Tidak gampang untuk menyamakan persepsi. Dibutuhkan kesabaran, kerendahan hati, keikhlasan, kedewasaan, dan banyak hal yang setiap orang sebenarnya bisa melakukan itu semua tetapi kadang sulit mewujudkannya pada saat dibutuhkan. Inti semua itu, menyamakan persepsi menuntut sikap legowo alias menurunkan tingkat egoisme ke posisi yang paling bawah.

Tentu saja bukan tidak mungkin untuk mau mengalah. Siapapun punya daya untuk melakukan hal itu. Masalahnya kan kadang-kadang kita ini lebih sering dan lebih suka mementingkan diri sendiri dibandingkan mendahulukan kepentingan orang lain. Kalau sudah begitu, sulit untuk bisa berpersepsi sama. Padahal, saat kita harus menyamakan persepsi, unsur mengalah ada di dalamnya. Kan susah jika kedua pihak saling tidak mau mengalah? Bahkan bisa dibilang tidak mungkin titik persamaan dari persepsi akan ditemukan jika masing-masing ‘keukeuh’ (ngotot) dengan egonya sendiri-sendiri.

Entah sudah berapa kali saya menulis atau berbicara tentang gelas berisi air yang hanya setengah saat membahas persepsi. Jika di depan anda terdapat sebuah gelas yang air di dalamnya cuma setengah, anda menyebutnya setengah kosong atau setengah isi? Hal yang sudah jelas tersebut bisa jadi akan membingungkan, dan mungkin juga menyebabkan perdebatan. Saat anda mengatakan setengah isi, orang lain bisa saja bilang setengah kosong. Siapa yang benar dan salah? Tentu saja keduanya benar dan tidak ada yang salah. Setujukah bila ada yang menyalahkan setengah kosong karena biasanya orang bilang setengah isi? Itulah persepsi yang tidak mau diajak kompromi. Kadang-kadang karena persepsinya berbeda, kemudian kita menyalahkan mereka yang sebenarnya tidak salah. Dan, sekali lagi, tidak mudah menyamakan persepsi meskipun jelas sangat mungkin untuk melakukannya. Kisah tiga orang buta dengan gajahnya juga bisa menjadi contoh bagus perihal persepsi. Silakan keluyuran di internet untuk mengetahui cerita itu bila penasaran. 😉

Banyak faktor yang mempengaruhi persepsi. Salah satu yang saya lihat adalah karakter. Bila merunut empat tipe karakter yang dipopulerkan Florence Littauer yaitu koleris, sanguinis, melankolis, dan phlegmatis, semua memiliki kekuatan saat mempersepsi sesuatu dan sekaligus mempunyai kelemahan saat mempersepsi yang lain. Dengan demikian, bisa diartikan bahwa tidak ada satu karakter lebih baik dari yang lain. Di saat dan tempat tertentu karakter tertentu bisa menjadi lebih unggul dari yang lain. Selain itu, setiap karakter memiliki sisi baik/positif dan sisi buruk/negatif.  Ketika dua karakter mempersepsi satu hal dan kemudian tidak diperoleh titik temu, maka bisa dipastikan kedua karakter tersebut sedang memunculkan kekhasannya masing-masing entah itu sisi positif maupun negatif. Siapa yang salah? Sekali lagi tidak ada yang salah. Hanya saja, masing-masing tidak mau berkompromi. Jika tidak mau berkompromi, apa artinya? Jelas, sifat egois masing-masing yang muncul.

Begini contohnya, ada karakter yang begitu concern dengan disiplin waktu sebaliknya ada juga yang lebih memilih kebersahajaan. Keduanya bisa positif bisa negatif. Negatifkah yang mengabaikan disiplin waktu? Barangkali dari kacamata mana dulu melihatnya. Kalau saya, dalam hal menghilangkan atau mengurangi stres, misalnya, saya lebih suka melupakan sejenak tentang disiplin waktu.  Bagaimana anda bisa rileks dalam liburan anda bila selalu memikirkan waktu? Anda yang sangat peduli dengan waktu mungkin tidak setuju. Nggak apa-apa. Berarti kita beda. Kalau mau sama, kita harus menyamakan persepsi dulu tentang waktu. Jika mau sama maka kita harus berkompromi dengan ego kita masing-masing. Bisakah ego kita diajak kompromi? Barangkali kita harus membujuk ego kita dulu agar mau berkompromi untuk mencapai kesamaan persepsi. Memang, kadang-kadang persepsi perlu persuasi.

Ah, sudah ah, cape saya nulis yang serius kayak gini. 😉

Sumber gambar: di sini

11 COMMENTS

  1. di http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php ber·sa·ha·ja : sederhana; tidak berlebih-lebihan: orang desa itu hidupnya bersahaja

    kalau masih boleh berkomentar: dalam contoh itu, bersahaja dipakai dalam hubungannya dengan materi. karena kalau menurut saya, orang desa justru sangat peduli dengan waktu. mereka punya jadwal kapan berangkat ke sawah, break, pulang, kapan menyiangi tanaman, kapan panen dll.

    saya kira fleksibel lebih baik. saya sangat ingin tepat waktu ketika mengajar dan ketika memang sudah membuat berjanji dengan orang lain. dalam situasi ini, bila saya terlambat orang lain akan sangat dirugikan. namun, saya juga bisa fleksibel, misalnya rencana pulang jam 5 sore tapi ternyata bisa pulang jam 4 atau malah jam 6. begitu lho mas.

  2. @komuter & utami utar: silakan bila anda memaknai kata tersebut seperti itu. Silakan juga tengok kbbi daring yang ada di http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php untuk makna kata ‘sahaja’.

    Terkait dengan disiplin waktu, makna kebersahajaan yang ingin saya sampaikan di situ adalah kesederhanaan dalam menyikapi masalah waktu. Artinya melakukan sesuatu bila memang waktunya melakukan. Itulah sebabnya saya menggunakan kata ‘concern’. Mereka tidak terlalu ‘saklek’ dengan disiplin waktu.

    Mudah2an anda berdua bisa menangkap yang saya maksudkan. Bila tidak, maafkan kebodohan saya dalam memilih kata ini. 8)

  3. Begini contohnya, ada karakter yang begitu concern dengan disiplin waktu sebaliknya ada juga yang lebih memilih kebersahajaan

    .
    kebersahajaan bukan berarti tidak disiplin dalam hal waktu.
    .
    sahaja adalah sederhana (kang achoey aja kali yang lebih faham dan bisa menjelaskan)

  4. wah mantep mas. kalau liburan ya setuju banget. bukan liburanpun kita harus bisa bagi waktu kapan serius dan kapan rileks. kerja di depan komputer juga perlu break sejenak lho. kalau diforsir jadinya tidak produktif. jadi lebih baik work smart. sudah bukan jamannya lagi work hard.

    tapi kalau anak sakit minta bubur ayam dan harus menunggu dua jam baru berangkat, dia harus menunggu berapa lama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here