prestasi tanpa isiNgapain ikut komunitas jika saya bisa mandiri? Buat apa kelompok bila saya bisa lebih cemerlang daripada kelompok itu sendiri? Maaf-maaf saja jika saya harus mengikuti ritme komunitas. Merekalah yang harusnya mengikuti langkah saya karena saya lebih cemerlang.

Seperti itulah yang akan terjadi bila seorang anggota dari sebuah komunitas silau dengan pencapaian suatu prestasi yang ’kebetulan’ dapat dia raih. Mengapa saya katakan kebetulan? Karena pada dasarnya siapapun memiliki peluang yang sama untuk bisa berprestasi seperti itu sebagaimana semua orang mempunyai jumlah waktu yang sama dalam satu hari, yaitu 24 jam. Lalu mengapa hasilnya bisa tidak sama? How yang berbedalah yang menghasilkan prestasi yang berbeda pula. How itulah intinya ’kebetulan’ yang saya maksud. Anda boleh-boleh saja berbeda dengan pendapat saya. Silakan.

Yang namanya prestasi bisa berbentuk apa saja. Bisa positif bisa negatif. Yang dicapai Gayus Tambunan, contohnya, adalah sebuah prestasi. Namun, apakah prestasinya itu positif? Dari pengungkapan kecerdasan yang dilakukan Howard Gardner ternyata kecerdasan manusia itu bukan hanya tunggal tetapi multi atau oleh Gardner disebut multiple intelligences. Di kecerdasan-kecerdasan itulah seseorang bisa mencapai sebuah prestasi. Jika orang lain tidak sebagus anda dalam bidang tertentu, bukan berarti dia tidak berprestasi. Sangat mungkin dia memiliki prestasi di bidang lain yang bisa jadi jauh lebih berbobot dibandingkan prestasi yang anda miliki. Hasil penelitian Gardner itu akhirnya membuka mata banyak orang bahwa kecerdasan itu bukan hanya yang ditentukan oleh psychometrics (IQ test). Jadi, jika anda punya prestasi, tidak usahlah lebay dengan prestasi yang anda miliki itu. Siapapun memiliki prestasi dalam keahliannya masing-masing. Senang boleh-boleh saja, bangga silakan, tapi lakukanlah itu semua secara proporsional, jangan emosional apalagi tidak rasional.

Anda juga boleh berbeda dengan cara saya melihat prestasi seseorang. Siapapun pasti akan bangga atau setidaknya akan senang saat mencapai sebuah prestasi. Dan wajar saja bila pencapaian itu kemudian dirayakan. Tentu saja saya juga kagum dan angkat topi terhadap pencapaian yang berhasil diraih itu. Hanya saja saya akan menjadi muak dan akan membanting ke tanah topi yang terlanjur saya angkat itu bila keberhasilan itu kemudian menjadikannya lupa akan bumi yang dia injak alias lupa daratan. Bagi saya, prestasi yang dicapai tidak lagi ada nilainya bila kemudian pemilik prestasi itu meremehkan dan membuat sakit hati orang lain. Memang, jika tidak hati-hati, prestasi bisa menciptakan arogansi dan membuat pemiliknya besar kepala.

Orang seperti ini sudah pasti akan menjadi borok bila ada dalam sebuah komunitas. Bila anda tergabung dalam sebuah komunitas dan menemukan orang seperti ini, ada dua pilihan yang bisa anda lakukan bila anda ingin tetap nyaman berada dalam kelompok itu. Pertama, ingatkan anggota yang biasanya juga oportunis tersebut untuk kembali ke jalan yang benar. Dengan demikian, gerak langkahnya akan berada dalam jalur yang sama dengan anggota-anggota lain. Saat tindakan pertama ini dijalankan, wajar bila terjadi penolakan dari yang bersangkutan. Apalagi jika anggota tersebut merasa lebih hebat dan merasa anggota yang lain tidak berhak mengambil tindakan itu terhadapnya, akan kuatlah ’mbalelo’nya itu. Kedua, tindakan ini harus diambil jika yang pertama tersebut tidak berhasil dan syaratnya harus memiliki wewenang atau kekuasaan dalam komunitas itu. Keluarkan dari komunitas! Siapa yang akan anda bela jika muncul pilihan kepentingan: kepentingan mayoritas atau kepentingan minoritas/perorangan? Biarkan dia pergi dengan membanggakan prestasinya. Komunitas tidak membutuhkan orang berprestasi jika dia menjadi duri dalam daging bagi yang lain. Kepentingan orang banyak (mayoritas anggota) jelas lebih utama daripada kepentingan minoritas bahkan jika yang minoritas ini berprestasi sampai langit ke tujuh sekalipun.

