. Kami sendiri sempat diusir. Katanya tempat yang tadinya mau kami pake buat ngecamp masuk wilayah mereka. Untungnya tenda belum sempat kami bongkar dan dirikan.

Ongkos yang harus dibayar di pos jaga ada biaya berkemah Rp. 3500 /malam/orang, Rp. 3000 untuk ke curug Cibeureum, dan Rp. 4500 untuk paket combo (camping semalem dan ke curug). Karena kami ingin camping dan lihat curug juga, maka paket combo itulah yang kami bayar. Setelah uang dibayarkan, baru saya mikir kenapa mesti milih combo ya. Emang ketahuan apa kalo misalnya hanya bayar untuk tiket curug saja tanpa bayar yang untuk berkemah? Untungnya bisikan setan itu tidak saya layani, sebab ternyata paginya setan eh petugasnya lewat dekat tempat kami berkemah.

Di pos itu kami bertemu juga dengan rombongan lain dari Jakarta. Nggak tau Jakarta mana. Dan kami foto bareng-bareng di depan pos buat kenangan. Lumayan, nambah kenalan. Sapa tahu nanti pas perlu nyari utangan, sudah ada calon yang bisa dijadiin korban. Setelah jepret sana jepret sini, cari pose yang pas, acara kemudian dilanjutkan dengan jalan ke curug Cibeureum. Agar tidak terlalu berat, semua barang kecuali kamera dan tas pinggang isi uang yang tidak seberapa dititipkan di pos. Berangkat ke curug tepat jam 10.55 wib.

Jalanan ke curug sama seperti tadi saat menuju ke pos, bebatuan disusun rapi, berkelok, dan naik turun. Cukuplah buat ngeluarin keringat. Masih mending beban berat sudah ditinggal di pos sehingga langkah kaki ini agak cepat tapi santai. Jam 11.25 wib curug sudah di depan mata. Curug itu terlihat menjulang. Ketinggiannya mencapai 15 meter. Tempat di sekitar jatuhnya air diselimuti uap air yang terbentuk dari air curug yang terhembus angin. Akibatnya, udara jadi terasa dingin. Pengunjung yang datang pada mandi, termasuk rombongan mahasiswa IPDN, seolah-olah tidak merasakan dinginnya air. Rupanya, kecuali saya dan Viena, yang lain juga tergoda untuk masuk ke air mencoba kesaktian dengan menyerahkan kepala dan punggungnya kejatuhan air terjun. Saya sendiri lebih memilih menikmati cilok (aci dicolok) isi daging ayam dan ikan, makanan mirip baso, yang hangat dan baunya sangat merangsang. Ada penjualnya di dekat situ yang sabar tapi pasti menunggu calon pembeli. Biarin aja yang lain berdingin-dingin dengan main air, saya berhangat-hangat dengan menyantap cilok yang baru diangkat dari panci.

Pulang dari curug, nggak lupa kami berfoto-fotoan sepanjang jalan. Harap maklum saja, sebagian (ato semua?) dari kami termasuk golongan narsis. Sebagai orang yang peduli lingkungan, kami juga coba memunguti sampah-sampah yang dibuang sembarangan dan dikumpulkan di tong sampah dekat pos penjagaan. Saat mengumpulkan sampah itu, saya nemu buah yang sudah kering sebesar buah rambutan dan bentuknya juga mirip. Bedanya adalah rambutnya keras dan tajam banget. Karena penasaran, saya bawa buah duri landak itu. Saat sampe di pos saya tanyakan ke petugas dan namanya ternyata buah saninten. Konon buah itu yang dikonsumsi sebagai pengganti beras oleh orang-orang Indonesia yang lari ke dalam hutan saat penjajahan Jepang. Katanya sih isinya mirip sagu. Sayangnya buah saninten yang saya bawa sudah kering dan tidak ada isinya.

Sampai di pos lagi jam 13.00 wib. Barang-barang yang tadinya dititipkan, kami ambil kembali. Selesai beres-beres dan setelah istirahat sebentar, juga tidak lupa mengucapkan terima kasih, kami jalan lagi menuju camping ground. Sekarang, jalur yang ke arah kiri yang diambil. Melalui pemilahan dan pemilihan tempat, dua puluh menit kemudian kami putuskan mendirikan tenda di pinggir sungai dekat camping ground III. Sebenarnya yang terjadi kenapa akhirnya kami memilih tempat itu adalah karena di tempat sebelumnya kami mendirikan tenda ketemu dengan teman lama. Pacet. Meskipun cuma dua ekor yang kelihatan, tapi itu sudah cukup untuk memutuskan pindah tempat. Saya nggak rela dan nggak ikhlas harus donor darah di tengah hutan. Bukan masalah takut terhadap pacet, tapi geli ato ada ungkapan yang pas dalam bahasa Sunda, geuleuh, itu lho. Udah kulitnya basah mengkilat, berlendir, bisa memanjang-memendek, ngisep darah lagi.

