smartphone stupid userKasarnya, smartphone diciptakan untuk stupid user. Telepon pintar ada untuk para pengguna bodoh, agar mereka menjadi pintar, memudahkan segala urusan dalam hidup ini. Betul begitu? Saya menjawab tidak. Saya merasa, saya telah dibodohi telepon pintar, Dan, hati-hati, jangan-jangan Anda juga.

Bila saya mengatakan telepon pintar tidak membuat penggunanya ikut pintar, hal ini tentu saja tidak bisa saya berlakukan ke semua orang. Saya tak mungkin nggebyah uyah, menyamaratakan. Yang saya tuliskan ini sifatnya subjektif. Saya merasa menjadi bodoh dan akan semakin bodoh bila terus menerus bergantung pada telepon pintar. Kebodohan itu terjadi karena telepon pintar membuat saya seperti pecandu narkoba, sakau bila tak bersentuhan dengannya untuk beberapa saat. Saya bagai penenggak miras, sering mabuk dan lupa diri. Atau mirip kolektor pustun, kelepek-kelepek bila kesenggol pustun montok. Otak waras langsung hilang. Bengong dan bego dibuatnya. πŸ˜€

Telepon pintar semakin ke sini semakin canggih. Itu pasti! Semua fasilitas disediakan untuk memudahkan hidup penggunanya tapi tidak bagi saya. Setidaknya untuk fasilitas tertentu. Kemudahan itu seperti pisau bermata dua. Fasilitas untuk bersosialisasi semacam Twitter, WhatsApp, Facebook, Youtube, Path, Instagram, dan lain-lain memang menggampangkan kita untuk bertegur sapa melalui teks, gambar, maupun suara. Di sisi lain, saya dibuat kesulitan olehnya. Saya seperti kerbau dicocok hidungnya saat berhadapan dengan media sosial tersebut. Tak berdaya untuk berkehendak sendiri. Seperti tikus terperangkap lem, susah sekali lepas. Akibatnya, kegiatan lain jadi terlantar. Menunda pekerjaan jadi mudah sekali dilakukan. Bila ini tidak dihentikan, atau setidaknya dikontrol, akibatnya bisa runyam.

Seorang teman pernah memberi jalan keluar menghadapi perangkap media sosial ini. Ketika saya memutuskan untuk berhenti menggunakannya, teman saya berkata, β€œTak perlu berhenti, dikontrol saja kapan kita memakainya.” Saran yang bagus dan masuk akal. Semudah itu memang untuk bisa memanfaatkan media sosial tanpa harus mengalami ketergantungan. Dikontrol! Tidak salah apa yang disarankan oleh teman saya itu. Masalahnya adalah, tidak semudah itu saya bisa mengontrol. Yang sering terjadi justru sebaliknya, sayalah yang dikendalikan media sosial. Seperti yang saya tuliskan di atas, saya seperti pengguna narkoba, peminum miras, dan pecandu pustun bila sudah bersentuhan dengan Twitter, misalnya. Meskipun saran teman saya itu manjur, saya tak mempraktekkannya. Ada cara lain yang saya lakukan.

Prinsipnya sederhana. Kita mengontrol karena ada yang harus dikontrol. Jika yang harus dikontrol itu tidak ada maka kita tak perlu mengontrol. Begitu, kan? Bila media sosial di telepon pintar masih ada, kita tentu saja harus mengendalikannya. Namun bila media sosial itu kita hilangkan dari telepon pintar, kita tidak perlu mengontrol dalam pemakaiannya. Seekstrim itukah? Ya, ini yang saya lakukan. Saya tidak mau dikendalikan media sosial karena ketidakmampuan saya mengontrolnya. Masak kita kalah sama telepon? Itulah sebabnya, jika saat ini Anda jarang melihat saya muncul di galur waktu Twitter atau di dinding Facebook, itu karena saya memutuskan untuk tidak menggunakannya sampai waktu yang tidak terbatas. Suatu saat mungkin saya akan kembali, atau bisa jadi sesekali saya akan kembali. Akan terputuskah tali silaturahim kita? Tentu saja tidak! Toh sebelum ada mereka, kita sudah berhubungan. Kita baik-baik saja tanpa mereka. Memang tidak semudah, semurah, sesering, dan seintens di media sosial, tapi bukan berarti tak bisa, kan? Masih ada telepon dan SMS yang bisa kita gunakan. Blog ini juga bisa kita pakai. Atau kita bisa bertatap muka langsung di #KandangKambing sambil ngopi atau di mana pun tempat yang Anda inginkan. Bila memungkinkan, saya akan datang.

Bila saya merasa telepon pintar membuat saya bodoh, bukan karena teleponnya yang bodoh tetapi karena saya bodoh menyikapi penggunaannya. Saya sering lupa diri jika sudah menggunakan media sosial seperti Twitter. Meski akun saya @wkf2010 masih aktif, saya akan mematisurikannya selama saya mau. Selain Twitter, nasib yang sama juga akan menimpa media sosial lain. Saat ini saya akan memberi waktu lebih banyak untuk dua kegiatan yang juga menjadi hobi saya yaitu membaca dan menulis. Tentu saja saya masih menggunakan telepon pintar saya. Namun yang saya pasang adalah aplikasi untuk ngeblog, membaca ebook, dan kamus baik bahasa Indonesia maupun Inggris.

Itulah kontrol yang bisa saya lakukan terhadap media sosial. Bukan mengontrol karena dia ada, tapi mengendalikan keberadaaannya. Dengan menghilangkannya, saya tidak perlu lagi mengontrol. Hahaha… Saya tidak mau jadi stupid user karena smartphone. Anda mungkin punya cara berbeda dari saya. πŸ˜‰

Sumber gambar: di sini

24 COMMENTS

  1. Cara mudahnya kalau banyak kegiatan yang terbengkalai karena kebanyakan bersocial media adalah mencari pekerjaan di bidang social media misalnya menjadi buzzz… (keyboardku macet seketika, komentarku terputus di sini)…

  2. buat guru, ponsel pintar tentu membantu untuk tugas2 di sekolah dan proses pembelajaran, nah bagi yg tidak butuh teknologi semacam ini paling parah, sebatas buat gaya2an, sosmed sampah alias galau dan alay, habis2in duit ortu yg kaya raya.

  3. Sebuah kesadaran yang muncul tiba-tiba dari seorang manusia yang merasa tergila-gila dengan apa yang sudah diciptakannya. Modernitas, teknologiisme dan segala bentuk industri massifnya sudah sejak lama dikukuhkan sebagai halusinasi yang tak pernah henti untuk menstimulasi hasrat. Bahkan hingga meraksuki alam bawah sadar. Oleh karenanya banyak yang mengatakan bahwa teknologi itu sudah menjadi bentuk agama baru dengan tata cara peribadatannya bagi manusia modern.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here