Ngerasa nggak kalo puasa Ramadhannya sudah jalan 26 hari? Berarti bentar lagi kita akan lebaran. Kira-kira empat harian. Itu bila tidak ada perubahan. Di saat menjelang lebaran seperti ini merupakan hal yang lazim orang memberi dan menerima bingkisan. Begitu juga dengan yang saya alami. Saya malahan bukan hanya sekedar mendapatkan bingkisan lebaran, yang saya terima adalah harta karun.

Berlebihan ya menurut anda? Tidak bagi saya. Saya bukan saja menganggapnya tidak berlebihan, tetapi bahkan luar biasa. Memang saya sering menerima bingkisan lebaran. Berbagai bentuk bingkisan lebaran sudah pernah saya terima. Berujud uang, hampir setiap tahun. Berupa barang, seperti baju koko, sarung, atau makanan bukan sekali dua. Parcel yang isinya macam-macam juga pernah. Tetapi pemberian yang satu ini, yang saya anggap sebagai bingkisan lebaran karena diberikan menjelang lebaran, saya lebih senang bila menyebutnya sebagai harta karun. Mengapa? Karena yang diberikan itu adalah dokumen-dokumen tentang RM Tirto Adhi Soerjo (TAS) dan yang memberi merupakan keturunannya langsung.

Saya tidak merasa lebih beruntung dari Pramoedya Ananta Toer yang telah mengisahkan perjalanan hidup TAS dalam Sang Pemula dan tetralogi roman sejarahnya dengan begitu memukau, tetapi saya sangat beruntung keturunan (buyut) pahlawan nasional itu sendiri yang langsung menghadiahi saya. Cuma sayangnya, fotokopian Medan Prijaji yang sangat saya inginkan tidak termasuk dalam dokumen yang dihadiahkan itu. Untungnya buyut TAS itu sangat baik hati dan berjanji akan memberikannya nanti.

Siapa itu TAS? Dia itu kakek buyutnya teman saya yang bernama Shita Dewi Ratih Permatasari, M.Hum. Teman sekerjanya biasa memanggilnya Shita, tetapi bila di rumah dia memiliki nama panggilan yang berbeda. Sayangnya saya diwanti-wanti untuk tidak menuliskannya di sini. Bukan oleh dia, tetapi oleh teman sekantor dia yang sering saya boncengkan motor. Anda bisa ketemu teman saya yang lebih senang dipanggil Shita ini di Fakultas Sastra, Universitas Pakuan Bogor. Tinggal tanya saja ke orang-orang yang ada di kampus itu. Siapapun pasti akan tahu sebab dia ini orang yang sangat terkenal. Bahkan bila kucing pun bisa ngomong, anda bisa juga bertanya kepadanya. Sehari-harinya, Shita ini suka dikerubutin kucing. Dia adalah ibu angkat dari semua kucing yang ada di sekitar situ.

Kembali lagi ke sosok TAS yang ditanyakan tadi, bila anda telah membaca tulisan saya yang berjudul Medan Priyayi, anda pasti tahu siapa dia. Tulisan saya kali ini tentang RM Tirto Adhi Soerjo yang merupakan pendiri koran pertama Indonesia, Medan Prijaji. Dia mendapat anugerah semasa Orde Baru di tahun 1973 sebagai Perintis Pers Indonesia. Di masa pemerintahan SBY sekarang ini, selain gelar pahlawan nasional, TAS juga memperoleh tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana yang diserahkan kepada keluarganya pada 3 November 2006.

Saya punya banyak bahan yang diberikan langsung oleh buyutnya untuk membuat tulisan mengenai profil salah satu tokoh yang akhirnya diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional ini. Bukan hanya tulisan-tulisan tentang dirinya, tetapi juga ada foto TAS, istri pertamanya Raden Ayu Siti Suhaerah, dan makam TAS yang ada di pemakaman Blender, Kebon Pedes, Bogor.

RM Tirto Adhi Soerjo yang nama kecilnya Djokomono adalah anak kesembilan dari sebelas bersaudara. Dia lahir di Blora tahun 1875. Ayahnya seorang pegawai kantor pajak pada masa pemerintah Hindia Belanda bernama Raden Ngabehi Tirtodhipoero. Setelah orangtuanya meninggal, TAS kemudian ikut neneknya Raden Ayu Tirtonoto. Dari neneknya inilah TAS diajarkan untuk menjadi manusia yang mandiri. Didikan neneknya telah menumbuhkan jiwa entrepreneurship dalam diri TAS.

