Setan yang mengalahkan tuhan di sini adalah tentang pikiran. Jadi, tolong, jangan meradang dulu. Tidak jarang antara pikiran tuhan dan pikiran setan suka berantem. Sayangnya tidak jarang pula yang menang justru pikiran setan. Apalagi jika pemilik pikiran ini tipe orang yang gampang menghakimi orang lain.

Tulisan ini merupakan kelanjutan artikel berjudul Pikiran Tuhan Pikiran Setan yang pernah saya janjikan untuk diterbitkan. Karena pertimbangan terlalu panjanglah yang membuat saya memutus tulisan yang pertama. Agar anda tidak bingung, sebelum membaca yang ini alangkah baiknya membaca tulisan yang pertama dulu. Siapa tahu, dengan membaca tulisan yang pertama, pikiran setan dalam kepala anda yang tadinya sempat mengintip kemudian batal nongol.

Di tulisan pertama saya menyatakan banyaknya calon pengusaha yang gagal karena niatnya ditelikung habis-habisan oleh pikiran setan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Penyebabnya adalah pengetahuan manajemen semacam CAR, NPV, BEP, feasibility study, dan ilmu lain yang dimiliki. Burukkah ilmu tersebut? Jelas tidak dong. Hanya saja, kadang-kadang ada untungnya juga bila kita tidak tahu apa-apa. Kita jadi berani berenang menyeberangi sungai karena tidak tahu di dalamnya ada buaya. Akibatnya memang bisa fatal. Tetapi yang sudah pasti terjadi, kita telah berenang, bukan sedang dalam taraf berencana berenang. Jika hasil akhirnya adalah kita tidak dimakan buaya, itulah buah manis dari ketidaktahuan.

Jadi, anda pilih mana sekarang, tidak tahu atau punya pengetahuan? Bila dengan tidak tahu anda jadi berani, itu akan menjadi lebih baik dibandingkan anda jadi ragu-ragu dan tidak berani gara-gara banyak tahu. Namun demikian, saya lebih menyarankan anda untuk banyak tahu. Bagaimanapun juga memiliki banyak pengetahuan lebih baik dibandingkan yang pengetahuannya minim. Tinggal bagaimana kita mengupayakan pengetahuan yang kita miliki itu menjadi bahan bakar untuk membesarkan api keberanian.

Kembali berbicara tentang entrepreneurship atau kewirausahaan, sebelumnya saya sampaikan di sini bahwa saya tidak anti dengan, misalnya, feasibility study atau kelayakan studi. Sebelum usaha dibuka jelas kita perlu melakukan kelayakan studi. Tahap pencarian lokasi usaha, analisis pesaing potensial, modal yang dibutuhkan, pasar yang akan menyerap produk yang dijual, adalah beberapa tindakan yang diambil untuk memastikan layak tidaknya sebuah usaha dibuka. Masuk akal kan jika kita tidak buka usaha karena, misalnya, diperkirakan tidak ada calon pembeli? Bila dari hasil kelayakan studi tersebut menunjukkan negatif, artinya tidak akan menguntungkan bila usaha dibuka, maka sudah pasti usaha tidak akan dibuka. Jika ada orang lain yang membuka usaha yang sama, bisa jadi akan dibodoh-bodohin. Tetapi faktanya, tetap ada orang bodoh yang membuka usaha yang tidak layak itu, dan berhasil!

Contoh lain misalnya, setiap akan buka usaha pasti dong kita hitung-hitungan berapa modal yang harus disediakan. Anda melakukan itu? Jika ya, saya tidak akan menjadi heran bila kemudian anda batal membuka usaha tersebut. Anda bukan satu-satunya orang yang merasa gagal membuka usaha karena kebentur modal. Sebelum memulai usaha, anda mungkin akan membuka buku catatan kemudian mengkalkulasi berapa besar modal khususnya uang yang dibutuhkan. Setelah ketemu totalnya anda jadi kaget, kok banyak ya? Dan ternyata anda tidak memiliki uang sebanyak itu. Sambil menutup buku catatan itu, anda berpikir keras sekaligus bingung memikirkan cara mendapatkan modal itu. Yang terjadi selanjutnya, anda batal membuka usaha. Jadi, itu artinya bisnis yang anda idamkan itu dibuka saja belum sudah anda tutup.

Satu lagi, break event point (BEP) atau analisa balik modal. Setelah dihitung-hitung modal yang dikeluarkan dan kapan saat modal itu akan kembali ternyata tidak layak, maka sudah pasti usaha yang direncanakan tidak akan dimulai. BEP menjadikan calon pengusaha itu memutuskan untuk tidak memulai bisnisnya. Salahkah? Tentu saja tidak. Itu kan analisa yang secara nalar bisa dipertanggungjawabkan. Dibukakah bisnis yang direncanakan? Tentu saja tidak! Karena memikirkan balik modal, akhirnya tidak jadi buka usaha. Bagaimana mau balik? Berangkat saja belum sudah mikir balik.

Berpikiran usaha yang akan dijalankan nanti akan sangat sukses adalah pikiran tuhan, memiliki pikiran usahanya akan bangkrut adalah pikiran setan. Yang jelas, keduanya belum terjadi karena memang usahanya belum dibuka. Dari kedua jenis pikiran itu, yang mana akan membuat seseorang membuka usaha? Tentu saja pikiran tuhan. Jika dua kemungkinan itu belum terjadi, mengapa harus takut? Mengapa takut bangkrut jika terjadi saja belum? Kalaupun usaha dibuka, kan belum tentu gulung tikar toh? Bila akhirnya ternyata gulung tikar, ya tidak masalah kan? Itulah biaya yang harus dibayar untuk menjadi pintar.

Lalu, emang nggak benar melakukan feasibility study, menghitung BEP serta CAR, dan sebangsanya itu? Tentu saja tidak salah dan wajib bila memang dianggap perlu. Namun jika kemudian hasilnya membuat anda tidak berani atau ragu-ragu buka usaha, saya curiga yang ada di kepala anda adalah pikiran setan. Selalu negatiiiiiiif saja yang dipikirkan. Terus, bagaimana cara melawan pikiran setan? Gampang! Hanya dengan satu cara, yaitu… ACTION! Do what you want to do. Bodoh kah? Kadang-kadang kita perlu berlagak bodoh untuk berani.

Dan, itu membuktikan bahwa untuk menjadi entrepreneur alias pebisnis bukan sekedar memiliki modal uang, tetapi keberanian untuk selalu berpikiran tuhan itulah yang terpenting. Dengan demikian, tidak ada lagi istilah setan mengalahkan tuhan.

Sumber gambar: di sini

9 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here