Pembagian tugas dimulai. Sebagian nyari kayu bakar. Satu-satunya cewek, Viena, nyiapin makan. Sebagian yang lain, termasuk saya, masang tenda. Menjelang petang, semua sudah siap. Kayu bakar untuk api unggun nanti malam sudah tersedia. Mi instan pengganjal perut sudah siap. Dua tenda juga sudah berdiri semua. Tinggal apa lagi? Kami main kartu untuk membunuh waktu. Malam yang senyap kami habiskan dengan bersenang-senang. Badan yang jadi bau sangit karena ngangkangin api unggun nggak kami pedulikan. Kunang-kunang juga nggak peduli tampaknya. Mereka berterbangan di sekeliling tenda. Jika langit di atas kami dihiasi dengan taburan bintang, pekatnya malam di sekeliling tenda juga penuh dengan kerlap-kerlip bintang berujud kunang-kunang. Alunan musik dari gemericik air sungai di samping tenda menjadi latar indahnya malam bertabur bintang dan kunang-kunang.

5 Agustus 2007 pagi menjelang. Jam baru menunjukkan pukul 4.30 wib. Udara masih dingin. Saya keluar tenda dan berkeliling di sekitarnya untuk mengumpulkan kayu bakar. Bara sisa api unggun semalam masih ada. Untuk menjadikannya api, saya perlu kayu bakar lagi. Rupanya hangatnya api menarik orang-orang yang masih tidur pada bangun dan mendekat mengelilingi api unggun. Dengan mata yang sipit kurang tidur dan muka kucel, kami mengadakan upacara menghangatkan badan.

Sarapan pagi sudah tersaji. Biasa, menu wajib saat camping, mi instan. Kalo sekedar ngganjal perut, cukuplah dengan sepiring mi, sekerat roti, dan secangkir teh nasgithel. Hari ini kami mau pulang. Sudah puas semaleman ngeringkuk dalam sleeping bag yang hangat dan meskipun tanpa mimpi indah. Tenda dan segala macemnya diberesin. Semuanya masuk ke dalam tempatnya masing-masing. Backpack dan carrier sudah gendut lagi terisi barang-barang yang harus dibawa pulang. Kami, kayaknya sudah menjadi ritual, foto-fotoan dulu sebelum meninggalkan lokasi.

Jam 10.20 wib kami berangkat pulang. Kami tidak balik lagi ke jalan yang kemarin dilewati. Sekarang ke arah pintu gerbang PH. Dua puluh lima menit kemudian kami sudah sampai di pintu gerbang. Dari situ mesti jalan lagi sekitar dua/tiga menit untuk sampai ke lapangan parkir. Banyak anak-anak smp bergerombol menunggu mobil jemputan. Rupanya semalem mereka mengadakan persami (perkemahan Sabtu malam Minggu) dan sekarang waktunya pulang. Banyak angkot warna merah tapi mereka sudah dipesan oleh anak-anak smp itu. Daripada nunggu yang nggak pasti, kami putuskan untuk jalan. Kembali kami jalan di tengah kebun teh, namun sekarang jalannya sudah diaspal. Jalur itu emang untuk kendaraan yang mau ke PH. Kami istirahat di dekat pos jaga yang menyetop kendaraan yang mau masuk PH, setelah jalan selama satu jam.

Nggak lama kemudian ada mobil bak terbuka yang menurunkan orang-orang kampung yang akan main sepak bola. Entah dimana lapangannya. Junot melobi sopirnya dan, dia mau nganterin kami sampai ke pertigaan jalan yang dilewati angkot Selabintana-Sukabumi, yang dikenal dengan pertigaan Warnasari, Nyang Kokot (mungkin nama orang di dekat pertigaan itu), atau belokan Warnasari. Kami saweran seribuan untuk diberikan pak sopir sebagai bentuk terima kasih karena telah bersedia kami tumpangi (mobilnya maksudnya). Dari situ kemudian nyambung angkot jurusan Sukabumi. Junot turun dekat rumahnya dan kami bablas ke Sukabumi kota yang selanjutnya disambung dengan angset menuju Bogor. Tapi tunggu bentar, sebelum pulang ke Bogor, kami melampiaskan dendam dulu di restoran Padang dekat alun-alun dan sholat lohor di masjid agung.

Jam 13.00 wib kami naik angset, jam 15.10 wib tiba dengan selamat di terminal Baranangsiang. Bogoooorrrrrrrrrr…. wie hom.