Ini kali kedua saya ke Sukabumi. Yang pertama adalah saat akan camping ke Pondok Halimun beberapa waktu yang lalu. Perjalanan pertama itu pernah saya tulis di blog ini.

Saya katakan ke Sukabumi dalam artian turun dan jalan-jalan di kotanya. Bila Cuma lewat sih sudah berkali-kali, seperti saat mau ke Sumedang beberapa waktu yang lalu. Perjalanan kedua ini memang sudah direncanakan jauh-jauh hari bersama teman-teman sekantor dan dimatangkan kembali saat mereka main ke rumah. Ternyata yang akhirnya bisa berangkat adalah saya dan keluarga (Tami, Al, Rey), Fajar, Widy, dan Yuli. Yuli sendiri baru nyusul esok harinya. Kami ingin main ke rumah Suci, salah satu teman kerja, yang di Sukabumi. Rumah di Sukabumi ini sebenarnya rumah orangtuanya. Suci sendiri dan suaminya, Adi, tinggal di Bogor. Hampir setiap akhir pekan mereka berdua ini naik motor Bogor-Sukabumi menengok rumah orangtuanya. Luar biasa… staminanya.

19 April 2008 sebelum berangkat ke Sukabumi, saya mengikuti acara wisuda di Gedung Alumni IPB Bogor. Biasa, acara rutin tahunan yang hampir selalu saya ikuti. Saya, mantan pacar, dan kedua junior saya berangkat bersama dari rumah. Meskipun molor setengah jam, yang harusnya jam 07.00 jadi 07.30 pagi, saat sampai di gedung, acara belum dimulai. Dua junior saya bagi dengan mantar pacar. Yang kecil ikut saya, kakaknya ikut rapat di kantor emaknya. Selesai rapat, mereka menyusul dan bergabung ke Gedung Alumni.

Setelah acara wisuda keenam dari anak-anak BEC angkatan 10 selesai, saya sekeluarga dan Widy ikut rombongan yang akan menengok gedung baru BEC di Cimahpar. Tidak banyak yang perlu saya ceritakan perihal gedung baru ini. Gedung yang bila sudah jadi nanti pasti megah itu memiliki tiga lantai yang dilengkapi dengan fasilitas pendidikan modern. Saya akan menulis khusus tentang gedung baru ini someday, tapi nggak janji lho. Sebelum ke Cimahpar saya sudah janjian dengan mereka yang akan berangkat ke Sukabumi tapi tidak ikut ke Cimahpar untuk kumpul lagi di Gedung Alumni jam 13.00. Kami akan berangkat naik angset (angkutan setan), julukan transportasi jenis Colt L300 tujuan Cianjur atau Sukabumi, yang suka ngetem di sebelah gedung itu.

Ternyata jam 12.30 rombongan yang menengok gedung baru sudah kembali lagi di Gedung Alumni. Saya sempatkan sholat lohor di masjid belakang Gedung Alumni. Dari situ kemudian balik lagi ke tempat pertemuan tetapi ternyata belum ada siapa-siapa. Sambil menunggu, diputuskan makan siang dulu di warung tenda yang ada di sepanjang jalan samping Gedung Alumni. Ternyata Suci dan Adi suaminya ada di dekat warung tempat rombongan saya makan. Mereka selesai makan siang di warung dekat-dekat situ juga sambil menunggu kami datang dari Cimahpar. Rencananya mereka akan berangkat bareng dengan kami naik angset sekaligus menjadi pemandu menuju rumah Sukabumi. Untuk sementara motor yang biasa mereka pakai dititipkan dulu di rumah kakaknya Adi. Kami kemudian menunggu Fajar yang belum datang. Tinggal dia saja yang belum kelihatan.

Akhirnya rombongan komplit dan berangkat ke Sukabumi jam 13.55. Seperti biasa bila naik angset, jantung ini harus dipersiapkan agar tidak copot. Namanya juga angset, pasti kayak kesetanan jalannya. Tetapi saat itu agak aneh, mungkin karena tidak begitu memperhatikan, rasanya mobil yang saya naiki itu tidak seliar seperti sebelum-sebelumnya. Apa karena sudah beberapa kali saya naik angset sehingga jadi terbiasa ya? Justru yang saya rasakan adalah lamanya perjalanan yang menyiksa yang disebabkan macet. Perjalanan yang harusnya ditempuh dua jam molor menjadi tiga jam. Siksaan lain selain lama adalah penumpangnya penuh dan saya tidak bisa bergerak begitu banyak karena tergencet tas besar yang jonggrok di pangkuan saya. Sampai-sampai saya bilang ke teman-teman, “Bujurna leungit.” Pantat ini rasanya jadi tepos, berkurang sekian senti.

