>Anda yang tidak merokok dan peduli kesehatan mungkin heran melihat ada orang kok ya mau-maunya menghisap racun dengan sadar dan sukarela. Padahal produsennya sendiri telah memberi peringatan di setiap bungkus rokok yang dibuatnya: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.

Saya kok kehabisan kata-kata untuk mengomentari orang-orang yang seperti itu. Bukan faktor rasional lagi yang dijadikan alasan mereka melakukan itu, tetapi sudah ke arah irasional. Bagaimana tidak? Anda tahu sendiri, banyak orang yang bukan hanya sekedar pintar tetapi brilian yang tidak bisa lepas dari rokok. Brilian dalam bidang apapun, manajemen, sastra, filsafat, fisika, matematika, dan masih banyak lagi, bahkan mereka yang berkutat di bidang kesehatan juga tidak mau ketinggalan. Sekarang alasan apa coba yang bisa digunakan untuk membenarkan tindakan mereka yang merugikan kesehatan itu? Jika semangat yang melimpah atau ngantuk menjadi hilang yang dikatakan sebagai pembenaran merokok, itu hanya ilusi.

Pernah suatu ketika, saya bersilang pendapat dengan tetangga yang heavy smoker. Sambil bercanda dan tidak sampai beradu otot memang, namun ujung-ujungnya tidak ada titik temu. Bagaimana tidak? Masing-masing berpegang pada argumen yang tidak bakal bisa ditemukan dan masing-masing berangkat dari cara pandang dan berpikir yang berlawanan. Satu rasional satunya irasional. Yang bisa dilakukan paling berkompromi dengan perbedaan-perbedaan yang muncul. Bila anda perokok berat, anda akan memiliki argumen yang melegitimasi kebiasaan anda itu. Dan percuma saja saya ngotot melawan anda. Namun jika anda merokok hanya sekedar gaya dan gagahan, alangkah baiknya bila anda hentikan sekarang juga kebiasaan yang sia-sia itu.

Saya bukannya sok suci. Dulu saya juga pernah merokok, lebih tepatnya mencoba-coba karena terus terang saja saya tidak dapat merasakan nikmatnya merokok itu seperti apa. Kegiatan menghisap racun itu saya lakukan hanya karena teman main saya merokok. Di samping itu juga karena saya ingin dianggap gaul. Kelihatan gagah banget pada saat itu ketika sedang merokok. Namun perlu anda ingat, pada waktu itu bukannya setiap hari saya merokok. Saya membeli rokok amat sangat jarang, lebih sering minta daripada menggunakan uang saku untuk membeli rokok. Anda boleh mengatakan saya pelit. Memang waktu itu modal korek pun kadang tidak pernah, hanya dengkul yang saya bawa-bawa. Setelah sekian lama mencoba untuk pura-puranya menjadi perokok, kemudian saya putuskan berhenti merokok. Alasan pertama saya berhenti merokok cukup sederhana, saya tidak bisa merasakan enaknya rokok. Setelah itu alasan kesehatan dan tindakan mubazir menjadi alasan tambahan berikutnya yang semakin memperkuat keputusan saya.

Rokok sendiri yang berbahaya sebenarnya bukan nikotinnya. Nikotin yang terkandung dalam rokok sifatnya adiktif. Dia hanya membuat penghisapnya menjadi kecanduan sehingga terus merokok. Dengan demikian, maka setiap batang rokok yang dia hisap akan menambah tar yang bersarang di dalam paru-paru. Tar inilah yang sebenarnya pembunuh para perokok. Tar yang bentuk dan warnanya mirip aspal yang digunakan untuk membuat jalan secara kumulatif akan menutup dinding paru-paru. Bayangin saja, dinding paru-paru yang seperti tisue dengan lubang-lubang kecil sebagai jalur oksigen jadi tertutup tar yang dengan sengaja dimasukkan oleh pemiliknya. Akibatnya, lalu lintas oksigen menjadi terganggu. Itu salah satu akibat langsung yang akan terjadi. Anda bayangkan saja seperti menarik nafas tetapi kedua lubang hidung anda tersumbat. Betapa sengsaranya. Bisa saja dibantu dengan mulut. Namun masak tiap kali bernafas mulut harus ngangap? Kan jadi kelihatan tidak menarik. Jangan-jangan bukan hanya oksigen yang masuk, tapi juga lalat dan lebah.