Bentar dulu! Menyoroti tahun kelahiran TAS, saya kok menemukan adanya perbedaan dalam artikel dan berita di media, majalah, maupun buku. Banyak yang menyebutkan tahun kelahiran TAS 1880. Padahal dalam buku yang ditulis anak sulung TAS, RM Priatman, yang berjudul Perdjoangan Indonesia dalam Sedjarah, cetakan kedua, diterbitkan oleh Badan Penerbit Patani, Bogor tahun 1950, di situ disebutkan TAS lahir 1875. Saya rasa perbedaan itu terjadi karena sumber yang digunakan sama yaitu buku biografi RM Tirto Adhi Soerjo tulisan Pramoedya Ananta Toer berjudul Sang Pemula. Dalam buku itu dituliskan tahun kelahiran TAS adalah 1880.

1880 yang dinyatakan sebagai tahun kelahiran TAS saya temukan dalam:

  1. artikel di Kompas, 1 Januari 2000, tulisan Th Sumartana,
  2. opini di Pikiran Rakyat, 27 April 2006, tulisan Prof. DR. Nina Herlina Lubis, M.S., Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Unpad,
  3. reportase di Pikiran Rakyat 28 April 2006,
  4. artikel di Pikiran Rakyat, 9 November 2006, tulisan Prof DR. Nina Herlina Lubis, M.S.,
  5. reportase di Pos Kota, 16 November 2006,
  6. majalah I:BOEKOE! Edisi 1907-2007 Seabad Pers Kebangsaan, tahun 2007, halaman 14.

Penyebutan tahun kelahiran TAS yang lain lagi yaitu 1878 saya temukan dalam buku berjudul Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan karangan Ahmat Adam, Guru Besar di Universitas Malaysia Sabah. Entah dokumen mana yang digunakan oleh pak Guru Besar ini.

Nomor 1, 2, 4, 5, dan 6 juga menyebutkan tahun kematian TAS yang berbeda dengan yang ditulis oleh RM Priatman. Lima tulisan di atas menyatakan tahun kematian TAS 1918 sedangkan RM Priatman dalam bukunya menyebutkan 1917.

Bila saya disuruh memilih, sudah pasti saya akan memilih dan lebih percaya yang berasal dari keturunan TAS langsung. Bagaimana dengan anda? Biar anda tidak penasaran, berikut saya nukilkan tulisan yang berbentuk puisi yang dibuat oleh RM Priatman tentang romonya, RM Tirto Adhi Soerjo, dalam buku Perdjoangan Indonesia dalam Sedjarah halaman 89.

SIAPA PELOPOR DJURNALISTIK DI INDONESIA
1875 – 1917

Raden Mas Tirtoadisoerjo
Nama ketjilnja Djokomono
Keturunan Tirtonoto
Bupati Bodjonegoro.

Peladjar S.T.O.V.I.A. di Djakarta
Penulis pembela Bangsa
Membasmi sifat pendjadjah Belanda
Dengan tulisan jang sangat tadjam penanja.

Membuka sedjarah Djurnalistiknja
“Medan Prijai” warta hariannja
Suluh keadilan dan Putri Hindia
Ada dalam pegangan Redaksinja.

Tiap perbuatan dari pendjadjah,
Jang akan membuat lemah,
Terhadap Nusa dan Bangsa kita,
Diserang dan dibasmi dengan sendjata penanja.

Akibat dari sangat tadjam sendjata penanja
Pendjadjah dengan kekuasaannja
Mendjatuhkan hukumannja
Marhum Tirtoadisoerjo diasingkan dari tempat kediamannja.

Lampung adalah tempat tudjuannja
Setibanja di pengasingan terus berdjuang
Tak ada tempo jang terluang
‘ntuk membela Nusa dan Bangsanja.

Pelopor Djurnalistik Indonesia
Tahun 1875 adalah tahun lahirnja
Pada tahun 1917 wafatnja
Mangga Dua di Djakarta beliau dimakamkannja.

Setelah neneknya meninggal, TAS pindah ke rumah saudara sepupunya di Madiun. Kemudian ke Rembang untuk tinggal bersama kakaknya RM Tirto Adi Koesoemo yang menjadi Jaksa Kepala di sana. TAS selanjutnya masuk sekolah kedokteran, STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), di Batavia pada usia 14 tahun. Sayangnya pendidikan itu tidak dia rampungkan.

Walaupun pendidikannya di STOVIA berhenti, kepintaran TAS dalam jurnalisme terus berkembang. Sebelum menjalankan korannya sendiri, TAS sering mengirim tulisannya ke sejumlah surat kabar dalam bahasa Belanda dan Jawa. 17 April 1902, cerita bersambungnya yang berjudul Pereboetan Seorang Gadis dimuat pertama kali di Pembrita Betawi. Setelah itu, di bulan Mei 1902 TAS ditunjuk F Wiggers menjadi pemimpin redaksi Pembrita Betawi tetapi di tahun 1903 berhenti karena berbeda pendapat dengan Wiggers.

