Bagaimana rasanya bila kita punya seorang presiden dengan rasa ayam bawang? Pasti lama-lama kita akan neg lalu muntah. Itulah yang nanti akan dirasakan rakyat negara ini bila presiden ayam bawang akhirnya kembali lagi berkuasa.

Tadinya saya tidak peduli dengan potongan lagu kampanye yang diperlihatkan di penggalan akhirnya saja di sebuah televisi. Begitu juga ketika sekilas saya dengar di radio. Saya hanya sempat menebak-nebak, kok mirip jingle iklan sebuah produk mi instan ya? Saat secara tidak sengaja saya disuguhi versi komplit lagu kampanye itu di televisi (saya jarang nonton tv… keren kan?) saya jadi terbengong-bengong. Kok hanya segitu kualitas orang yang berani mencalonkan dirinya memimpin negara yang penduduknya pinter-pinter ini.

Memang benar bukan dia langsung yang terlibat dalam program kampanye itu, tapi semua itu tentu atas persetujuan ybs. Tim sukses yang dibentuk sudah pasti akan menyusun program untuk dapat memenangkan pemilihan presiden yang akan berlangsung 8 Juli nanti. Namun sayangnya, dengan terang-terangan menjiplak jingle dari produk mi instan seperti itu jelas menunjukkan kualitas dari tim sukses yang suka atau tidak suka juga memperlihatkan kualitas dari calon presidennya.

Saya paham dengan strategi yang diambil. Tidak dipungkiri jingle tersebut sudah sangat dikenal oleh telinga rakyat Indonesia. Dengan menjiplak jingle yang sudah sangat populer itu, tidak diperlukan lagi pengenalan yang akan membutuhkan waktu lama. Dan itulah yang dibidik oleh tim sukses ayam bawang. Celakanya, ada aspek lain yang –saya tidak yakin kalo mereka tidak memperhitungkan sebelumnya- justru sangat merugikan. Oke, masyarakat langsung kenal dengan lagu itu begitu mendengar. Ketika asosiasi yang awalnya diarahkan ke mi instan kemudian dibelokkan ke figur calon presiden, saya yakin mereka memperkirakan pendengar/penontonnya kemudian akan berpindah dari mi ke manusia yang difigurkan. Tepat. Itu pasti terjadi. Namun mereka lupa, efek dari kampanye mereka tidak sesederhana itu. Rasa muak ternyata juga muncul begitu mendengar jingle kampanye yang mentah-mentah mengambil dari jingle iklan. Saya sendiri rasanya seperti makan bermangkok-mangkok mi instan sehingga merasa begitu muaknya dengan langkah tidak kreatif yang diambil oleh tim sukses presiden ayam bawang.

Dengan gaya kampanye seperti itu, kok saya jadi mikir, apa jadinya negara ini bila dipimpin oleh presiden yang plagiator dan tidak kreatif. Lebih baik tidak usah dipikir dan dibayang-bayangkan. Ambil tindakan kongkrit, jangan pilih dia. Lagian selama ini tidak ada kemajuan yang langsung menyentuh, setidaknya itu yang saya rasakan. Barangkali anda merasakan hal yang sama. Terus, apa untungnya bagi kita kalau memilih dia lagi?

Mungkin bagi anda alasan saya ini terlalu sederhana untuk tidak memilih kembali calon presiden yang berasa ayam bawang. Namun bagi saya, hal sederhana seperti itulah yang justru akan menunjukkan kualitas seseorang. Contoh lain lagi yang terkait dengan kualitas, kapan gelar doktor dia peroleh? Jawabannya sangat sederhana, ketika dia menjabat presiden. Memang, tidak ada yang salah ketika gelar akademis itu diambil ketika sedang memegang kekuasaan tertinggi. Cuma, saya mau tanya dan anda boleh bohong ketika menjawab, “Anda yakin gelar doktornya itu menunjukkan kualitas dia?” Anda menganggap saya berburuk sangka? Apa boleh buat, kebenaran ungkapan power tends to corrupt kadang menyebabkan seseorang dituduh berburuk sangka.

Jadi, jika anda memilih presiden dengan rasa ayam bawang, bersiap-siaplah untuk muntah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here