Sintesis: Generalist, Crosser, Tricker, Connector, DetectorBerawal dari ketidakpatuhan seorang teman, saya belajar banyak. Kok bisa? Ketidakpatuhan seperti apa yang bisa berakibat positif seperti itu?

Begini ceritanya. Belum lama seorang teman mengirimi sebuah buku tulisan Ippho Santosa PhG berjudul 13 Wasiat Terlarang! Dahsyat Dengan Otak Kanan. Dari judulnya sudah ketahuan buku itu pro mereka yang menggunakan otak kanan. Nama pengarang itu saya sudah pernah lihat dan dengar. Bukunya selain yang saya sebutkan itu saya juga tahu. Seorang teman bahkan mengirim undangan di akun Facebook saya untuk bergabung dalam grupnya Ippho. Meskipun saya abaikan untuk sekian lama, akhirnya saya penuhi juga undangan bergabung tersebut. Nah, di bawah judul buku yang ada di halaman dalam, terdapat tulisan, ”Sekiranya Anda memetik manfaat dari buku ini, silakan Anda pinjamkan buku ini kepada sahabat-sahabat terbaik Anda, agar mereka mendapat manfaat yang sama.” Di situlah letak ketidakpatuhan teman saya. Jelas dalam kalimat itu tertulis ’pinjamkan’ namun yang dilakukan teman saya adalah memberikan buku tersebut, bukan meminjamkan.

Namun sudahlah, meminjamkan dan memberikan memang berbeda arti. Hanya perbedaan kosakata dan makna saja. Toh hasilnya sama, yaitu saya jadi bisa membaca. Dan untuk itu, saya harus mengucapkan terima kasih atas pemberian yang begitu berharga. Bagi saya, hadiah sebuah buku lebih berarti dibandingkan intan berlian. Namun jika dikasih intan berlian, memang saya nolak?

Pepatah tak kenal maka tak saya memang benar adanya. Gara-gara buku gratisan itu sehingga saya enteng bacanya, saya jadi tahu siapa itu Ippho. Saya juga belajar banyak karenanya. Waktu belum punya, saya malas jika harus mengeluarkan uang untuk membeli buku dia. Siapa sih Ippho? Apa untungnya buat saya bila membeli bukunya? Biasa, otak dagangnya keluar. Membeli buku juga dihitung untung ruginya. Tapi wajarkan?

Salah satu pelajaran yang saya peroleh dari membaca buku 13 Wasiat Terlarang adalah tentang sintesis. Bila melihat KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sintesis bisa bermakna: (1) paduan (campuran) berbagai pengertian atau hal sehingga merupakan kesatuan yang selaras; (2) penentuan hukum yang umum berdasarkan hukum yang khusus; (3) reaksi kimia antara dua atau lebih zat membentuk satu zat baru; (4) penggabungan unsur-unsur untuk membentuk ujaran dengan menggunakan alat-alat bahasa yang ada. Manusia yang tindakannya berdasarkan sintesis dianggap sebagai orang-orang yang menggunakan otak kanan. Hal itu terjadi karena sintesis diyakini terkait dengan kreativitas, imajinasi, dan intuisi yang ketiganya merupakan pekerjaan otak kanan.

Ada lima jenis manusia sintesis yaitu generalist, crosser, tricker, connector, dan detector. Siapa mereka? Mari kita lihat satu demi satu.

Generalist. Seorang generalist jago dalam menangani berbagai bidang sekaligus. Sebagai contoh misalnya Chaerul Tanjung. Dia yang sebenarnya dokter gigi justru sekarang lebih dikenal sebagai pengusaha yang bisnisnya menggurita. Trans TV, Trans 7, Bank Mega, Bandung Supermall adalah sebagian contoh kehebatannya sebagai seorang generalist. Dalam waktu yang begitu singkat, Chaerul Tanjung berhasil menjadi orang makmur dengan kelompok usahanya yang bernama Para Group. Bahkan mantan Wakil Presiden Jusup Kalla yang sudah puluhan tahun menjalankan usaha keluarganya kalah dalam hal kemakmuran. Itu kata bukunya Ippho lho.