Cobaan itu akhirnya lewat. Jam 17.10 angset yang kami bayar per penumpang Rp.9.000 sampai di Sukabumi. Kami turun di dekat apotik Kimia Farma. Karena penumpang diturunkan di tempat itu, bukan di alun-alun, maka sore itu kami harus olah raga sedikit menuju angkutan yang akan membawa kami ke rumah orangtua Suci. Bukannya sedih, kami sangat antusias ketika harus jalan kaki menuju pangkalan angkot itu. Itu artinya, kami bisa menikmati sore dan kota Sukabumi. Dalam perjalanan kedua saya ke Sukabumi ini saya menyaksikan ramainya orang-orang di jalan-jalan yang saya lewati. Di Jl. A. Yani yang kata Suci merupakan pusat kotanya Sukabumi, manusia seperti ditumpahkan sore itu. Saya tidak tahu apakah sehari-harinya seperti itu atau karena saat itu menjelang malam minggu. Begitu juga Jl. Kapten Harun Kabir. Sepanjang jalan dipadati dengan orang-orang yang saya tidak tahu dari mana saja dan mau ke mana saja. Sore itu memang cerah sehingga mendukung sekali untuk plesiran di tengah kota.

Pangkalan angkot yang akan kami naiki ada di Jl. Kapten Harun Kabir. Saat itu sudah jam 17.30, dan itu ternyata batas akhir dari angkot yang akan menuju ke arah rumah orangtua Suci. Bila ketinggalan maka harus naik angkot lain jurusan kemudian disambung dengan ojek. Untung saja kami masih disisakan satu angkot yang langsung penuh ketika rombongan orang-orang Bogor ini naik. Untuk mencapai rumah Suci yang ada di desa Sindangsari, Lembur Situ, angkot yang digunakan no.21 jurusan Ramayana-Cicadas. Orang setempat biasa menyebut angkot jurusan ini angkot cicadasan. Tarif normalnya, Rp.2.500. Tetapi saat saya kasih sepuluh ribu untuk tiga orang, kembalian yang diberikan empat ribu, berarti saya hanya dikenakan tarif Rp.2.000 per orang. Padahal teman-teman yang lain membayar Rp.2.500. Mungkin sopirnya setelah melihat tampang saya jadi jatuh belas kasihannya dan sambil menyerahkan kembalian dia berdoa dalam hati, “Mudah-mudahan orang miskin ini cepat kaya.”

Hari sudah gelap ketika kami turun dari angkot. Desa Sindangsari begitu tenang. Listrik sudah masuk di desa ini tetapi tidak ada penerangan jalan, yang ada hanya cahaya lampu yang berasal dari teras rumah-rumah penduduk. Dengan demikian, jalan rayanya sendiri jadi gelap. Jalan yang gelap dan jarangnya motor atau mobil yang lewat menciptakan suasana yang tenang damai di malam itu. Ditambah lagi dengan udara yang lebih dingin bila dibandingkan udara Bogor, cocok sekali untuk bersantai. Kami disambut oleh mamanya Suci. Sedangkan adik perempuannya yang baru datang dari Bandung, Agis, dan papanya menyusul menyalami setelah kami sholat maghrib, mandi dan makan malam.

Kami disediakan satu rumah sendiri untuk tidur yang bersebelahan selisih satu rumah dengan rumah induk, rumah kontrakan dua kamar tidur yang kebetulan saat itu sedang tidak ada yang mengisi. Sedangkan Suci dan suaminya tidur di rumah induk. Dengan demikian, privasi tamu maupun tuan rumah tetap bisa dijaga. Selesai mandi dan sholat, kami kembali ke rumah induk untuk makan malam yang sudah menanti. Disamping lapar, udara yang dingin membuat makan jadi lahap. Selesai makan malam kemudian disambung dengan nyanyi-nyanyi dan malam itu saya tutup dengan kekalahan main catur satu set dengan suami Suci.

