Ini masih ada kaitannya dengan isi cerita film Freedom Writers. Tentang gambaran seorang pengajar yang dicita-citakan anak didiknya. Atau jika anda menganggap cerita ini berandai-andai, bolehlah. Memang apa yang diinginkan oleh seorang murid terhadap gurunya kadang hanya masih berupa ‘seandainya’ bagi keduanya.

Saya punya sederetan ‘seandainya’ yang ditulis oleh seorang murid. Sebuah daftar keinginan yang akan membuat murid bisa menikmati kelasnya, seandainya gurunya adalah sesosok figur sebagaimana yang dia tulis. Sebelumnya mohon dimaafkan, saya lupa siapa nama penulis yang telah membuat daftar itu. Jika anda merasa yang membuatnya, tolong anda mengaku saja 😉 dan saya juga sekalian minta ijin untuk memuat tulisan ini. Boleh kan? Boleh nggak boleh pasti boleh, wong sudah dimuat juga. Wek. Coba anda baca dan renungkan.

Guru yang baik adalah:

  1. Guru harus bisa menguasai dan mengendalikan kelas.
  2. Guru harus paham materi, pintar, berwawasan luas dan jenius.
  3. Guru harus memberikan contoh yang baik.
  4. Guru harus memecahkan masalah & membangkitkan semangat.
  5. Guru harus mengerti keadaan dan perasaan.
  6. Guru harus menjadi teman baik siswanya.
  7. Guru harus menyadari kekurangan & tenggang rasa.
  8. Guru mencoba sesuatu yang lebih baik & berusaha lagi.
  9. Guru bisa menjaga rahasia.
  10. Guru harus serius dan tekun.
  11. Guru harus berbakat dan kreatif.
  12. Guru yang artistik atau musikal?
  13. Guru harus idealis & penuh kesabaran.
  14. Guru setia dan berbakti.
  15. Guru dinamis dan aktif.
  16. Guru memerlukan perubahan.
  17. Guru berkemauan kuat & tegas.
  18. Guru tidak emosional dalam bertindak.
  19. Guru tidak mudah patah semangat.
  20. Guru bebas tapi mandiri.

Kira-kira menurut anda, daftar itu mungkin nggak untuk direalisasikan? Atau barangkali anda merasa tidak sanggup untuk mewujudkan keinginan yang muncul dari anak didik anda itu? Bila anda seorang pengajar, mau nggak mau anda harus berusaha keras, kalau perlu sampai mati-matian, untuk memenuhi sederetan keinginan anak didik itu. Sebagai manusia normal, anda tentu ingin diterima oleh anak didik anda kan?

Coba sekarang anda lihat diri anda sendiri beberapa tahun yang lalu. Saat ketika anda menjadi seorang siswa atau mahasiswa bila sekarang anda sudah selesai sekolah atau kuliah. Jika sekarang anda masih menjadi siswa atau mahasiswa, coba anda bandingkan. Itukah daftar keinginan terhadap guru anda bila anda juga diminta membuatnya? Saya yakin, sebagai murid, pasti itulah yang diinginkan. Saya sendiri akan merasa senang, bangga, terhormat, dan berbagai perasaan menyenangkan yang membuncah bila guru saya seperti yang tertulis dalam daftar itu.

Saya punya pengalaman memiliki seorang guru smp yang, rasanya, hanya sedikit dari yang tersebut dalam daftar itu yang beliau miliki. Namun perlu anda ketahui, bagaimanapun juga saya tetap menaruh hormat terhadap beliu karena bagaimanapun kondisinya, beliau telah sangat berjasa menyumbangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk memintarkan saya. Karena terkenal galak, ketika kami ada di dalam kelas bersama beliau, rasanya kami seruangan dengan seekor singa. Kami takut sewaktu-waktu akan kena terkam. Akibatnya, apa yang beliau berikan tidak sepenuhnya bisa kami terima. Bukan konsentrasi untuk menerima pelajaran justru malah kami gelisah dan ketakutan. Dengan demikian, kami tidak bisa mengerti dan memahami dengan baik pelajaran yang sedang diberikan. Apalagi pada dasarnya saya ini murid yang bodoh. Tahu sendiri kan, apa jadinya bila muridnya sudah bodoh eh lha kok malah ditambah lagi dengan ketakutan, ya makin belet saja jadinya.

Selain itu suasana jadi tegang dan mencekam. Rasanya saat itu kami seperti nonton film horor yang gedung bioskopnya ada di tengah kuburan tua dan tidak terurus. Penontonnya ditemani demit, kuntilanak, pocong, dan memedi-memedi semacamnya yang sekarang lagi laris muncul di layar bioskop dan televisi menjadi konsumsi hiburan murahan, pembodohan, dan pemusrikan rakyat. Kelas mengerikan itu membuat pelajaran yang sebelumnya pada nempel di otak jadi copot berjatuhan dan menghilang entah ke mana. Begitu bel terdengar, telinga kami rasanya seperti mendengar lonceng kebahagiaan yang berasal dari surga (walah, kayak pernah piknik ke surga saja). Kami seperti terbebas dari algojo pencabut nyawa.

Saya akui pengalaman saya itu memang benar-benar mengerikan. Dikatakan traumatis memang iya. Namun saya tetap berterima kasih terhadap guru saya itu. Beliau telah mengajari saya dan menjadi contoh yang baik buat saya dengan sifat dan sikapnya yang menghantui jam melek maupun jam tidur murid-muridnya. Saya berterima kasih karena dengan demikian mengajari saya untuk tidak menjadi monster bagi anak didik saya ketika saya memilikinya nanti.

Cukuplah hanya saya yang menghadapi dan mengalami pengalaman mengerikan itu. Jangan anak-anak didik saya. Seorang guru harusnya bukan hanya memintarkan, tetapi juga menenteramkan, menenangkan, menyenangkan, menghibur, menyemangati, memotivasi, dan menginspirasi.

Di Jawa sana, Jawa Tengah dan Timur maksudnya, guru itu singkatan dari digugu lan ditiru (dipercaya dan bisa menjadi contoh untuk diikuti). Bukannya malah wagu lan saru (sudah tidak enak dilihat, jorok lagi)! Bila anda guru tapi yang wagu lan saru, betapa absurdnya anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here