>Hari Minggu (7/1/07) ada undangan kawinan di Kampung Setu. Saya, istri, dan anak saya yang bontot berangkat untuk memenuhi undangan tersebut. Sengaja tidak naik ojek agar bisa jalan kaki melewati persawahan yang asri di belakang komplek perumahan. Karena berangkat setelah sholat dzuhur dan panas matahari yang menyengat, saya bawa payung yang besar buat dipakai bertiga.

Sudah lama saya tidak melewati persawahan yang menuju Kampung Setu. Dulu, mungkin lebih dari setahun, terakhir melalui tempat tersebut adalah kebun semangka. Sekarang yang saya lihat adalah kebun jagung yang sudah tinggi-tinggi. Barangkali hampir waktunya panen melihat buahnya yang sudah besar-besar. Spekulasi saja saya jalan di sebelah kebun jagung tersebut. Alhamdulillah ternyata benar. Jalan tersebut menuju Kampung Setu. Jadi saya tidak kesasar. Begitu sampai di perkampungan, saya langsung menuju rumah yang memiliki hajat. Tapi aneh, kok rumahnya sepi-sepi saja. Tidak ada kegiatan layaknya rumah orang hajatan. Istri saya kemudian nelpon ke rumah. Untungnya anak saya yang gede nggak mau ikut. Katanya mau main komputer saja. Dia kemudian disuruh membaca lagi undangan kawinan yang ada di atas meja. Ternyata ….. bukan hari ini acaranya, melainkan minggu depan. Nasiiiibbbb nasib! Padahal perut saya sudah minta diisi. Tadinya sengaja datang setelah sholat dzuhur ngepasin waktunya makan siang. Apa boleh buat, meskipun perut lapar terpaksa saya tahan.

Setelah basa-basi sebentar, kemudian pamitan. Beruntung pemandangan yang indah di sekeliling jalan yang dilewati bisa membuat lupa sementara perut yang lapar. Saat melewati pabrik tahu, saya sempatkan untuk mampir sebentar membeli tahu segar yang baru diangkat. Kalau tidak salah ingat, pabrik tersebut merupakan pabrik baru. Karena seingat saya ketika terakhir melewati jalan tersebut, pabrik tahu itu belum ada. Dari beli tahu tidak langsung pulang tapi naik odong-odong ke Cikampak. Saya ngamuk di rumah makan Padang Harapan Bundo. Jatah nasi buat nambah milik saya sendiri dan istri saya embat habis. Termasuk sepiring sambal yang baru disusulkan karena baru matang. Perut yang lapar menjadi penyebabnya.

SHARE
Previous article>Terrace
Next articleKebun Melati

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here