Suci sekeluarga (mama, papa, dan adiknya) termasuk Adi, suaminya, merupakan keluarga yang luar biasa. Keluarga yang memiliki talenta. Talenta yang merupakan impian saya yang tidak kesampaian. Mereka ini keluarga penyanyi. Semua memiliki suara kelas satu. Makanya tidak heran bila mereka memiliki alat musik lengkap dan studio musik yang juga disewakan. Yang namanya penghargaan dari berbagai kejuaraan, berderet di atas bufet di ruang keluarga. Adiknya Suci, Agis, merupakan penyanyi yang sudah terkenal di Sukabumi. Penampilan dan suaranya sering muncul di tv lokal Sukabumi, juga pernah di beberapa stasiun televisi lain. Suaranya direkam untuk kepentingan pemerintah daerah Sukabumi. Agis ini juga pernah menjadi salah satu dari 24 peserta Indonesian Idol yang masuk babak karantina. Bila anda melihat penampilan penyanyi muda dengan nama Agis di layar kaca, bisa jadi dia itulah artis dari generasi setelah Desy Ratnasari yang berasal dari Sindangsari, Lembur Situ, Sukabumi. Namun sayangnya selama saya ada di rumah mereka, ada sebuah lagu yang tidak kedengaran dinyanyikan oleh mereka. Saya tahu sebabnya kenapa. Bila lagu itu dinyanyikan Suci akan sesak nafas. Tidak oleh Suci sendiri, orang lainpun yang nyanyi, tetap Suci yang megap-megap. Anda bisa tebak lagu apa atau siapa penyanyinya? Bila tidak, ya nanti akan saya kasih tahu bila ketemu.

Jam 4 pagi saya dengar alarm di hp Fajar berbunyi, namun saya tidak terus bangun. Mata yang sempat melek sebentar ini saya pejamkan lagi. Jam 5 gantian alarm hp saya bunyi. Inipun tidak terus membuat saya bangun. Tahap yang saya lalui adalah mata saya melekkan dulu, ngumpulin nyawa, baru bangun ambil air wudlu dan kemudian sholat subuh. Dua kamar di rumah yang kami tinggali, satu kamar diisi oleh saya, Al, dan Fajar. Sedangkan kamar satunya isinya Tami, Rey, dan Widy. Pagi itu saya sempat jalan-jalan bersama Tami menikmati udara pagi Sindangsari. Saya lihat ada penjual angkringan di pinggir jalan sedang melayani pembeli yang setelah saya dekati ternyata menjual makanan tradisional dodongkal. Dodongkal yang pernah mengesankan saya saat kunjungan pertama saya di Sukabumi ini ternyata bentuknya seperti tumpeng. Tami bilang ingin beli tetapi saya katakan tidak usah karena Suci sudah janji akan menyuguhi kue yang memikat itu. Dan ternyata benar. Setelah sampai kembali di rumah dari jalan pagi, saya sms Suci yang tadi malam tidak tidur serumah dengan kami. Sms tak tahu diri yang memberitakan bahwa saya sudah siap menyantap dodongkal.

Tidak lama setelah sms itu saya kirim, Suci muncul dengan makanan melimpah. Benar-benar keterlaluan. Bukan hanya dodongkal yang utuh satu gunung yang seharusnya bisa untuk 15 orang yang disajikan tetapi juga pisang goreng, nasi uduk, dan makanan yang namanya pernah saya dengar namun baru pertama kalinya ini saya lihat, gongsir. Gongsir (membaca ‘o’nya seperti o dalam kata bolong) yang merupakan singkatan dari ‘jagong disisir’ ini terbuat dari sisiran jagung rebus yang ditaburi parutan kelapa dan gula pasir. Hati-hati bila mengatakan singkatannya gongsir. Jangan salah menyebut dengan jig eh bagong disisir. Di daerah lain mungkin punya nama berbeda untuk makanan seperti ini, contohnya di sebagian daerah di Jawa Tengah gongsir ini disebut grontol. Dengan banyaknya makanan yang disajikan ini, padahal singkong dan ubi goreng yang tadi malam masih tersisa dua piring, perut ini jadi protes. Pengennya berhenti makan tetapi sayang bila melihat makanan yang ada masih banyak. Beugah deh jadinya.

