Barangkali bukan hanya curug ini yang memiliki nama lebih dari satu. Bagi saya, ini hal baru. Apalagi satu curug dengan lima nama. Dan ternyata, curug inilah yang beberapa tahun lalu pernah saya cari-cari sampai hampir jam duabelas malam tetapi tidak ketemu hingga akhirnya saya terpaksa tidur di saung di tengah kebun teh karena kelelahan.

masjid cihideung
Setelah turun dari angkot, jalan kaki dimulai dari samping masjid ini.

Rupanya lokasi dari curug ini memang agak tersembunyi dan tak gampang dicari. Lebih-lebih tidak ada petunjuk arah menuju ke curug. Yang bisa diandalkan paling GPS alias Gunakan Penduduk Setempat. Mesti rajin bertanya di sepanjang jalan. Saya sendiri saat ke curug ini pada Minggu, 31 Mei 2015, bisa tidak kesasar karena bareng dengan teman yang pernah ke tempat ini. Entah kalau jalan sendiri atau ramai-ramai tetapi tak ada satu pun yang pernah ke curug. Bisa jadi hanya muter-muter tak karuan di kebun teh seperti yang pernah saya lakukan dulu.

kebun teh cihideung
Pertigaan sehabis perkampungan sebelum masuk ke kebun teh. Belok kanan bila sudah sampai di pertigaan ini.

Bila sudah tahu akses sebenarnya gampang untuk menuju lokasi curug. Dari samping BTM (Bogor Trade Mall) tinggal naik angkot nomor 04A jurusan Ramayana-Cihideung atau Ramayana-Tajurhalang, dengan cukup membayar ongkos Rp 6.000. Kalau saya saat itu naik yang jurusan Ramayana-Cihideung kemudian turun di depan Indomart yang ada di seberang masjid Cihideung. Perlu waktu sekitar 45 menit perjalanan menggunakan angkot. Dari depan Indomart saya kemudian jalan kaki melalui jalan di samping masjid. Di belakang masjid itu terdapat perkampungan yang sebagian jalannya menanjak. Lumayan, sekadar pemanasan dan melemaskan kaki sebelum melakukan perjalanan panjang menuju curug.

kebun teh cihideung
Jalan di antara pohon-pohon teh.

Di kampung itu ada sepetak kebun buah naga. Sayangnya saat saya melewatinya, buah naganya belum muncul. Barangkali habis dipanen. Bila melihat rumput yang mengelilingi pohon-pohon buah naga, tampaknya kebun itu tidak begitu terawat dengan baik. Perjalanan melewati kampung sekitar 15 menit. Di ujung perkampungan, kebun teh Cihideung menyambut. Tidak seluas dan selebat kebun teh di Puncak, tetapi cukup lumayan untuk meneduhkan mata. Hijaunya daun-daun teh begitu enak dilihat. Ada jalan setapak di tengah kebun teh yang akan kita lewati untuk menuju curug. Jalan itu pula yang dipakai oleh truk pengangkut batu dan pasir yang diambil dari lereng Gunung Salak, dan jalan itu juga digunakan oleh para pengendara sepeda. Jika Anda penggila ‘gowes’, tempat ini cocok untuk dijajal. Downhill-lah di trek ini.

curug katumbiri
Pertigaan setelah perkebunan teh. Belok kanan untuk menuju lokasi curug.

Berjalan di tengah kebun teh memang meneduhkan mata tetapi tidak untuk kulit. Matahari begitu terik terasa di lengan meskipun hari belum lewat pukul 11. Saya memang tidak pakai kaos lengan panjang seperti biasanya kalau saya melakukan hiking. Masih untung di atas kepala saya nangkring topi rimba. Kepala jadi tidak kepanasan meskipun kalaupun tak pakai topi juga tak bakal jadi masalah serius. Saran saya bila Anda hiking ke tempat ini, datanglah sebelum pukul sembilan pagi sehingga sinar matahari belum terlalu panas dan hawa sejuk kebun teh juga didapat. Selesai melewati kebun teh, kita akan berjalan di sisi lereng bukit, naik turun bukit, melewati lorong yang diambit pepohonan, bahkan ada pula jalan becek memanjang bekas roda-roda truk pengangkut batu dan pasir. Dari pinggir jalan raya sampai ke lokasi curug butuh waktu sekitar satu jam jalan kaki atau bisa lebih cepat atau bahkan lebih lambat karena kita berlama-lama di kebun teh.

curug kuwung-kuwung
Pintu gerbang masuk ke area curug. Motor dan mobil bisa parkir di sini.

