sapi perah dari kaliurangPerjalanan saya ke Kaliurang Yogyakarta beberapa waktu yang lalu penuh dengan kenangan. Seekor sapi perah menjadi oleh-oleh istimewa untuk dibawa pulang ke Bogor. Saya membawanya dengan sebuah bis malam. Yang menggembirakan, Sopir dan penumpang lainnya tidak keberatan dengan sapi perah yang saya peroleh dari Kaliurang itu.

Anda tentu bertanya-tanya bagaimana mungkin seekor sapi bisa masuk bis malam berbaur dengan penumpang lain yang jelas-jelas berujud manusia. Bila anda berpikir sapi perah itu seekor binatang, saya tidak menyalahkan pikiran anda. Jika di benak anda muncul gambar seekor sapi berbadan putih dengan belang-belang hitam, saya juga maklum. Toh itu pikiran-pikiran anda sendiri. Anda bebas sebebas-bebasnya menggunakannya untuk berpikir maupun berimajinasi sekalipun. Sayangnya binatang yang tergambar di kepala anda itu tidak sama dengan sapi perah yang saya maksud.

Kalau anda rajin mengikuti tulisan-tulisan di blog ini, mungkin anda bertanya kok lagi-lagi muncul artikel bernuansa Yogyakarta. Ya, tulisan ini memang bukan tulisan pertama yang saya buat setelah pulang dari dan terkait dengan Kaliurang atau Yogyakarta. Lima artikel yang mendahului postingan ini adalah Fakir Bandwidth, Nganggur Is An Art, Impossible People, 3 Bujang ke Keraton, dan Bertemu Christina Aguilera. Ada satu draft artikel lagi yang sedang menunggu sentuhan mesra saya dan tidak tertutup kemungkinan akan muncul tulisan-tulisan lain yang sejenis.

Mengapa belakangan ini banyak tulisan yang saya buat terkait dengan kegiatan temu online publisher bertajuk Nganggur Itu Anugerah yang diadakan di Kaliurang Yogyakarta beberapa waktu yang lalu? Saya sendiri juga heran. Semangat berbagi dari sahabat-sahabat yang tergabung dalam Gelatik Selam benar-benar memiliki efek positif yang begitu dahsyat terhadap hasrat menulis saya. Gelatik Selam dengan segala tetek-bengeknya telah berhasil menjadi narkoba kepenulisan. Saya dibuat β€˜sakau’ olehnya. Agar sakau saya itu terobati, saya buatlah tulisan tentang sapi perah ini.

Saya memperoleh sapi perah dalam acara Nganggur Itu Anugerah. Sapi perah itu sebagai hadiah karena saya menjadi peserta yang memberikan testimonium (kesan dan pesan) atas kegiatan yang telah diselenggarakan. Ketika diminta berbicara, sama sekali tidak ada firasat akan mendapat sapi perah. Sebelumnya saya sudah memperoleh doorprize berupa flashdisk 2 G karena menjadi peserta yang pertama kali bertanya. Oleh karena itu saya berpikiran yang sekarang pasti sudah tidak akan mendapat apapun. Siapa sangka, Isnaini yang menjadi pemandu acara mengatakan saya akan memperoleh sebuah domain dan hosting gratis begitu saya selesai bicara dan kembali ke tempat duduk semula. Nah, itulah sapi perah saya.

Kenapa saya katakan sapi perah? Setelah menerima banyak ilmu dari sahabat-sahabat β€˜koplo’ di Gelatik Selam, saya bisa memanfaatkan dan mefungsikan domain + hosting itu sebagai sapi perah yang akan menghasilkan susu bermerek Google Adsense. Mungkin susunya baru bisa dinikmati beberapa bulan kedepan. Mudah-mudahan saja bisa lebih cepat. Agar tidak jenuh saya akan ngenyot susu yang lain dulu sambil menunggu susu yang itu ngocor. πŸ˜†

Berbekal kerja keras dan ketekunan, saya yakin susu Google Adsense akan keluar. Apalagi ada para dewa Adsense di belakang saya yang sangat handal yang dengan ketulusan hati mau berbagi. Dengan memelihara domain hadiah itu layaknya seekor sapi perah, mudah-mudahan nadzar saya untuk kembali ke Yogya untuk mentraktir bisa terwujud dalam waktu yang tidak lama.

Sumber gambar: di sini

10 COMMENTS

  1. @titoHeyziputra: datang aja kalo blogor kopdaran. syarat, tulus ikhlas πŸ˜‰
    sama2, mhn maaf lahir batin juga
    salam persahablogan

  2. Congratulations y kang sapi perahnya, mau donk kebagian susu nya dikit… hehehe

    wah kang, saya mau donk bisa tau informasi seputar kegiatan2 yang berhubungan dengan Blogger, karena dari posting2an yang saya baca, bnyak kegiatan sputar blog dan monetizing yang kang wkf ikutin. Apa mesti ada syarat, untuk ikutan,, hehhe.

    satu lagi nih kang:

    Berenang di Samudra biru sungguh menyenangkan, tetapi berenang di samudra Maaf lauh lebih menkjubkan….

    Mohon maaf lahir dan Batin..

    Salam,
    Tito’s Weblog

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here