Seorang sahabat mengirimkan tautan video berjudul Lies, Sex and Cigarettes. Secara sepintas, jelas judul itu plesetan dari judul film yang dibintangi Sarah Jessica Parker: Lies, Sex and the City.

Tentu saja video kiriman sahabat itu tidak mengisahkan kehidupan kota yang penuh kebohongan dan gelimang syahwat seperti dalam filmnya Parker. Kata terakhir dari judul itulah yang menjadi kata kuncinya. Lies, Sex and Cigarettes merupakan kampanye anti rokok yang edukatif dan wajib ditonton siapa saja. Film berdurasi hampir 43 menit tersebut menggambarkan bahaya yang ditimbulkan rokok. Bukan saja derita yang dialami individu tetapi juga kerugian bangsa secara keseluruhan.

Jika mau jujur, siapa yang diuntungkan dengan adanya rokok? Bila selama ini digembor-gemborkan bahwa cukai rokok merupakan pemasukan terbesar bagi kas negara, ya, itu tidak dipungkiri. Akan tetapi, sampaikah pemasukan yang melimpah itu ke kehidupan nyata kita? Sampai, tetapi tidak sebanding dengan risiko yang ditimbulkan rokok. Keuntungan itu lebih banyak dinikmati oleh sekelompok kecil, sangat kecil.

Selalu terjadi pro-kontra bila bicara rokok. Ada kelompok anti rokok di satu kubu, di kubu lain berdiri mereka yang pro rokok. Yang anti rokok berdalih rokok merusak kesehatan, bahkan peringatan di bungkus rokok sekarang malah bukan menganggu kesehatan lagi tetapi ‘membunuhmu’. Mereka juga berargumen perokok itu egois, tidak menghargai hak orang lain untuk menghisap udara bebas asap rokok. Ada juga foto atau gambar akibat merokok yang mereka pajang untuk memperkuat alasan penolakan mereka. Di pihak satunya, mereka yang pro berkata bahwa merokok membantu buruh pabrik rokok untuk tetap hidup, juga para petani tembakau. Mereka berdalih merokok adalah hak. Mereka menuduh adanya propaganda anti rokok ditunggangi kaum imperialis asing. Hasil uji kesehatan mereka tolak karena penuh dengan kepentingan. Bahkan mereka juga menunjukkan data-data pendukung atas ketetapan mereka menjadi pendukung industri rokok.

Pro-kontra terkait rokok itu bukan urusan siapa-siapa, sebenarnya. Atau malah menjadi urusan siapa saja? Dalam hidup ini, siapa sih yang setuju untuk semua hal? Selalu akan muncul pro-kontra dalam hal apa pun, bahkan untuk sesuatu yang menurut kita baik, jangan heran jika ternyata ada yang tidak setuju. Masing-masing memiliki alasannya sendiri bersikap setuju atau menolak. Yang tidak benar di urusan rokok ini, menurut saya, adalah ketidabecusan pemerintah mengelola manusai-manusia busuk yang bermain dalam cukai rokok. Merekalah para koruptor penghisap uang rakyat yang berasal dari cukai rokok. Bila penghasilan dari pajak rokok ini benar-benar dikembalikan ke rakyat, akan lain ceritanya.

Menghilangkan koruptor di negeri ini, bukan hanya dalam urusan pajak rokok, masih berupa seandainya. Upaya KPK memenjarakan koruptor satu demi satu saat ini perlu didukung semua pihak. Para koruptor dan begundalnya inilah yang sebenar-benar musuh rakyat, bukan pendukung rokok bagi mereka yang anti rokok atau sebaliknya. Mereka yang ribut urusan rokok sementara di sekelilingnya ada ancaman besar bagi rakyat ini seperti mburu uceng kelangan deleg, mengurusi yang sepele sementara ada urusan besar yang harusnya diberesi. Ah, saya terlalu melantur rupanya. Setiap orang tentu punya prioritas. Bisa dimaklumi bila mereka lebih mengurusi rokok karena kampanye anti rokok penting bagi kehidupan mereka, atau merapatkan barisan untuk membela para petani tembakau dan buruh pabrik rokok lebih penting karena lebih dekat dalam kehidupan dan kepentingan mereka. Mengurusi negara yang menyengsarakan rakyatnya karena membiarkan para koruptor berpesta pora di dalam pemerintahan juga di tubuh DPR bukanlah hal krusial bagi mereka. Barangkali.

Sumber gambar: di sini

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here