Sebelumnya saya tidak punya firasat apa-apa. Kalau mimpi buruk sih memang iya. Namun saya anggap itu hal biasa. Mimpi buruk itu sering saya alami bila tidurnya kelamaan atau sudah bangun kemudian tidur lagi. Hari itu memang saya mimpi yang tidak menyenangkan. Saya pikir itu bukan sebuah firasat buruk. Tapi sebaiknya saya mulai saja kisah ini, sehari sebelum kejadian.

Hari itu Minggu (23/3). Sesuai janji hari itu saya punya rencana bersama teman-teman kerja main ke rumah teman sekantor juga yang habis melahirkan. Kami akan kumpul dulu di Panaragan Kidul sebelum ke rumah yang akan didatangi di daerah Ciomas. Saat itu memang ada pemilihan kepala desa di desa saya jadi sebelum berangkat saya sempatkan dulu ke tempat pencoblosan meskipun kemudian saya batalkan setelah melihat antriannya yang menyemut. Saya terpaksa tidak menggunakan hak saya dalam pilkada tingkat desa ini karena sudah terikat janji. Saya akan terlambat memenuhi janji bila harus bergabung dengan semut-semut yang antri.

Meninggalkan lokasi pilkada, saya naik angkot menuju Bogor (Panaragan Kidul). Saya berangkat bersama istri dan anak terkecil saya. Tidak ada kejadian apa-apa di angkot atau di jalan yang perlu diceritakan di sini. Kami selamat sampai di Terminal Bubulak. Dari terminal transit itu disambung dengan angkot 03 jurusan Baranangsiang. Di dalam angkot belum penuh, masih ada beberapa tempat yang belum terisi. Penumpang yang sudah ada di dalam melakukan aktifitas masing-masing sambil menunggu angkot penuh. Saya lihat enam pemuda sedang ngobrol. Mereka duduk saling berhadapan tiga tiga di tempat duduk dekat kaca belakang.

Angkot berangkat setelah semua tempat duduk terisi. Keluar dari Terminal Bubulak tidak lama kemudian angkot masuk jalan SBJ. Enam pemuda yang duduk berhadap-hadapan tadi saling melirik. Isyarat apa yang dikomunikasikan saya tidak tahu. Barangkali sebuah kode yang hanya diketahui di antara mereka sendiri. Dari keenam pemuda itu, ada satu yang tampangnya menarik perhatian saya. Mukanya lebar. Mulutnya lebar seperti milik Rossa pelantun Ayat-ayat Cinta. Rambutnya lurus berponi, terlihat menggelikan bagi seorang laki-laki. Kulitnya agak kelam. Dia duduk di pojok dekat jendela belakang.

Tiba-tiba temannya yang duduk di depan si poni menyodorkan tangan ke arah dia. Di tangannya ada bungkus plastik yang saya lihat tadi tergeletak di pinggiran dekat kaca belakang. Si poni menggelengkan kepalanya. Dia menolak biskuit rasa abon yang ditawarkan temannya.

Bila melihat tampang-tampangnya, mereka seumuran mahasiswa. Tapi pasti mereka tidak sedang berangkat kuliah karena hari itu hari Minggu. Terus apa yang sedang mereka rencanakan dan hendak ke mana, saya tidak tahu. Saat saya turun di depan swalayan Naga, mereka masih ada di dalam. Mereka tidak ada urusan dengan saya.

Sebenarnya saat di angkot tadi saya terima sms. Pesan itu mengabarkan bahwa teman yang akan didatangi sedang ada di rumah sakit. Dia menunggu bayinya yang diopname. Karena sebelumnya sudah sepakat ketemuan di Panaragan Kidul dulu, maka saya tetap turun di depan swalayan Naga kemudian menyeberang jalan menuju tempat pertemuan itu. Di tempat yang sudah disepakati, BEC, telah ada beberapa teman yang menunggu. Setelah semua datang, kami berangkat menuju rumah sakit. Rupanya teman yang akan ditengok itu akan pulang sementara bayinya yang sakit masih diopname. Kami semua akhirnya balik lagi ke rumahnya yang di Ciomas Permai dengan mencarter angkot. Saya sendiri membonceng teman yang bawa motor.

