reuni virtualReuni Itu Menyebalkan. Benar, reuni itu memang menyebalkan. Saya pernah menuliskannya. Bila anda sudah baca tulisan itu, anda pasti tahu apa yang saya maksud. Jika belum, silakan dibaca dulu, agar bisa nyambung dengan tulisan ini.

Kali ini saya akan cerita lagi tentang reuni. Reuni virtual. Bukan vital lho, tapi virtual. Saya perlu tegaskan kata itu karena ada teman yang mengira vital. Kesalahan itu saya anggap wajar saja terjadi karena keduanya sepintas agak-agak mirip, ditambah lagi teman saya yang satu ini memang agak ‘ngeres’ orangnya. Pernah dengar, reuni virtual? Jika belum, saatnya sekarang anda dengarkan, eh, baca.

english 85
foto sebelum 'retouch'

Di jaman sekarang ini reuni bisa saja dilakukan tanpa harus bertemu muka, atau bahasa Jawanya ‘face to face’. Memang, tentu saja rasanya beda antara ngobrol dengan orang yang ada di depan mata dengan yang tidak. Namun setidaknya, dengan kemudahan melakukan kumpul-kumpul dan chatting meski tidak saling menatap muka, tali silaturahim tetap bisa tersambung. Dengan berinteraksi secara online antar teman, rasa kangen yang terpendam bisa terlampiaskan. Bercanda seperti saat dulu masih sering bertemu tetap bisa tercurahkan melalui media online. Itulah yang disebut dengan reuni virtual.

Media untuk berinteraksi semacam email atau chatting menggunakan YM dan software lain memang sudah lama ada. Saya masih ingat puluhan tahun yang lalu ngobrol dengan banyak teman menggunakan salah satu software chatting. Begitu asyiknya hingga tak terasa sudah berjam-jam saya duduk menghadap monitor dengan jemari tangan menari-nari di atas keyboard.

Bila reuni ‘face to face’ tidak bisa dilakukan, reuni ‘face to monitor’ juga mengasyikkan. Apalagi dengan munculnya situs jejaring sosial Facebook yang begitu mewabah saat ini, reuni virtual sangat mudah dijalankan. Coba saja anda perhatikan, banyak foto-foto ‘jadul’ yang diunggah (upload) selanjutnya diikuti dengan komentar-komentar tentang foto itu. Banyak cerita lama yang disampaikan kembali dalam dinding status atau komentar. Kemudian, terjadilah yang namanya reuni virtual. Melalui layanan Facebook, banyak orang bereuni secara online. Meskipun masing-masing tidak bisa melihat, komentar yang dituliskan tetap sahut-menyahut dan saling sambung.

english 85
foto hasil 'retouch'

Seperti yang pernah saya lakukan belum lama ini, karena sebuah foto yang saya unggah, ternyata menyebabkan terjadinya reuni virtual. Foto tersebut sebenarnya tidak ada gambar saya. Setelah saya retouch kemudian saya unggah, foto itu jadi menghebohkan. Teman-teman yang sudah tersebar di berbagai belahan dunia (Filipin, Ostrali, Amrik, Belgi, juga berbagai wilayah di Indonesia) kemudian saling ngobrol melalui komentar yang ditulis. Mereka yang tadinya hanya sebagai pengamat pasif rupanya gatal juga untuk berkomentar. Akhirnya, kami bisa bereuni meskipun secara virtual.

reuni virtual
Ada 90 komentar saat gambar ini diambil dan terus bertambah. Klik gambar ini untuk melihat seluruh komentar di Facebook.

Reuni itu memang menyebalkan, karena bertemu sebentar kemudian harus berpisah. Reuni virtual juga menyebalkan. Namun meskipun menyebalkan, saya ingin terus melakukan.

Selama hayat masih dikandung badan, reuni virtual tetap akan saya jalankan. Biar aral melintang menghadang di ujung pandang maupun di bawah selangkang, tak kan kulari lintang pukang. Tarik maaaangggg…

Sumber gambar: figur hijau salaman

6 COMMENTS

  1. Dari sekian banyak komunitas di kantong, hanya engkaulah komunitas nggondes yg di hati …… Ngangeni gitu loh (muaaahhh) . Nggilani rak, ndes ??

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here