Begitu sampai di pintu gerbang lokasi curug, ada area parkir untuk motor dan mobil. Curug ini memang bisa dijangkau menggunakan motor atau mobil. Tapi harus mobil off road bila tak mau ambil risiko. Dari tempat parkir kita menuruni tangga yang tertata rapi dan terawat. Lokasi curug berada di bawah dan berjarak sekitar 200 meter dari tempat parkir. Sebelum mendekati curug, kita harus membeli tiket masuk. Loket tiket berada kurang lebih 100 meter dari curug. Sebagaimana terbaca di papan pengumuman yang terpampang di tempat parkir, mulai 1 September 2014 harga tiket menjadi Rp 10.000.

curug putri
Pengunjung bisa mandi dan bermain air di kolam yang terbentuk di bawah curug.
curug pelangi
Jalan setapak tepi saluran air untuk kembali ke jalan raya.
curug putri pelangi
Menyusuri saluran air.

Ada dua curug yang bisa dinikmati. Keduanya hanya curug kecil bila dibandingkan Curug Cigamea atau Curug Seribu yang berada di lereng yang lain dari Gunung Salak. Tingginya pun sekitar sembilan atau sepuluh meter. Ada kolam yang terbentuk di bawah curug yang bisa digunakan untuk bermain air atau mandi. Untuk keperluan makan dan minum bagi pengunjung yang tidak membawa bekal, pengelola curug menyediakan satu warung. Selain itu disediakan pula gazebo yang bisa disewa dengan tarif Rp 35.000 per setengah hari, Rp 100.000 untuk 24 jam atau sehari. Untuk keperluan buang hajat, bahkan mandi bila berani, tersedia dua kamar kecil. Masing-masing terdiri dari tiga bilik. Satu berada di seberang loket karcis, satunya lagi berada di sebelah kanan warung atau di belakang loket. Bisa dibilang komplit untuk fasilitas pendukungnya.

kampung tajurhalang
Setelah naik turun bukit, kembali memasuki perkampungan sebelum sampai ke jalan raya.

Setelah selesai menikmati dan bersantai di area curug, pulangnya kita melalui jalan yang sama saat kita datang bila mengendarai motor atau mobil. Bila jalan kaki, kita bisa memilih alternatif jalan lain seperti yang saya lakukan. Saya tidak kembali menyusuri jalan yang sama saat pulang. Saya menggunakan jalan di samping kamar kecil yang ada di seberang loket karcis. Benar-benar jalan setapak, bukan jalan motor atau mobil. Tak jauh dari kamar kecil, di sisi kanan jalan, ada kolam budidaya ikan sidat. Jalan setapak yang disusuri bersebelahan dengan saluran air. Posisi saluran air berada di sebelah kiri jalan setapak. Tinggal ikuti saluran air itu sampai ketemu titian dari batang pohon yang melintang di atasnya. Kita tidak berbelok dan lewat di atas titian itu tapi terus berjalan kurang lebih sekitar 300 meter belok kanan melewati lahan garapan penduduk. Jalannya turun naik melewati perbukitan. Bila sudah masuk perkampungan berarti kita sudah dekat ke jalan raya. Nanti kita akan keluar dari sebuah gang yang bernama Gang Eyangangot, kemudian belok ke kiri melanjutkan perjalanan menyusuri jalan raya. Bila kita melewati SD Negeri Tajurhalang 03, berarti arahnya sudah benar hingga ketemu pertigaan yang ada plang penunjuk arah hijau bertulisankan Rumah Putih berwarna putih. Di pertigaan itulah kita akan naik angkot rute Ramayana-Tajurhalang ke arah Bogor dan turun di samping BTM lagi seperti saat kita berangkat atau turun di pasar sebelum BTM.

gang eyangangot
Gang Eyangangot, jalur keluar ke jalan raya.
pertigaan tajurhalang
Pertigaan tempat naik angkot rute Ramayana-Tajurhalang.

Melakukan hiking ke curug yang memiliki lima nama itu bisa dilakukan kurang lebih selama empat jam dihitung mulai dari berangkat sampai kembali ke titik awal berangkat. Waktu itu saya menghabiskan waktu lebih lama satu jam karena berlama-lama menikmati suasana yang menenangkan di area curug sambil minum kopi kalosi toraja yang saya bawa dari rumah setelah menyantap nasi uduk yang dibeli dari warung. Kalau dulu saat gagal mencari curug ini dianggap hutang, sekarang sudah saya lunasi. Saat itu saya tahunya nama curug itu Curug Putri atau Curug Pelangi. Ternyata bukan hanya dua itu, ada tiga nama lagi yang dimilikinya yaitu Curug Kuwung-kuwung (bahasa Sunda, artinya pelangi), Curug Katumbiri (bahasa Sunda, artinya pelangi juga), dan Curug Putri Pelangi. Nama terakhir itulah yang dipakai oleh pengelola curug. Di atas gerbang masuk di sebelah kanan loket karcis, tertulis Curug Putri Pelangi.

harga tiket curug putri pelangi
Loket karcis masuk Curug Putri Pelangi.

 

2 COMMENTS

  1. Saya sudah 3 kali ke curug nya , terakhir tahun 2007 , pernah ngecamp pula 2 kali di sana , tahun baru 2007 dan satu lg skitaran tahun 2006 , waktu masih SMA.. dulu blum ada yg ngelola , lokasi curug masih blum banyak yg tau .. dan masih sangat asri ..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here