Saya punya pengalaman indah menurut saya, mudah-mudahan anda juga merasakan hal yang sama, tentang merokok. Saat itu tentu saja saya dan teman-teman sepermainan tidak menyadari bahayanya. Yang ada hanya senang saja dan itu merupakan sweet memory. Kalau nggak salah, pengalaman ini terjadi saat saya masih di sekolah dasar atau sudah smp, nggak pentinglah.

Waktu itu sehabis magrib, saya dan gang saya seperti biasa kelayapan. Ada saja yang dikerjakan. Kami beramai-ramai ke sebuah kantor milik pemerintah. Di depan kantor itu ada beberapa pohon cemara yang daun-daun keringnya bertebaran di bawahnya. Kami mengumpulkan daun-daun itu dan sebagian yang lain mencari koran atau kertas bekas di tong sampah kantor. Dengan membawa bahan-bahan yang dikumpulkan itu, kami kemudian memanjat salah satu pohon cemara. Kami duduk di atas dahan-dahan yang paling tinggi. Tidak ada perasaan takut jatuh karena kami tahu pohon cemara tidak gampang patah seperti pohon ceri. Kami mengobrol di atas dahan seperti sekumpulan monyet sambil melinting daun cemara kering menggunakan koran dan kertas yang kami temukan. Rokok yang kami buat sebesar cerutu Havana yang sering kita lihat ada di mulut Fidel Castro atau jenderal Winston Churchill. Masing-masing dari kami memegang satu cerutu Havana made in sendiri itu dan kami selipkan ke dalam mulut. Korek yang sebelumnya sudah dipersiapkan dari rumah dikeluarkan untuk menyalakan cerutut-cerutu kami. Cerutu yang besarnya bisa dua kali jari kami mulai kami nikmati. Asap tebal mengepul menyelimuti muka kami. Bila orang melihat dari jauh barangkali kami dianggap demit penunggu pohon cemara. Di atas pohon itu gelap gulita sehingga jika tidak mendekat, yang terlihat hanya bara-bara merah di ujung setiap cerutu yang kami hisap. Jangan tanya apakah saya bisa merasakan enaknya cerutu yang saya hisap. Yang saya bisa rasakan adalah nikmatnya persahabatan. Betapa senangnya bisa tertawa bersama. Mentertawakan siapapun yang batuk-batuk karena tersedak asap tebal dan pekat daun cemara yang disedot kuat-kuat. Yang lebih heboh lagi, setelah acara selesai kami membawa pulang bintik-bintik di sekujur lengan dan kaki serta baju yang bolong-bolong karena bara api yang melenting dari ujung cerutu setiap kali cerutu itu dihisap. Percikan bara apinya tidak tanggung-tanggung banyak dan liarnya. Anda pernah lihat bara api penjual sate? Seperti itulah. Kami tidak bisa apa-apa ketika bara-bara itu menempel, pasrah total, karena kami ada di pucuk pohon yang tinggi. Kami lebih memilih badan bentol-bentol dan baju bolong-bolong, daripada kepala benjol dan lengan atau kaki patah-patah karena jatuh dari pohon.

Apa yang saya lakukan dengan teman-teman kecil saya itu, barangkali anda juga pernah melakukan, mungkin dengan versi yang berbeda. Sekarang, bila anda masih meneruskan petualangan masa kecil anda, artinya anda masih merokok, itu merupakan pilihan anda. Anda pasti tahu resikonya. Ketika berhadapan dengan kesehatan hidup, tidak ubahnya seperti saat kita mengerjakan soal ujian yang jawabannya pilihan ganda. Kita sendiri yang memilih. Anda mau hidup sehat atau tidak, anda bisa memilih karena sehat itu bukan kewajiban, tapi pilihan.

SHARE
Previous article>Teror
Next articleSukabumi

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here