Pagi itu rencananya mau piknik ke Selabintana, tetapi masih menunggu kedatangan Yuli dulu. Dia belum lama berselang memberi kabar jadi menyusul ke Sukabumi. Dari Bogor, dia naik angset. Setelah angset yang dia tumpangi sampai Cibadak, dia mengirim sms lagi memberitakan petualangannya dikocok-kocok di dalam angset yang ditumpanginya. Dia merasa coltlag (karena yang dinaiki mobil jenis Colt bukan pesawat terbang, jadi tidak mengalami jetlag). Agar tidak terasa dikocok-kocok kenapa tidak nyanyi lagunya Inul saja Yul? Para penontooon, bapak-bapak ibu-ibu semua yang ada di sini… tarik maaang… Yuli kemudian dijemput dengan sedan merah oleh Adi, Suci, dan Fajar. Eh, ngomong-ngomong, sudah ketemu belum lagu yang bila dinyanyikan membuat Suci megap-megap? Bila belum, ini saya kasih clue-nya. Lagu itu berasal dari Malaysia. Sudah itu saja. Jika masih bingung juga, ya memang kita harus ketemu. Kita? Lu kale!

Berangkatnya ke Selabintana akhirnya tidak pagi lagi tapi menjelang tengah hari, sekitar jam 11.30. Meskipun demikian perjalanannya jadi mengasikkan. Kami merasa benar-benar menjadi orang Indonesia tulen dan menyatu dengan alam Sukabumi. Tahu sebabnya kenapa? Karena kami naik open cap, naik mobil bak terbuka. Suci sebelumnya merasa tidak enak menawarkan alternatif angkutan itu untuk pergi ke obyek wisata terkenal di kota Sukabumi. Bagi saya, terutama, justru itulah yang lebih mengasikkan dibandingkan naik mobil tertutup meskipun mewah sekalipun. Tidak ada tantangannya. Bila naik mobil bak terbuka, apalagi saat itu gerimis, jadi ajang ketahanan stamina. Kira-kira jadi masuk angin tidak sesudahnya, dan alhamdulillah ternyata tidak.

Gerimis mengiringi menyambut kami di jalan. Meskipun bawa payung, tetap saja angin dan sebagian air hujan membasahi kami. Masih mending tidak hujan gede. Saat sampai di Selabintana kami menggelar tikar yang kami bawa di bawah pohon. Sayangnya karena gerimis tidak berhenti dan makin membesar, kami kemudian pindah ke teras maisonet (penginapan) yang ada di dekat tempat itu. Rame-rame kami makan siang sambil menikmati derasnya hujan. Kami tidak bisa kemana-mana. Paling-paling ke toilet atau mushola di belakang maisonet itu. Hanya Widy yang menyempatkan jalan-jalan sebentar di lokasi yang mirip Kebun Raya Bogor itu.

Kunjungan ke Selabintana ini merupakan pertama kalinya buat kami semua yang dari Bogor. Sebenarnya tempatnya menyenangkan dengan udara yang sejuk dan hijau serta rindangnya pepohonan yang ada di komplek Selabintana. Sayangnya kami hanya bisa menikmati dari teras penginapan karena hujan. Sampai kami putuskan pulang jam 14.30, hujan masih belum berhenti meskipun sudah tidak besar lagi. Kembali kami hujan-hujanan dalam perjalanan pulang menuju Sindangsari. Sampai di rumah, ganti baju, sholat asar kemudian siap-siap balik ke Bogor. Kami diantar, masih diiringi dengan hujan, ke Sukabumi kota dengan sedan dan mobil bak terbuka tapi duduknya di sebelah sopir untuk naik angset menuju Bogor. Jam 16.30 kami sudah ada di atas angset. Hari itu, 20 April 2008, di desa Sindangsari, Lembur Situ, Sukabumi yang di layar hp saya kadang terbaca Cibungur-Sukabumi, Harempoy, atau Gunung Puyuh hati kami tertinggal.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya tanya sekali lagi kepada anda. Sudah ketemu lagunya? Saya putuskan ngasih tahunya sekarang saja deh, jika anda masih belum ketemu juga lagu yang bisa membuat Suci sengsara. Lagu itu, juga penyanyinya, berasal dari Malaysia. Grup band yang membawakannya adalah Iklim. Lagunya, Suci Dalam Debu. Cape deehhh….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here