stop iklan tong fangStop iklan Tong Fang. Itu saya ucapkan juga setelah membaca tulisan dari dua sahabat, Mataharitimoer dan Gunung Kelir. Bukan hanya saya lafalkan, bahkan saya tuliskan seperti yang sedang Anda baca sekarang.

Karena saya jarang nonton televisi, saya tidak ngeh bila saat ini ternyata sedang ramai iklan klinik pengobatan alternatif bernama Tong Fang. Jika saya kemudian tahu tentang klinik tersebut, itu disebabkan seringnya saya baca kicauan di linimasa yang mengolok-olok perihal klinik Tong Fang. Dikarenakan kicauan itu banyak yang mengundang senyum, saya jadi penasaran sebenarnya Tong Fang itu apa dan benar-benar ada atau tidak sih. Yang tadinya saya pikir hanya sekadar kicauan bercanda sebagaimana biasa dilakukan para tweep, rupanya klinik Tong Fang memang ada dan malah iklannya marak di berbagai televisi.

Sebuah produk yang diiklankan di televisi apalagi sampai berulang-ulang di slot waktu tayang premium dan di banyak stasiun televisi tentu butuh biaya yang tidak murah. Saya tahu itu karena pernah bersinggungan dengan perihal pemasangan iklan. Dulu ketika saya masih bekerja di bagian marketing sebuah perusahaan telekomunikasi, saya sering berurusan dengan agen periklanan untuk penayangan iklan di berbagai media termasuk televisi. Dari pekerjaan yang saya geluti itu saya jadi tahu bahwa biaya iklan televisi yang harus dibayar hitungannya bukan didasarkan menit apalagi jumlah jam penayangan tetapi detik. Bisa Anda kira-kira berapa ratus juta uang yang harus dikeluarkan Tong Fang untuk membiayai iklannya.

Jika Tong Fang berani mengeluarkan dana ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk iklannya di berbagai stasiun televisi dan di jam tayang premium, itu urusan dia. Yang menjadi masalah adalah ketika materi yang dia iklankan dan praktik klinik yang dijalankan tidak etis dan terindikasi melanggar Peraturan Menteri Kesehatan No.1787/MENKES/PER/XII/2010 Pasal 5. Ada 15 hal yang perlu diperhatikan dalam iklan dan/atau publikasi pelayanan kesehatan. Tulisan di blog Mataharitimoer menjelaskan tentang itu.

Yang juga mengherankan adalah terus ditayangkannya iklan tersebut meskipun Badan Pengawas Iklan sudah mengajukan komplain ke KPI, KPI sendiri sudah mengirimkan teguran ke seluruh televisi yang menayangkan iklan tersebut, IDI menyatakan keberatan, dan Kementerian Kesehatan sudah menegur sebagaimana yang dikicaukan @anjarisme di Twitter dengan hashtag #StopIklanTongFang. Bagi saya itu tak mengherankan. Negara dengan pemerintah yang tidak tegas, presiden yang lebih suka menyanyi dan curhat, dan korupsi yang terjadi di semua lini ini memungkinkan itu terjadi. Jika argumen yang diberikan pihak televisi, misalnya, adalah keterikatan pada kontrak iklan dengan pihak pemasang iklan, itu hanya alasan bodoh yang dicari-cari. Bagaimanapun juga, uang lebih nikmat. Regulator korup sudah pasti juga merasakan itu.

Jadi, apa yang perlu kita lakukan? Kampanyekan penolakan terhadap praktek iklan tidak sehat tersebut melalui tulisan di blog, kicauan di Twitter dan media sosial lainnya. Katakan: stop iklan Tong Fang. Jika iklan tersebut tetap melenggang dengan santainya di antara tayangan televisi di dalam ruang keluarga kita, itulah bukti lain betapa parahnya orang-orang pemerintah menjalankan negeri ini.

Dulu saya tidak tahu Tong Fang. Setelah membaca tulisan para blogger dan kicauan para tweep, saya langsung enek. Terima kasih Tong Fang.

Sumber gambar: di sini

 

8 COMMENTS

  1. Terlepas dari praktik kliniknya yang tidak etis , saya justru berdecak kagum akan marketingnya yang membuat masyarakat twitterland “mungkin hanya” mengganggap tweet2 mereka perihal Tong Fang adalah lelucon belaka, tapi dari sisi marketing itu sudah jadi perpanjangan marketing gratis 😀

  2. @anjarisme: sama-sama, Mas. 😉 Komentarnya tidak dimoderasi, kok. Nggak tahu kenapa belakangan ini komentar yang datang suka masuk ke keranjang spam. ;|

  3. mudah mudahan internetsehat nggak karena berobat ke klinik tongpyang hahahaha.
    woh dulu pernah menangani masalah iklan waktu di marketing wah rupanya jago marketing juga boleh dong ilmunya di bagi

  4. Mungkin presiden dan pejabat pemerintah jadi pelanggan klinik sejenis, makanya jadi lemot (lemah otak) dan lemak (lemah bertindak)
    Makasih tongpyankkk :))

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here