Resolusi itu janji. Namanya janji harus ditepati. Namun kenyataannya, sebagian dari kita tidak menepati apa yang sudah kita janjikan. Ketika di akhir tahun kemarin anda membuat sebuah resolusi untuk tahun sekarang, apakah anda yakin akan menjalankannya? Bila ternyata nanti anda mengabaikan apa yang sudah diresolusikan, itu artinya anda telah membohongi diri anda sendiri.

Saya bukannya tidak setuju dengan resolusi yang biasa dibuat oleh sebagian dari kita menjelang tutup tahun. Membuat resolusi atau tidak adalah sebuah pilihan. Ketika anda mendeklarasikan resolusi anda baik secara diam-diam maupun terbuka, saya yakin anda memiliki tujuan melakukan itu. Begitu juga sebaliknya, bila anda memilih untuk tidak membuat resolusi, saya juga maklum mengapa anda memutuskan seperti itu. Baik membuat maupun tidak membuat resolusi, masing-masing tentunya memiliki alasan. Lalu, apa yang akan dibicarakan dalam tulisan ini tentang resolusi? Ini bukan hujatan, tidak pula sebuah pembenaran. Jika anda tidak setuju dengan tulisan ini, silakan saja menulis komentar di bawah tulisan ini. Atau bila anda lebih memilih diam meski anda tidak suka dengan tulisan ini, ya tidak apa-apa. Namun bila saya boleh menyarankan, suka tidak suka, sebaiknya anda tuliskan saja uneg-uneg anda itu. 😉

Menjelang akhir tahun dan awal tahun, kata resolusi menjadi primadona. Banyak manusia maupun media menyebut-nyebut istilah itu. Seolah-olah resolusi merupakan ucapan wajib yang harus disuarakan siapa saja. Terus, apa istimewanya dari resolusi? Bagi orang yang biasa teratur dan terencana, resolusi tentu saja barang yang harus dimiliki. Resolusi menjadi acuan yang harus dipersiapkan di saat kakinya akan menapak. Untuk menghadapi tahun 2012, mereka harus memiliki resolusi yang sempurna. Tanpa ada resolusi, orang-orang terencana ini akan seperti babi buta, kelabakan dan bingung harus melangkah ke mana dan bagaimana. Mereka menjadi orang yang memiliki kepercayaan diri dalam menjalani hidupnya karena mempunyai sebuah resolusi, begitu juga sebaliknya.

Untuk mereka yang tidak terbiasa dengan rencana, resolusi hanyalah sebuah kata yang cukup diabaikan. Tidak ada untungnya repot-repot menyusun resolusi. Resolusi cuma kata tak penting bagi hidup mereka. Mereka abai dengan makna dan tak akan mendeklarasikan resolusi. Hidup mereka seperti pucuk cemara yang akan bergerak ke mana angin mendorongnya. Hidup mereka serasa tanpa tujuan, tak ada kemauan, menjalankan kehidupannya sebagaimana yang mereka inginkan. Orang-orang ini bukan memikirkan ‘nanti gimana’ tetapi mereka lebih suka berfalsafah hidup ‘gimana nanti’. Salahkah mereka? Ya, bagi mereka yang lebih peduli ‘nanti gimana’. Adakah orang-orang seperti ini? Untuk pertanyaan ini, saya lebih suka menjawab tidak ada. Atau barangkali lebih tepatnya, sebenarnya tidak ada tetapi karena keadaanlah yang membuat mereka terlihat seperti itu. Saya yakin semua orang memiliki impian dalam hidupnya. Impian itulah tujuan resolusi dari semua orang, baik resolusi itu diucapkan maupun tidak.

Bila sekarang anda memiliki resolusi untuk tahun ini, tepatilah, karena resolusi adalah janji. Bila tidak, itu artinya anda telah membohongi diri sendiri atau bisa jadi juga orang lain. Jika di penghujung tahun kemarin atau pas malam tahun baru anda beresolusi, jalankanlah, karena resolusi adalah rencana. Bila tidak anda jalankan, untuk apa anda mendeklarasikan resolusi? Jangan sampai resolusi anda merupakan rencana yang tinggal rencana.

Resolusi adalah pilihan. Kita bebas memilih untuk membuat resolusi atau tidak. Orang yang tidak memiliki resolusi bukan berarti tidak teratur dan tidak memiliki tujuan dalam hidupnya. Begitu juga orang yang membuat resolusi tidak otomatis hidupnya sesuai rencana. Kita hanya bisa berencana melalui resolusi, itupun jika mau. Ada perencana lain yang kita sendiri tidak mungkin membuat rencana untuk menghadapi kehendak Sang Perencana itu. Jadi tak usahlah terlalu pusing dengan resolusi. Bukan itu yang penting. Ada yang lebih penting dan paling penting, hiduplah. Daripada berpusing-pusing dengan resolusi, lebih baik makan risoles isi. Terserah mau isi apa. Tak perlu ditepati, bikin kenyang, pasti. Tuh, mantap kan?

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here