Sebelum anda berprasangka buruk, saya akan katakan dahulu kepada anda. Bahwa saya tidak anti peraturan, bahwa saya setuju 100% dengan adanya peraturan, bahwa saya dukung sepenuhnya hukuman bagi yang melanggar peraturan, itulah sikap saya mengenai peraturan. Lalu, apa maksudnya dengan membuat judul Peraturan Yang Menbahayakan yang memberi kesan anti peraturan? Bila pertanyaan itu sudah terbersit di benak dan hati anda, itu artinya sudah tiba waktunya duduk bersama untuk menyamakan persepsi. Anda memilih duduk di mana?

Peraturan jelas dibutuhkan dan harus ada. Di manapun dan dalam bidang kehidupan apapun, yang namanya peraturan harus tersedia dan harus dilaksanakan serta ditaati. Namun kenyataannya, tidak jarang terjadi pelanggaran peraturan. Tidak jarang pula terjadi penyimpangan dalam mengimplementasikan peraturan. Ada pihak yang selalu atau di saat tertentu berusaha mencari celah untuk mengakali peraturan. Ada juga pihak yang menerapkan peraturan ke pihak yang diatur keluar dari porsi yang seharusnya dengan dalih demi peraturan. Tentu saja ada orang-orang yang dengan patuh mentaati peraturan dan menjalankan perintah sesuai peraturan. Sudah pasti ada juga orang-orang baik yang tidak menyimpangkan peraturan demi kepentingan dan ego pribadi. Orang-orang baik ini melaksanakan peraturan sesuai amanah.

Celakanya, peraturan yang dibuat untuk tujuan baik itu bisa menjadi berbahaya (tidak baik). Bukan masalah peraturannya yang salah. Bila peraturannya yang tidak benar, hal itu gampang untuk diperbaharui atau direvisi. Bahaya itu muncul ketika penguasa yang memiliki otoritas mengeksekusi peraturan tidak peka dan tidak mau kompromi dengan perubahan yang terjadi. Contoh gampang saja misalnya seperti ini. Ketika global warming belum terasa efeknya dan lapisan ozon belum bolong-bolong, pekerja kantor di ruang yang tidak ber-ac tidak menjadi masalah mengenakan baju lengan panjang dan berdasi. Itu peraturan. Dan harus dipatuhi. Tidak muncul keluhan ketika itu. Seperti Bogor, udaranya masih sejuk. Orang yang bekerja di kota itu, jangankan hanya berlengan panjang dan berdasi, ditambah dengan jas wool pun masih nyaman. Peraturan itu terus berlangsung dan tidak ada perubahan. Sementara itu waktu terus berjalan. Industri makin maju. Perekonomian makin membaik. Semakin banyak orang yang mampu membeli motor maupun mobil. Fasilitas kredit yang ditawarkan makin memudahkan orang-orang memiliki kendaraan bermotor. Akibatnya, semakin banyak karbon pengrusak yang dikeluarkan knalpot-knalpot itu menggerogoti lapisan ozon yang melindungi bumi dari sinar ultraviolet. Itu baru dari satu hal. Belum dari penebangan hutan, pembakaran sampah, dan aktivitas manusia bumi lainnya yang semakin memperparah terjadinya pemanasan global. Bumi kemudian menjadi semakin panas, tidak nyaman lagi.

Orang-orang berdasi tadi mulai kegerahan. Mereka tidak berani melepas dasi dan mengganti baju lengan panjangnya dengan lengan pendek karena peraturan mengharuskan seperti itu. Sementara itu, pemegang otoritas tidak peka dengan terjadinya perubahan. Mereka tetap bersikukuh menjalankan peraturan dengan dalih peraturan itu sudah dijalankan dari dulu dan tidak ada masalah. Orang-orang kegerahan itu sudah mencoba menyampaikan aspirasi perihal ketidaknyamanan yang mereka rasakan. Sayangnya, pemegang otoritas tidak mau tahu. Dulu saja bisa jalan dengan baik, mengapa sekarang harus dirubah. Begitu argumen mereka. Bila orang-orang berdasi itu tetap bertahan di situ karena tidak berdaya dan mereka menganggap sudah tidak ada gunanya lagi berdebat tentang peraturan, percayakah kinerja dan produktifitas mereka akan meningkat? Anda tentu sudah tahu jawabannya. Hal lain yang bisa dipastikan, mereka akan menjadi orang-orang yang apatis.

Dalam dunia pendidikan, tidak hanya di bangku sekolah, bisa saja di rumah atau di lingkungan masyarakat, peraturan yang kaku bisa menghasilkan robot yang tidak memiliki inisiatif dan kreatifitas. Peraturan yang tadinya dimaksudkan untuk kebaikan malah mematikan daya kritis dari anak didik. Mereka menjadi tidak berani mengutarakan pendapat dan mengekspresikan aspirasinya. Celakanya lagi, peraturannya tidak akomodatif, eh lha kok pemegang otoritasnya orang-orang yang apriori terhadap perubahan dan perbedaan. Yang tidak sama dengan mereka dianggap ancaman. Yang mempertanyakan penerapan sebuah aturan dianggap โ€˜mbaleloโ€™. Jelas ini contoh yang tidak baik dan jelas tidak efektif. Bagaimana kita bisa melarang anak kita merokok sementara kita sendiri masih menghisap rokok? Mana mungkin kita menghasilkan anak yang konsisten bila kita sendiri inkonsisten? Jangan berharap anak didik menjadi kreatif jika kita selalu menghentikan mereka saat hendak berkreasi.

Peraturan memang penting, apalagi yang menyangkut etika, norma, dan nilai-nilai kesopanan atau budi pekerti. Namun bila kita tidak bermain cantik dalam menerapkannya, peraturan itu bisa menjadi bom waktu. Jangan heran jika suatu saat nanti akan muncul orang-orang nekat dari penerapan peraturan yang tidak akomodatif sebagai bentuk pemberontakan mereka. Percaya dengan saya?

Sumber gambar: di sini

8 COMMENTS

  1. ya udah….bung mr kamfoung…. rubah sajo itu peraturan… , kalau tidak biso ya …… seperti ambo… nak kerja sesuka hati ambo, penghasilan ambo tetap sajo utuh, bisa anter budak ambo ke sekolah…. tak kenal sakit hati, tak kenal bolos….tu ambo…. wuaahhh…. nikmat lah………

  2. Kunjungan perdana di ‘lapak’ baru..

    Kadang saya miris kalo masih ada idiom yang beredar di masyarakat, “Peraturan dibuat untuk dilanggar”..
    bagaimanapun, mesti ada rambu2 untuk mengarahkan menjadi satu arah dalam tujuan. Bayangkan jika semuanya semaunya sendiri.

    salam,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here