Semua sudah terhidang di meja, termasuk nasi liwet pesanan saya. Hanya satu menu yang belum keluar dan itulah yang saya dan 19 teman saya tunggu-tunggu. Meskipun hanya pepes ikan, hidangan itu selalu datang belakangan. Bukannya sengaja dilambatin tetapi memang karena dalam mempersiapkan pepes itu tidak boleh sembarangan. Sebuah hidangan yang benar-benar istimewa.

Sepuluh menit kemudian pepes itu datang. Pembawanya tidak cukup hanya satu pelayan melainkan dua orang. Dibawa dengan nampan yang bentuknya seperti tandu. Jelas sebuah nampan yang khusus didesain untuk membawa menu yang ukurannya tidak tanggung-tanggung. Seberapa besar pepes ikan yang pernah anda makan? Saya berani taruhan pasti tidak sebesar pepes yang satu ini. Pepes ikan paling besar yang pernah anda makan paling-paling pepes ikan emas yang tidak lebih dari satu kilo. Sedangkan yang sedang ada di hadapan saya dan teman-teman, adalah pepes ikan yang harus digotong oleh dua orang. Anda bisa kira-kira sendiri berapa beratnya.

Bungkus pepes ikan spesial itu sama dengan pepes ikan pada umumnya yaitu daun pisang. Bedanya adalah daun yang digunakan dari pisang jenis khusus yang memiliki lebar seluas seperai tempat tidur ukuran single. Jangan tanya saya mereka dapat daun pisang seperti itu dari mana. Terus terang, saya sendiri juga penasaran. Ikan yang besarnya sama dengan ukuran anak usia 10 tahun itu dibungkus dengan dua lembar daun pisang khusus.

Saya dan teman-teman saya sudah tidak sabar menyantap pepes itu. Begitu berada di atas meja, daun pembungkus yang lebar itu segera dibuka. Ketika bungkusnya sudah terbuka, menguar bau harum yang makin kuat. Selera makan saya tambah meningkat. Air liur ini rasanya mau menetes-netes, atau β€œponyo” kata orang Sunda. Segera 20 pemangsa lapar menyerbu pepes ikan yang sudah terhidang. Dalam setengah jam, pepes itu sudah tandas, juga hidangan lain. Tinggal es teh manis menemani obrolan.

Rumah makan itu sebenarnya biasa-biasa saja. Karena memiliki menu pepes ikan spesial sajalah yang kemudian rumah makan itu menjadi istimewa. Lokasinya juga tidak berada di pusat kota. Rumah makan itu berada di daerah pinggiran Bogor yang bernama Katulampa. Banyak orang mengenal Katulampa karena ada bendungan yang populer. Bendungan ini terutama sering disebut-sebut ketika musim hujan. Bagi penduduk Jakarta, banjir tidaknya wilayah mereka tergantung dari bendungan ini. Itulah sebabnya, orang-orang Jakarta sering menuduh air banjir yang menggenangi rumah mereka merupakan kiriman dari Bogor.

Katulampa di mana rumah makan pepes ikan istimewa itu membuka usahanya memang ada di pinggir kota. Namun anda tidak usah khawatir bila ingin ke sana. Tempatnya mudah dijangkau dan apabila anda tidak memiliki kendaraan sendiri, ada angkot yang melintasi lokasi tersebut. Dengan ongkos Rp2500 atau Rp3000 anda akan diantar sampai tujuan. Dengan kemudahan yang ditawarkan seperti itu, tidak aneh bila tempat itu dikunjungi banyak orang. Orang-orang Jakarta yang suka menuduh Bogor sebagai pengekspor air bah pun turut datang, terutama di akhir pekan.

Omong-omong, anda gemar menyantap pepes ikan? Pepes ikan apa yang menjadi kesukaan anda? Saya juga senang makan pepes ikan, ikan apapun, terutama ikan emas dan peda. Makanan ini sudah pasti lebih sehat karena kandungan kolesterolnya rendah dan tidak digoreng. Banyak tempat memiliki jenis pepes ikan yang khas daerah itu, baik ikan maupun rempah-rempah yang digunakan sebagai bumbunya, seperti pepes ikan yang berasal dari Bogor. Datanglah ke Bogor bila anda berminat makan pepes ikan, selain talas, soto, nasi goreng petai, dan asinan yang menjadi cirinya Bogor si Kota Hujan.

Bagaimana, anda tertarik untuk datang dan mencoba pepes spesial dari Kota Hujan? Anda pasti tidak punya bayangan seperti apa pepes ikan yang harus dibawa oleh dua orang dan dibungkus daun pisang selebar seperai. Saya berani jamin, di tempat anda tidak mungkin akan ada pepes ikan yang bisa menandingi pepes ikan khas Bogor ini. Bila anda betul-betul penasaran dan kemudian datang ke Bogor hendak mencicipi pepes ikan raksasa seperti yang saya nikmati, anda harus siap kecewa. Maaf, apa yang saya ceritakan di atas sebenarnya hanya angan-angan saya saja. Namun ada obat yang mungkin akan mengurangi kekecewaan anda. Meskipun tidak bisa makan pepesnya, anda masih bisa melihat ikannya. Benar, saya serius. Ikan raksasa itu memang ada.

Saya mau ngaku saja. Tulisan ini saya buat karena terinspirasi oleh ikan yang katanya berasal dari Amazon. Nama ikan itu Arapaima Gigas. Mirip-mirip nama penyanyi yang suka mendendangkan lagu keroncong yang didangdutkan. Penyanyi yang pakaiannya mirip orang Somalia atau negeri-negeri di Benua Afrika. Anda kenal Rama Aipama? Badan ikan itu bersisik mirip ikan emas. Berwarna coklat keabu-abuan. Panjangnya sekitar 1,5 meter. Entah ganas atau tidak tetapi di pinggir kolam ada papan bertuliskan larangan memberi makan karena berbahaya. Apakah ikan itu bisa dimakan atau tidak, saya juga tidak tahu. Namun bila akan dibikin pepes, daun pisang tidak akan muat.

Dari informasi di Wikipedia, Arapaima Gigas memiliki nama lain Pirarucu atau Paiche. Dia merupakan salah satu ikan air tawar terbesar di dunia yang berasal dari Amerika Selatan. Panjangnya bisa sampai 2 meter, bahkan kadang dapat mencapai 2,5 meter. Bobot ikan Arapaima Gigas yang pernah ditemukan seberat 200 kg. Jadi kira-kira dibutuhkan berapa orang untuk memepes ikan air tawar raksasa itu bulat-bulat?

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here