#cariyangkerja sebenar-benar musuh golputPemilu sebentar lagi. Dunia nyata dan maya riuh karenanya. Tim sukses memutar otak dalam memikat massa. Rakyat beragam dalam bersikap. Sebagian gembira karena dapat uang kampanye. Yang lain linglung, tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Sungguh dimaklumi jika pemilih sekarang bingung dalam menentukan pilihan. Keterbukaan yang dipicu oleh keberadaan media sosial menjadi penyebabnya. Media sosial semacam Twitter dan Facebook jadi penyampai hal-hal tak terpuji. Borok di masa lalu atau sekarang dari seorang politikus yang tersimpan rapi dapat dengan cepat dan tiba-tiba muncul di permukaan. Terlepas benar atau tidaknya, kejadian ini jelas punya pengaruh. Kegamangan muncul. Kepercayaan terhadap politikus yang bersangkutan terkikis atau bahkan musnah seketika.

Di era sekarang, selain sampah visual yang tetap masih bertebaran menempel di batang-batang pohon dan tiang listrik di sepanjang jalan, media sosial di dunia maya juga digarap. Media ini menjadi sarana memoles calon andalan biar terlihat ‘kinclong’ sekaligus menjadi medan pertempuran para calon atau tim suksesnya. Galur waktu (timeline) Twitter panas oleh perang kicauan atau twitwar. Begitu pula dinding akun pengguna Facebook dan media sosial lain. Melihat calon legislatif atau calon pemimpin pemerintahan (presiden, gubernur, dan lain-lain) yang sesungguhnya menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Semua penuh polesan. Semua berlepotan dengan kosmetik pencitraan. Memilih calon yang bersih dan mau kerja bersama rakyat ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sulit! Pesan iklan unik TVC #CariyangKerja milik sebuah produk rokok dengan tepat menggambarkan hal ini. Isinya parade sepatu yang berjalan di karpet merah. Iklan ini seolah menantang kita untuk menebak si empunya sepatu. Ada sepatu mengkilap, sepatu dangdut, hingga sepatu berlumur lumpur. Intinya, kita diminta mencari pemimpin yang mau kerja.

Sulit bukan berarti tidak mungkin, tentu saja. Butuh upaya sungguh-sungguh dalam mencari calon wakil rakyat yang bersih dan mau bekerja. Sudah begitu tidak mudah, ditambah banjir kampanye pencitraan serta nirbukti prestasi dari kebanyakan calon, tak aneh jika kemudian ada yang memilih untuk menjadi golput alias tidak menggunakan hak suaranya. Keputusan tersebut sungguh disayangkan tetapi itulah fakta yang terjadi. Rakyat terlalu sering dikecewakan oleh mereka yang digadang-gadang sebagai pengemban amanah. Yang harusnya membela rakyat, justru memusuhi rakyat. Yang mestinya menjaga kepercayaan rakyat, malah menggerogoti. Mereka bak pagar makan tanaman.

Menjadi golput memang pilihan dan pasti terjadi di alam demokrasi. Meskipun sempat berhembus kabar ancaman pidana bagi mereka yang golput, ancaman itu justru dilawan balik. Bukannya takut, mereka malah mengecam wacana tentang ancaman memidanakan pemilih golput itu. Jika calon legislatif atau calon kepala negara atau daerah bisa menunjukkan catatan putih yang bukan hasil rekayasa, mereka dapat membuktikan karya dan prestasi kerja, bisa dipastikan jumlah golput akan turun dengan sendirinya. Semacam hukum sebab akibat, jika penyebabnya ditangani, akibat yang muncul sudah bisa dipastikan akan sesuai dengan yang diinginkan.

Rakyat ini tak butuh macam-macam. Yang diperlukan rakyat adalah mereka yang benar-benar mewakili kepentingan rakyat bila mereka wakil rakyat, dan yang bisa memimpin rakyat penuh amanah jika mereka duduk di kursi kepala negara atau daerah. Mereka harus bersih. Bukan orang yang menggerogoti uang rakyat. Saat kampanye berjanji memberantas koruptor, begitu jadi ternyata dia sendiri yang korupsi. Yang diinginkan rakyat juga mereka yang mau mati-matian bekerja bersama-sama dan untuk kesejahteraan rakyat. Rakyat tak butuh manusia-manusia yang bisanya pelesir ke mana-mana menggunakan uang rakyat. Menamai program menghambur-hamburkan uang itu studi banding dan nama-nama lain yang pada dasarnya hanya sebagai pembungkus kegiatan wisata, bukan kerja.

Di setiap pemilu, golput selalu muncul. Makin ke sini makin besar jumlahnya. Mereka tak akan berkurang apalagi hilang jika keadaan masih tetap seperti sekarang. Bukan ancaman pidana atau penguasa pamer kuasa yang bisa mengurangi jumlah golput. Calon wakil rakyat dan calon presiden atau kepala daerah yang bersih dari korupsi dan dari tindakan asusila serta mau berkotor-kotor sepatu alias ringan tangan dalam bekerja untuk kesejahteraan rakyatlah yang bisa menurunkan populasi golput. Merekalah sebenar-benar musuh golput. Buktikan!

Sumber gambar: koleksi pribadi

3 COMMENTS

Leave a Reply to wongkamfung Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here