plis dehSaya tahu anda berpangkat jenderal. Tapi plis deh, ini bukan barak militer. Saya tahu anda suka dagang. Tapi plis deh, ini bukan pasar tempat nyari untung. Negeri ini banyak orang gundul, tapi plis deh, hanya anda yang bikin pecinta sepakbola masgul (jengkel, sebal, sedih). Apa urusannya gundul dibawa-bawa? Plis deh!

Beraktualisasi diri memang hak siapa saja. Barangkali itu tujuan mereka ngotot ingin mencalonkan diri sebagai ketua dan wakil ketua PSSI. Tapi plis deh, bukan di sini tempatnya. Boleh saja mereka mengaku suka sepakbola. Sayangnya, kelakuan yang mereka pertontonkan tidak meyakinkan saya kalau mereka memang benar-benar cinta bola. Yang mereka perbuat terhadap PSSI justru memperlihatkan bahwa mereka lebih cinta ego mereka sendiri. Plis deh, PSSI itu milik rakyat, bukan milik mereka berdua beserta kurcaci-kurcacinya.

Sungguh muak menyaksikan dagelan tidak lucu yang sekarang sedang berlangsung di tubuh PSSI. Setelah episode pemimpin kriminal selesai, kursi pimpinan itu diperebutkan oleh orang-orang yang tidak jelas motifnya. Apa coba yang didapat dengan menjadi ketua PSSI? Barangkali uang yang melimpah hasil memanipulasi pertandingan, keuntungan hasil kongkalikong dalam jualan tiket, dan uang proyek tidak halal lainnya? Mungkin sekedar untuk gagah-gagahan, pamer ego, atau hal-hal yang hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri? Entahlah. Yang jelas, akibat ulah sebagian orang yang mengaku cinta bola tapi yang diperlihatkan justru sebaliknya, rakyat republik bola ini disuguhi tontonan menggelikan sekaligus memalukan.

Alangkah malangnya rakyat negeri ini. Hiburan yang murah dan digemari banyak orang ini jadi makin tidak menarik. Apakah anda berpikir sebuah pertandingan sepakbola menarik karena para pemainnya suka berantem, wasitnya sering didorong-dorong pemain yang tidak puas atas keputusannya, dan suporter yang mengejar-ngejar wasit di lapangan? Plis deh, tidak ada bagus-bagusnya pertandingan yang harusnya penuh sportifitas malah dinodai dengan perbuatan tidak sportif.

Ketika dulu LPI dibentuk untuk menandingi LSI dan agar rezim Nurdin bubar, saya sangat setuju dan mendukung. Saya anggap apa yang dilakukan kelompok ini begitu patriotis. Uang yang dikeluarkan untuk menjalankan turnamen di bawah bendera LPI saya lihat sebagai pengorbanan yang dikeluarkan untuk kepentingan rakyat republik sepakbola ini. Namun setelah Nurdin benar-benar mundur kemudian terbuka kesempatan PSSI menjadi lebih baik, kesempatan yang datang ini malah dirusak oleh tindakan yang tidak patriotis. Plis deh! Bukannya PSSI bergerak ke arah perbaikan tapi justru malah menjadi tidak berketentuan. Kongres PSSI yang dilaksanakan di Hotel Sultan beberapa waktu yang lalu oleh KN (Komite Normalisasi) bentukan FIFA menjadi deadlock dan akhirnya dibubarkan. Kongres yang direncanakan untuk memilih ketua dan wakil ketua PSSI dipaksa berakhir tanpa hasil. Uang milyaran milik rakyat yang digunakan untuk penyelenggaraan acara itu menjadi mubazir. Semua itu disebabkan oleh dua orang gundul beserta kelompoknya yang tadinya banyak menarik simpati. Mudah-mudahan saja kongres berikutnya yang tadinya direncanakan 30 Juni kemudian diundur jadi 9 Juli dan diadakan di Solo bisa berjalan dengan lancar.

Entah apa yang ada dalam kepala mereka. Mempertahankan hak adalah wajib. Namun menjadi ketua dan wakil ketua PSSI apakah merupakan hak mereka? Saya kok justru melihat mereka bukan sebagai orang yang mempertahankan haknya tetapi sebagai orang-orang yang tidak punya malu. Sudah jelas-jelas FIFA melarang mereka dicalonkan sebagai ketua dan wakil ketua PSSI tetapi masih tetap ngotot. Boleh saja mempertanyakan keputusan FIFA. Akan tetapi, ketika FIFA menjelaskan alasannya dan semua orang juga tahu bahwa itu benar kecuali mereka yang mendukung duet gundul ini, mengapa tidak legowo saja menerima keputusan itu? Ah, mungkin saya bisa ngomong begini karena saya bukan mereka. Lagian saya tidak gundul. Botak sih iya. Plis deh!

Sumber gambar: di sini

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here