>26 Oktober 2006 (Kamis): Rumah di Atas Bukit

Hari sudah terang ketika saya bangun. Lelap betul tidur semalam setelah seharian melakukan perjalanan Bogor Sadawangi. Setelah sholat subuh, saya keluar rumah menikmati sejuknya udara pagi desa Sadawangi. Jalan raya di depan rumah teteh Ela tempat saya dan keluarga menginap masih lengang. Teteh Ela adalah anak dari almarhum uwak Abu, kakaknya bapak mertua. Cuma ada satu dua sepeda motor yang lewat. Sementara kendaraan umum, baik bis ¾ maupun angkot belum ada yang lewat.

Hari ini kami akan mengunjungi saudara yang tinggal di dukuh Simpur. Dulu ketika pertama kali datang ke Sadawangi, kami pernah main ke dukuh yang letaknya di atas bukit tersebut. Ada beberapa rumah yang penghuninya masih memiliki hubungan saudara dengan istri saya. Masih segar dalam ingatan saat kami harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju ke perkampungan di atas bukit. Saat itu jalan masih berupa tanah coklat, beberapa ruas diantaranya disusun batu di atasnya untuk memperkeras. Sekarang, kami masih juga menaiki jalan yang sama dengan yang pernah kami lewati beberapa tahun yang lalu. Bedanya, sekarang bukan jalan tanah, melainkan sudah dihotmix, diaspal halus. Namun demikian, istri saya tetap nggak mau ketika ditawari naik ojek. Lebih memilih jalan. Ngeri membayangkan merayap menaiki tanjakan yang curam menggunakan motor, meskipun jalannya sudah diaspal.

Setelah beres-beres, jam 10.39 wib kami berangkat menuju dukuh Simpur dengan dipandu oleh bapak mertua. Saya nggak pede pergi ke Simpur tanpa ditemani bapak mertua. Selain saya nggak hapal wajah dari saudara yang ada di bukit tersebut, juga tidak lancar menggunakan bahasa Sunda. Sebagian di antara mereka, terutama yang tua-tua ada yang sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia. Sementara saya, tidak paham bahasa Sunda.

Kami mendatangi satu persatu rumah milik para saudara. Namanya juga lebaran, setiap rumah yang dikunjungi selalu memberikan hidangan, minimal kue dan air teh pahit. Mau nggak mau, perut ini harus diatur. Kadang saya harus makan lebih dari sekali. Jadi bisa dipastikan, perut sering nggak enak karena tidak pernah diberi istirahat untuk berhenti memproses makanan. Perut memang terasa nggak nyaman, tapi ada hal lain yang menjadi imbalan. Suasana alam pedesaan dan bentuk-bentuk rumah yang berupa rumah panggung menjadi daya tarik tersendiri. Di mata saya, rumah panggung tersebut sungguh memikat. Rasanya adem tinggal di dalamnya. Kata istri, rumah panggung tersebut merupakan bentuk rumah asli dari penduduk Simpur. Ada memang yang bentuk rumahnya sudah mengikuti jaman sekarang, ditembok, bukan dari lembaran papan, dan tidak berbentuk rumah panggung. Tapi rumah-rumah seperti itu tidak menarik lagi. Nggak ada kekhasannya seperti rumah asli yang berbentuk panggung dan terbuat dari kayu.

Pulang dari Simpur kami istirahat sebentar di rumah uwak Endus. Jam 13.54 wib berangkat lagi ke rumah saudara di kampung Sidamukti. Lokasinya ada di bawah Sadawangi. Rumah saudara yang kami datangi tepat menghadap persawahan yang sayangnya lagi kering karena musim kemarau. Seandainya musim penghujan, pasti akan sangat indah dan segar. Apalagi di ujung pandangan terlihat pegunungan yang hijau dengan latar langit membiru. Oohhh…….

Karena memang tujuannya hanya ke rumah tersebut maka kami agak lama juga bertandangnya. Kebetulan tuan rumah memiliki balong (kolam ikan). Anak-anak menghabiskan waktu dengan memancing ikan. Sementara saya dan istri mengobrol dengan saudara yang hubungannya pernah sebagai teteh. Kami dijamu dengan ikan bakar dan petai bakar yang pohonnya ada di sebelah balong. Apa boleh buat, meskipun kami sudah makan siang di Simpur dan perut masih kenyang, karena hendak menghormati tuan rumah, saya dan istri memaksakan diri makan siang lagi. Saat itu jam dinding di atas kepala saya sudah menunjukkan pukul 15.50 wib. Apakah masih pantas disebut makan siang?

Saya jarang-jarang makan petai, malahan dulu pernah sama sekali menjauhi petai. Tapi ketika dihadapkan pada petai bakar yang fresh from the oven, yang baru dipetik dari pohon, yang baru keluar dari tungku pembakaran, tergoda juga akhirnya. Baunya yang harum menggelitik cuping hidung saya. Masih untung setelah itu buang air kecilnya langsung ke balong, jadi bau sedapnya langsung larut dinikmati oleh ikan emas yang nantinya juga akan dihidangkan sebagai santapan. Bahkan bisa jadi ikan emas bakar yang saya makan barusan, dulunya juga pernah menikmati air kencing petai dari seseorang yang membuangnya ke kolam tempat dia tinggal. Kalau begitu, itulah yang disebut dengan life cycle.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here