Crosser. Kelompok ini merupakan orang-orang yang murtad. Ah, vulgar amat saya menggunakan istilah itu. Gampangnya, mereka menyeberang ke bidang baru, dan berhasil di situ. Putera Sampoerna adalah contoh yang bagus. Dia sengaja menjual kerajaan bisnisnya yang berusia hampir seabad, PT HM Sampoerna Tbk, ke Philip Morris International senilai Rp18,5 triliun ketika usaha itu sedang maju-majunya. Dari hasil jualannya itu dia pindah ke agroindustri, infrastruktur, dan telekomunikasi sebagai bisnis intinya. Rokok sudah tidak menjadi bisnis inti lagi baginya. Dia melakukan tindakan revolusioner itu karena menurutnya bisnis rokok di Indonesia ke depannya nanti akan semakin mendapat tentangan dan tantangan.

Tricker. Manusia macam ini tidak biasa dengan keteraturan, runtut, dan hal-hal yang pasti. Seorang tricker akan mengawali usahanya bukan dengan modal (uang) sebagaimana yang biasa dilakukan denga orang-orang berotak kiri. Barangkali dia langsung memulai usaha hanya dengan sebuah merek dan brosur sederhana. Yang penting action dulu. Manusia yang terbiasa terencana, terjadwal, dan penuh hitung-hitungan sudah pasti akan sulit memahami apalagi menjalani hal ini. Tidak aneh bila mereka mengelompokkan para tricker sebagai golongan spesies bodoh dan nekat. Setelah membaca gambaran tersebut, barangkali anda akan bergumam, ”Oh, berarti tetangga sebelah seorang tricker dong?”

Connector. Bagi seorang connector, tidak ada pepatah, ” Jaka Sembung main lego. Gak nyambung bego!” Manusia yang satu ini jago dalam mengaitkan hal-hal yang tidak saling berhubungan. Contoh gampang saja, sekarang sangat mudah menemukan alat komunikasi hasil perbuatan seorang connector. Saat ini hp bukan hanya bisa untuk menelpon tetapi juga dapat untuk memotret, menonton televisi, browsing dan lain-lain. Awal-awal hp diciptakan, ada hp yang seperti itu? Boro-boro ada, bentuknya saja segede batu bata, tidak seperti sekarang! Bisa-bisa nanti, ini impian saya yang suka wisata alam, ada tenda dan kompor di dalam hp. Gimana caranya ya? Ah, biarkan connector yang memikirkannya. Kita tinggal beli saja nanti jika sudah ada di pasar.

Detector. Ini jenis orang yang celamitan. Orang yang jeli mengurai hal-hal rumit. Dia ahli mendeteksi hal-hal yang tidak terdengar, terlihat, tercium, terasa, dan teraba. Matanya selalu mengawasi seperti cacing (worm view) dan membelalak seperti mata burung (bird view). Futuris seperti Thomas Friedman, John Naisbitt, dan Alvin Toffler adalah contoh para detector. Bukan paranormal lho! Para futuris itu bukan hanya sekedar menerawang kemudian berbicara ngawur tetapi omongannya itu didasari kedalaman analisis, bukan mistis.

Kelima jenis sintesis di atas jelas orang-orang yang menggunakan otak kanan. Mereka biasa berpikir secara menyuluruh (holistik), menyebar (difus), serentak (paralel), dan acak (lateral). Bagi orang yang cenderung menggunakan otak kiri, mereka akan gelagapan dan tergagap-gagap berurusan dengan sintesis.

Anda sendiri cenderung manusia otak kiri, otak kanan, atau malah tidak punya otak?

Sumber gambar: di sini

2 COMMENTS

  1. om WKF.. kalau fenomena otak tengah yang saat ini lagi booming dan banyak yang tertipu (biasanya orangtua yang memasukkan anak ke program aktivasi otak tengah) padahal dibuktikan secara ilmiah otak tengah itu tidak ada.

    Boleh tuh dibahas biar lengkap pembahasan otak2an ini .. hehe..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here