Masih di tahun 1903 setelah keluar dari Pembrita Betawi, TAS mendirikan koran sendiri Soenda Berita yang diterbitkan setiap hari Minggu bekerjasama dengan Bupati Cianjur RAA Prawiradiredja. Koran ini merupakan surat kabar pribumi pertama yang menggunakan bahasa Melayu yang dikelola dan didanai oleh pribumi. Sayangnya Soenda Berita hanya bertahan sampai 1906. Agar anda juga bisa menikmati seperti apa tulisan yang dibuat pada masa itu, berikut saya salinkan resep masakan favorit saya yang ternyata pada saat itu sudah ada meskipun sedikit berbeda namanya. Resep Lembaran (saya menyebutnya Lembarang) ini dimuat dalam Soenda Berita terbitan hari Minggu, 14 Februari 1904. Selamat menikmati masa nostalgik bersama RM Tirto Adhi Soerjo.

LEMBARAN
olih Raden Ajoe Poerodimedjo

Ajam 1 dipotong-potong, abis dimasak sama aier klapa seprapat di bakar doeloe sabentar; bawang bakar 3 sindok makan, kemiri bakar 50, laos bakar 3 iris dan garem 2 sindok thee, ditjampoer abis ditoemboek aloes dan lantas di goreng sama minjak goerih 3 sindok makan, sampe mateng. Kaloek soedah, ajam tadi ditjaboeti toelangnja lantas daging dan boeljonnja ditjampoer sama boemboe tadi, abis di masak.

Kapan soeda masak sebentar ditambahi santen klapa setengah, sere 1 potong, daon djeroek poeroet 2 lembar dan blimbing asem (tjalintjing) belahan 4; abis di masak teroes, sampe boeket koewahnja.

Gimana, paham maksudnya? Kaloek resip itoe boeat kamoe orang poesing, ya soedah la begimana soekamoe. Betoel?

Setelah Soenda Berita, TAS kemudian menerbitkan Medan Prijaji pada 1 Januari 1907. Pena TAS terkenal tajam. Tulisannya membuat takut para penguasa dan bangsawan yang korup. Di lain pihak TAS dan Medan Prijaji-nya menjadi tempat mencari keadilan bagi rakyat kecil. Karena tulisannya yang berani itulah TAS pernah dibuang sebanyak dua kali ke Teluk Betung Lampung (1910) dan Ambon (1913). Keberaniannya juga lah yang akhirnya mengakhiri Medan Prijaji pada 22 Agustus 1912. Disamping Pembrita Betawi, Soenda Berita, dan Medan Prijaji, sejumlah surat kabar lain yang pernah dikelola TAS adalah Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, dan Sarotomo.

TAS menikah pertama kali dengan putri bangsawan Cianjur bernama Raden Ayu Siti Suhaerah. Dari perkawinan itu lahirlah RM Priatman. Dalam perkawinan keduanya dengan RA Siti Habibah, TAS memiliki anak RA Julia dan RM Hasan. Setelah itu TAS menikah dengan Prinses Fatimah atau lebih dikenal dengan Prinses van Bacan yang dinikahi saat dia berada di Maluku.

Kesehatan TAS sering terganggu setelah kembali dari pembuangannya di Ambon. Pada 7 Desember 1917 TAS akhirnya meninggal. Dia awalnya dimakamkan di Mangga Dua Jakarta. Oleh keluarganya, jasadnya kemudian dipindahkan ke pemakaman Blender, Kebon Pedes, Bogor tahun 1973. Tanggal kematian itulah, 7 Desember, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pers Indonesia sebagai bentuk penghormatan kepada TAS, dan tahun berdirinya Medan Prijaji, 1907, dijadikan sebagai awal tahun pers kebangsaan. Dengan demikian, saat ini usia pers kebangsaan sudah mencapai 101 tahun. Soedah tjoekoep toea boekan?

4 COMMENTS

  1. sangat menarik. hm… sayang sekali penuturan di atas sedikit berbeda dengan yang dikisahkan Pram dalam tetralogi Pulau Buru, yang justru banyak saya jadikan rujukan untuk membuat artikel tentang TAS. saya sempat kaget waktu mas Wongkamfung menyebutkan kalau sumber tulisannya berasal dari keterangan buyut TAS, padahal Pram menyebutkan TAS belum punya keturunan sampai wafat.
    tapi dari tulisan mas Wongkamfung saya jadi tahu, tulisan Pram hanya sekedar roman untuk mengapresiasi TAS, dan bukan biografi TAS dalam artian yg sebenarnya. oke, trims mas Wongkamfung. oh ya, boleh minta alamat FB Shita Dewi tadi?

  2. menambah khasanah pengetahuan, cukup berharga informasi yang diberikan dalam tulisan pendek ini.. kalu boleh usul, tolong dilampirkan tulisan asli TAS yang dikenal tajam itu seperti apa? terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here