Jika anda menebak tulisan ini tentang hari Jawa, anda keliru. Memang, Setu Legi adalah salah satu nama hari selain Setu Pon, Setu Pahing, dan lain-lain. Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing oleh masyarakat Jawa biasa ditambahkan di belakang nama hari untuk menandai berbagai macam peristiwa atau sebagai media hitung-hitungan saat menentukan hari yang dianggap sakral, misalnya tanggal perkawinan. Bila anda bertemu orang Jawa, coba tanyakan tentang makna Jum’at Kliwon. Anda mungkin akan cengok. Jangan tanyakan hal itu kepada saya, percuma, saya orang Jawa yang murtad.

Ya, dalam hal tertentu, saya merasa murtad terhadap ajaran yang diyakini oleh orang Jawa. Misalnya, ketika orang Jawa hendak menikah, mereka biasanya berhitung dulu kapan hari yang dianggap baik untuk melangsungkan pernikahan. Hal itu juga dilakukan ketika dulu saya akan menikah. Baik dari pihak keluarga saya maupun mertua, mereka semua berhitung. Meskipun tidak percaya, sekedar untuk menghormati, saya mempersilahkan mereka menghitung untuk mencari hari yang pas buat pernikahan saya. Hanya saja, saya berpesan agar hasil hitung-hitungannya sesuai dengan hari, tanggal, bulan, dan tahun yang saya dan (calon) istri inginkan. Saya percaya tidak ada hari yang jelek. Alasan kenapa saya memilih tanggal, bulan, dan tahun perkawinan hanya semata-mata karena terkait hal sentimentil.

Lalu, apa itu setu legi? Nama yang merupakan nama hari Jawa itu kemudian diplesetkan, dijadikan akronim. Saya merasa akronim ini seolah-olah ditujukan ke kaum hawa. Tentu saja kaum adam juga bisa menjadi setu legi. Dan, tahukah anda jangan-jangan anda ini termasuk penggemar setu legi. Penderita penyakit kejiwaan oedipus complex atau electra complex sangat mungkin juga pengagum setu legi. Atau anda ini jangan-jangan seorang setu legi?

Setu legi menjadi misteri buat anda saat ini? Nggak usah dipikir dalam-dalam lah. Baca saja terus. Nanti juga akan ngerti dengan sendirinya. Yang bisa saya pastikan, di sekeliling anda pasti banyak setu legi. Bisa jadi selain anda sendiri, setu legi itu adalah tante anda, om, adik, kakak, orangtua, teman, tetangga, calon pasangan hidup, atau apapun sebutannya. Orang-orang setu legi ini bisa berasal dari berbagai profesi, foto model misalnya. Profesi apapun, sangat terbuka untuk dijalani seorang setu legi. Meskipun jarang ada setu legi yang berprofesi tertentu, misalnya peragawati atau peragawan, kemungkinan akan tetap ada.

Penting nggak sih setu legi? Bila si setu legi seorang dokter yang, katakanlah, menentukan hidup mati anda, saya yakin anda pasti tidak akan bilang tidak penting. Jika setu legi ini kekasih anda yang sangat anda cintai yang sebentar lagi akan anda nikahi, beranikah anda mengatakan tidak penting? Seandainya anda bertanya kepada saya, “Penting nggak sih menulis tentang setu legi?” Saya akan menjawab pertanyaan anda itu, “Buat saya yang penting menulis.” Noh, anda mau apa coba? So, tidak usah memperdebatkan penting tidaknya tulisan ini, berbobot enggaknya artikel yang sedang anda baca ini. Kalau anda ingin yang berbobot, angkat saja kerbau bunting. Atau sapi ostrali yang suka dijual menjelang Idhul Qurban. Bobot mereka bisa mencapai hampir satu ton. Itu baru yang namanya betul-betul berbobot. Berbobot sebobot-bobotnya, berbobot sesungguh-sungguhnya. Dan saya yakin kebanyakan orang pasti setuju bahwa itu namanya berbobot. Anda?

Kembali tentang setu legi. Senang atau tidak terhadap setu legi, sifatnya relatif. Bagi saya yang laki-laki, perempuan setu legi bisa sangat menarik, terutama leginya, yang terkait dengan ukuran badan. Saya menganggap, ini tentu saja sifatnya subyektif dan anda boleh protes bila tidak setuju, perempuan yang melakukan diet bukan untuk kesehatan tetapi agar terlihat langsing adalah manusia yang melantur. Tidak semua laki-laki suka wanita langsing. Mereka beranggapan langsing itu tidak seksi, justru yang ‘langsung’ itu yang menarik. Langsungnya tentunya tidak berlebihan. Saking langsungnya sampai bulat sebulat ikan buntal ketika sedang marah. Wahai kaum perempuan yang berbadan langsung, percayalah, tidak sedikit kaum laki-laki yang mengagumi ‘kebesaran’ tubuh anda itu. Saya termasuk di dalamnya. Tapi maaf, saya sudah punya pasangan dan bukan penganut poligami. Saya support anda bila anda memiliki semboyan Big is Beautiful seperti semboyannya kelompok wanita berbadan lebih di Jakarta atau ungkapan yang pernah diucapkan wanita-wanita molegh dalam acaranya Oprah Winfrey.

Sekedar informasi untuk anda, saya punya satu perempuan setu legi di rumah. Satu-satunya dan cukup satu. Cantik, menarik dan seksi. Meskipun belum menjelma menjadi setu legi yang sesungguhnya (saya menganggapnya demikian), dia sekarang ini sudah cukup memuaskan buat saya. Kalau ukuran manusia tua menurut anda 80 tahun, usia 40 tahun berarti setu alias setengah tuwo atau setengah tua. Legi bisa berarti manis. Namun bukan itu maksudnya. Legi adalah lemu ginuk-ginuk, gemuk dan nggemesin.

Nah, sekarang waktunya mengamati sekeliling anda. Berapa banyak setu legi yang bertebaran? Coba dihitung!

SHARE
Previous articlePemimpin yang Memimpin
Next articleZombie

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here