>Besuk bulan suci tiba. Marhaban ya Ramadhan. Sebuah keberuntungan yang tak terhingga bila kita bisa kembali bertemu dengan bulan yang dinanti-nantikan ini.
Kenapa ditunggu-tunggu, karena bulan ini penuh rahmat dan ampunan. Ibarat supermarket, bulan Ramadhan adalah bulan diskon. Banyak kelimpahan yang diberikan. Lailatul qadr contohnya. Nilai ibadah setara 83 tahun dijanjikan oleh Alloh bila bisa ketemu dengan lailatul qadr. Imbalan yang sangat menarik mengingat kita belum tentu bisa mencapai usia segitu.

Barangkali bukan itu yang menjadi fokusnya. Yang terpenting dalam Ramadhan adalah puasa beserta aktifitas ibadah lainnya dijalankan dengan ikhlas. Kesempatan bisa menjalankan puasa Ramadhan bak mesin yang di tune up. Pencernaan yang selama sebelas bulan dipaksa untuk bekerja, sekarang sudah waktunya untuk diberi kesempatan istirahat sejenak. Ginjal yang bertanggung jawab menyortir racun yang masuk bersamaan dengan makanan bisa sedikit lega. Porsi racun yang dia proses tidak sebanyak sebelum Ramadhan. Makanya kalau ingin sehat, puasalah.

Puasa itu ibadah ekslusif. Bila ibadah lain bisa dilihat orang lain, seperti sholat, zakat, atau haji, ibadah yang satu ini urusannya hanya antara pelaku dan Rabnya. Sang Khalik akan langsung memperhitungkan imbalan dari ibadah puasa yang dijalani hambanya. Seperti firman-Nya dalam hadits Qudsi:

“Kulluu ‘amali ibnu aadama lahu illash-syiyaam. Fa innahu lii wa ana ajzii bihi – Setiap amal anak Adam adalah untuknya sendiri kecuali shaum, karena shaum itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Ibadah ini juga mendidik kita untuk menjadi sabar. Mendidik manusia menjadi seorang muttaqien. Seorang yang selalu waspada dan hati-hati dalam mengemudikan mobil kehidupannya. Berusaha menjalankan segala perintah dan menjauhi larangannya. Ramadhan melatih kita untuk lebih tepo seliro (tenggang rasa). Banyak kaum yang dipaksa berpuasa meskipun bukan Ramadhan karena kefakirannya. Mereka bukannya punya hak istimewa untuk berpuasa. Puasa mereka lakukan karena keterpaksaan.

Ramadhan itu milik siapa saja. Milik umat muslim di manapun tempatnya. Tidak ada yang punya hak untuk mengklaim ibadah tersebut khusus milik yang kaya saja atau kaum papa semata. Semua punya kesempatan untuk memanen pahala dalam bulan mulia ini. Marilah kita ber-fastabikul khoirot, berlomba-lomba ke arah kebaikan. Ber-amar ma’ruf nahi munkar, bukan malahan amar munkar – ngajakin yang nggak bener.

Selamat menunaikan ibadah shaum. God blesses you.

SHARE
Previous articleBeda Kepala Beda Konsep
Next articleGuru Gagap

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here