Setelah ngobrol beberapa lama dan juga disambung main ke rumah teman yang lain yang juga satu komplek, kami pulang. Waktu itu sudah jam dua lebih. Di dua rumah tadi hanya makan kue dan biskuit. Buat perut kampung seperti kepunyaan saya, kalau belum makan nasi belum makan namanya. Perut juga akan protes dan teriak lapar. Maklumlah, karena dari kecil dibiasakan seperti itu. Oleh karenanya sebelum pulang mampir dulu ke warung. Tadinya saya ingin makan soto lamongan. Namun, karena semua ingin ke mi ayam, terpaksa saya ngikut. Lumayanlah, makan nasinya diganti mi, sama-sama karbohidrat. Dari lima orang yang makan mi itu, cowoknya dua saya dan anak bontot saya, yang tiga perempuan istri saya dan dua teman gawe saya. Dua teman ngantor saya ini masih jomblo dan ngekost. Saya tahu rasanya jadi anak kost karena saya pernah ngekost enam tahun di Semarang, setahun di Jakarta, dua tahun di Bogor. Karena itulah, semua yang dimakan dua jomblo kost ini saya bayari. Saya bukan bermaksud pamer. Hanya menunjukkan kepada anda bahwa saya ini orang yang baik hati dan tidak sombong. Ehm.

Tadinya saat main di Ciomas, kami banyakan. Kemudian sebagian ijin memisahkan diri untuk pulang duluan atau karena ada keperluan lain. Jadi saat makan mi itu, tinggal kami berlima saja. Dari warung mi itu, saya sekeluarga belanja dulu di PJM dan toko mainan di dekat tempat itu. Setelah itu baru kami pulang dan sampai di depan komplek tempat tinggal kami sekitar jam 16.30. Pilkada yang diselenggarakan di dekat tempat saya turun angkot sudah selesai tetapi masih ramai orang-orang yang menunggu hasil penghitungan suara. Saya hanya melihat sekilas sebelum naik ojek.

Esok harinya, Senin (24/3), saya harus berangkat kerja. Badan terasa segar setelah tidur cukup. Mimpi buruk tadi malam tidak terlalu mengganggu kenyenyakan tidur saya. Seperti hari-hari kerja lainnya, saya naik ojek dari dekat rumah kemudian disambung angkot menuju Terminal Bubulak. Semua lancar sampai di terminal. Untuk sampai di kantor, masih satu lagi angkot yang harus saya naiki dari terminal itu. Saya lebih sering menggunakan angkot 03, meskipun sebenarnya 02 juga bisa.

Angkot 03 saya tidak lama menunggu penumpangnya karena hari itu Senin dan banyak komuter yang berangkat kerja. Dalam waktu singkat, angkot penuh. Mayoritas penumpangnya laki-laki. Saya sempat perhatikan wajah mereka satu-persatu. Itu yang suka saya lakukan bila naik angkot. Saya ingin tahu siapa saja sih teman seperjalanan saya. Kayaknya mereka tidak saling kenal tapi bisa saja sebenarnya mereka saling mengenal. Who knows? Sering operandi komplotan copet yang beroperasi di angkot modusnya seperti itu. Mereka bergerombol, mengerumuni calon korbannya. Kadang-kadang disertai kepura-puraan seperti mau muntah atau menjatuhkan barang (uang receh misalnya) sehingga membuat calon korban sibuk. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan angkot saya ini tidak dipenuhi gerombolan pencopet. Dan alhamdulillah saya turun dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.

Dari turun angkot menuju kantor saya, cukup jalan kaki. Paling memerlukan waktu lima menit. Pagi itu cerah. Gunung Salak yang selalu saya amati setiap kali saya jalan menuju kantor puncaknya diselimuti sedikit awan. Namun masih tetap anggun dan cantik. Rasanya hari itu akan berjalan dengan lancar dan baik. Ternyata saya keliru. Begitu masuk kantor ada dua perempuan yang mengeroyok saya. Mereka menodong saya. Mereka perempuan muda, satunya lagi ibu-ibu yang lagi hamil besar, mungkin tidak lama lagi melahirkan. Saya tidak bisa apa-apa. Mau teriak minta tolong, malu, meskipun ada orang lain di sekitar itu. Saya pasrah, cari aman, daripada nanti diapa-apain. Saya hanya bisa bilang, anda nggak usah serius-serius amat lah membacanya. Mereka teman kantor saya juga kok. Mereka nodong saya untuk minta ditraktir. Mereka dengar saya kemarin mentraktir mi ayam dua teman kerja yang lain. Kebetulan dua penodong ini kemarin waktu ikut main di Ciomas pamitan pulang duluan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here