Ada satu pilihan lagi atau opsi ketiga yang sebenarnya tidak untuk dipilih namun seringnya malah itu yang diambil. Opsi ketiga ini adalah tidak mengambil pilihan pertama atau pilihan kedua. Keadaan yang ada dibiarkan berlangsung tanpa ada upaya memperbaiki atau menghentikan. Jika itu yang anda lakukan, jangan ngebul kepalanya bila sering dibuat sakit hati. Dan siap-siap saja menghadapi stroke gara-gara kolesterol tinggi karena sering makan hati.

Tulisan ini bukan mengenai rasa iri melihat orang lain berprestasi, tetapi tentang polah segelintir orang yang menganggap dirinya lebih berhasil dalam sebuah komunitas. Yang kemudian akibat polahnya itu, anggota lain dari komunitas tersebut menjadi tidak nyaman. Cerita ini bisa fiksi bisa nyata. Yang manapun itu, barangkali kata-kata bijak yang merupakan oleh-oleh dari teman ini bisa diambil sebagai pelajaran sekaligus bahan renungan: ”Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras tetapi juga keberuntungan. Keberuntungan itu bersahabat dengan kebaikan. Maka, jadilah orang baik. Dengan menjadi orang baik, keberuntungan akan sering menghampiri.” Tahu ciri-ciri orang baik? Tidak membuat orang lain sakit hati adalah salah satunya. Tidak mementingkan diri sendiri adalah salah duanya.

Memang, menjadi orang berprestasi itu baik. Namun jika dia ada dalam sebuah komunitas dan prestasinya itu kemudian membutakan mata hatinya terhadap kepentingan anggota lain serta hanya berorientasi pada urusan pribadi maka sudah tiba waktunya orang seperti ini dibuang dari komunitas tersebut. Orang seperti ini akan menjadi racun bagi yang lain. Pun, tidak ada gunanya komunitas memiliki anggota yang beracun. Saya pribadi akan mengangkat topi tinggi-tinggi menghormati prestasinya. Tapi tunggu dulu, saya juga akan membanting kuat-kuat bila tahu prestasinya itu beracun.

Apa atau siapa yang saya banting coba? Yang bisa jawab dapat makan siang gratis… di rumahnya masing-masing.

Sumber gambar: di sini

31 COMMENTS

  1. ah.. beruntung saya menemukan serpihan tulisan Om wkf ini.
    setuju, bener banget.. berprestasi tapi proses meraih prestasinya itu dengan menghalalkan segala cara, apakah itu masih bisa disebut berprestasi? 😀
    top post!

  2. Aku tahu tulisan ini nyindir siapa… *sok tahu ya gw he..he…
    Tapi yg jelas berprestasi tanpa ada teman komunitas itu gak kereen…kayak dapat Piala Citra tp gak ada yg ngedukung….
    kayak dapat Piala Oscar tp temennya sedikit…

    Aku pernah bertemu dgn teman juga, berprestasi, penulis, pernah jalan2 ke luar negeri. Umurnya beda 10 tahun dariku. Tapi ya gitu…pas kita ketemuan aku mau salamin sj dicuekin, sempet kutulis di status FBku… sedih ketika akhirnya prestasi itu jadi duri kesombongan *ikutan curcol sayah..he..he..

  3. nice posting, nice comment (kayak komennya spammer :D)
    yup saya jg tergabung di satu komunitas, dan menemukan org yg spt ini, yg kayaknya hanya dia yg paling pinter di komunitas itu. krn saya adlh org yg malas berdebat dgn org yg spt itu, saya hanya tunjukkan saja, bhw tiap org bs berprestasi di bidangnya masing2. saya yang menurut dia HANYA seorang penjahit, (mungkin bagi dia penjahit itu HARUS gak ngerti internet, sptnya klo ngerti internet itu harus ganti profesi *mungkin lho*), saya mmg penjahit, tp dgn 10 org karyawan. eh dia kaget, wah punya karyawan, saya pikir kamu hanya njahit kayak orang2 itu…(gak tau kayak org2 itu tuh apa)…tapi saya blh sdkt sombong dgn kekagetannya. untuk selanjutnya saya malas jk harus bkrjasama dgn dia, klo brhasil dia yg koar2 sbg sumber keberhasialn, jk gagal dia sibuk nyalahin org #keplak
    *lho kok saya jadi curhat?

  4. Haha, apa ya kira-kira yang di banting? “Kepercayaan” mungkin… cuma pak Dhe yang tahu … sebuah renungan, menjadi orang baik tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan… Namun, bagaimana kita mendapat hikmah dari kebaikan kita tadi. Karena bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk orang lain agar tak tersakiti 🙂

  5. Numpang komen atas komen:
    @Utami Utar, lho, klo contoh kasusnya seperti itu, berarti kebalikan dari postingan ini. Mayoritas komunitaslah yang gak mau menerima temanmu itu. Berarti komunitas itulah yang banyak durinya dan perlu dicari solusinya.

    @Ontohod, gak usah disandingkan. Kan kata Mas WKF, kala berprestasi silakan dirayakan (secara proporsional). Soal porsi rendah hatinya ya sesuaikan saja dengan karakter kita, insya Allah gak bermasalah.

  6. mudah-mudahan sayah ga jadi duri… jadi kumbang aja deh

    bagi saya sangat sulit menyandingkan prestasi dan rendah hati… apa itu berarti sayah termasuk orang sombong ya…

  7. @chandra iman: intinya harus sadar posisi dimana dia berada
    @BBR: gimana rasanya, manis, pait, asem? 😉
    @PeGe: tulisan ini buat pembelajaran kita semua
    @MT di Bogor: betul kang
    @sjafri mangkuprawira: 100% setuju pak prof, menjadi baik lebih utama daripada menjadi penting
    @zico: tdk heran bila sebuah grup, apapun, bubar karena anggotanya sudah tidak berorientasi ke grupnya lagi
    @echa: dikipasin jadi adem ni cha 😉
    @Omanta: ya, seprti itulah
    @utami utar: mudah2an temannya itu sdh tdk merana lagi 😉

  8. Jadi ingat kisah seorang teman: merana karena tidak disambut hangat dalam komunitasnya. Padahal benar sekali apa kata Gardner, teman saya ini (dan orang-orang yang bernasib sama) pasti punya potensi yang sangat mungkin bisa membantu membuat komunitasnya bertumbuh-kembang.

  9. Betul Pak, bahwasannya orang belum berprestasi (mutlak) kalau prestasinya justru beracun. Benar juga bahwasannya orang yang merasa prestasinya paling baik, dia seakan-akan yang paling benar diantara yang lainnya (Kebanyakan cih kya gituuu) hehe pish ah.

  10. dari bebarapa artikel pak Adi, yang saya baca. artikel ini mampu menyihiri mata saya untuk membaca sangat serius. artikel yang biasa saya baca juga tak kalah seriusnya waktu dibaca. apa yang tulis dalam artikel ini mirip dengan apa yang terjadi dalam klub sepakbola di eropa. misal real madrid dengan ‘christiano ronaldo-nya’ dengan prestasi individunya. dan datanglah maurinho pelatih yang memiliki karakter bersahabat dan bisa berkarakter otoriter-positif dan tegas untuk mengingatkan dia…. nah dalam hal ini. dalam mengingatkan ‘seseorang’ yang seperti ditulis dalam artikel ini. butuh seseorang yang tegas dan berwibawa. itu juga pendapat saya pak. 🙂

  11. kepentingan pribadi dan komunitas itu berbeda
    mau gabung di komunitas tentunya kita harus mengurangi ego kita
    karena komunitas terdiri dari berbagai orang dengan berbagai pikirannya masing-masing
    tidak terlepas dari kebutuhan dasar sebagai manusia, semua manusia pasti membutuhkan komunitas

    salam hangat mr wkf 🙂

  12. keberhasilan yang dicapai seseorang mesti disadari peran “invicible hand” jadi bukan hanya hasil kerja sendiri. Tuhan berperan besar dengan memberikan “kebetulan-kebetulan” yang mengarahkan seseorang pada pencapaiannya.

  13. aiiih baru disadarkan kalau saiia termasuk orang yang selama ini terbiasa ngambil opsi ke-3 meski sebenarnya tidak ada untungnya untuk membiasakan diri.. hayuk introspeksi ah.. 😀
    Ieu posting TOP, Pak.. 😎

  14. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras tetapi juga keberuntungan. Keberuntungan itu bersahabat dengan kebaikan. Maka, jadilah orang baik. Dengan menjadi orang baik, keberuntungan akan sering menghampiri.

    Brasa bged Pak Tulisannya..
    Thanks, ^_^

  15. Iya kang,

    Dibalik itu semua orang pasti merindukan komunitas karena kodrat manusia adalah mahluk yang tidak bisa hidup sendiri

    Komunitas membutuhkan variasi, tiap anggota memiliki hal yang tidak dimiliki anggota lainnya

    Tujuan komunitas adalah tujuan komunitas, tujuan pribadi adalah tujuan pribadi, kadang tidak singkron

    Ketika gayus mempunyai tujuan pribadi yang berbeda dengan tujuan komunitasnya, maka dia akan dikeluarkan

    Masuklah dalam komunitas yang tujuannya sejalan

    Atau buatlah komunitas kita sendiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here