penumpang istimewa
Penumpang Istimewa. Penerbangan Lion Air tujuan Singapura pada 17 Juli 2016. (Foto: @lily.pangestu)

Melihat foto itu, ingatan saya melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saya merasa menjadi penumpang istimewa.

Kapan persisnya menjadi penumpang istimewa itu, saya tak begitu ingat. Mungkin 20 tahun yang lalu, atau lebih. Yang pasti peristiwanya sebelum tahun 2001. Saya katakan sebelum 2001 karena kejadian itu berlangsung saat saya melakukan perjalanan bisnis untuk perusahaan di Jakarta tempat saya bekerja dulu. Dan di tahun 2001, saya sudah mengundurkan diri.

Sebagai bentuk tanggung jawab atas jabatan yang saya emban waktu itu, secara periodik saya harus keliling Indonesia untuk bertemu dealer. Baik untuk urusan pelatihan produk baru atau sekadar bersilaturahmi. Salah satu dealer yang berada di bawah tanggung jawab saya adalah yang berada di Medan. Saat itu program kunjungan dealer di Medan telah usai. Karena sudah tidak ada lagi urusan, saya harus kembali ke Jakarta. Saya datang sehari sebelumnya dan menginap di Hotel Tiara. Entah hotel itu masih ada atau tidak atau sudah berubah jadi (hotel) apa. Perjalanan ke bandara menggunakan mobilnya dealer. Saya diantar sendiri oleh direktur sekaligus pemilik perusahaan yang menjadi dealer resmi untuk produk telekomunikasi dari Perancis di mana perusahaan tempat saya bekerja menjadi agen tunggalnya untuk Indonesia. Sebelum ke bandara, kami mampir ke restoran dekat bandara untuk makan siang. Penerbangan saya masih agak lama dan masih ada cukup waktu untuk makan siang.

Selesai makan siang, kendaraan langsung meluncur menuju Bandara Polonia. Saat itu Kualanamu International Airport yang berada di Deli Serdang belum ada. Setelah Bandara Kualanamu diresmikan penggunaannya pada 25 Juli 2013, Bandara Polonia kemudian beralih menjadi bandara militer TNI AU. Begitu sampai bandara dan berpamitan, saya langsung menuju meja check in untuk melapor sekaligus mendapatkan boarding pass dan nomor tempat duduk. Tidak ada bagasi yang musti didaftarkan. Karena hanya pergi sehari, hanya tas berisi dokumen dan pakaian ganti yang saya bawa saat berangkat, dan tambahan oleh-oleh ketika pulang ke Jakarta. Semua bisa saya jinjing masuk kabin pesawat.

Penerbangan yang saya gunakan adalah Sempati Air yang sekarang sudah tidak ada lagi. Penerbangan ini terkenal dengan pramugarinya yang cantik dan seksi karena selalu memakai rok mini ketat di atas lutut saat melayani penumpang. Pramugari penerbangan lain sebenarnya juga seksi tapi agak malu-malu. Pramugarinya memang pakai rok panjang sampai menutupi lutut. Tak terlihat seksinya saat diam. Begitu berjalan, mulai deh itu betis mulusnya nongol. Bagaimana tidak seksi? Belahan roknya sampai di paha! Bisa jadi kalau ujung belahan bagian atas ditarik garis lurus akan sejajar dengan selangkangan.

Tiket saya tujuan Medan-Jakarta. Saya tak ingat pakai penerbangan langsung atau harus transit dulu. Mau langsung atau transit buat saya tak jadi masalah. Pokoknya yang penting sampai tujuan dengan selamat, aman, sehat. Waktu itu ternyata saya harus transit di Surabaya dan musti turun dari pesawat. Ada sekitar setengah jam saya duduk di ruang tunggu. Tiba-tiba nama saya disebut lewat pelantang. Saya diminta naik pesawat. Saya segera beranjak menuju gate (pintu) yang disebutkan mbak-mbak yang memanggil via pengeras suara tadi. Pesawat terbang yang saya naiki ternyata lebih besar dari yang sebelumnya. Sampai di dalam kabin, saya diminta naik ke lantai dua. Rupanya pesawat itu berkabin dua. Anehnya, tidak ada penumpang di dalam kabin. Di kabin satu juga tak terlihat penumpang. Hanya pramugari yang tampak. Saya dipersilakan duduk di kabin eksekutif, padahal tiket saya kelas bisnis. Wah, saya diperlakukan sebagai penumpang istimewa rupanya.

Penumpang Istimewa

Tempat duduk yang hanya cukup untuk satu orang seperti di kelas bisnis sekarang berubah menjadi tempat duduk lebar dengan busa yang kalau diduduki bikin pantat langsung tenggelam. Bahkan buat duduk berdua dengan pramugari saja masih cukup meskipun empet-empetan. Di kabin itu saya satu-satunya penumpang untuk sesaat. Beberapa menit kemudian, masuk seorang ibu dengan menggendong bayi yang kemudian duduk di belakang saya terpisah satu baris kursi. Tak lama berselang pilot mengumumkan pesawat akan lepas landas. Jadi, ternyata penumpangnya hanya saya dan seorang ibu bersama bayinya itu. Benar-benar penumpang istimewa. Bagaimana tidak, pesawat Airbus A330 segede itu yang berkabin dua dan bisa menampung sampai 335 penumpang hanya diisi dua penumpang dewasa dan satu bayi. Rupanya itu pesawat yang rencananya akan terbang ke Malaysia tapi batal dan harus balik ke Jakarta.

Celakanya buat saya, tiga pramugari cantik nan seksi duduk di barisan kursi sebelah kanan saya. Saya dan tiga penggoda iman itu hanya terpisah oleh lorong. Sebenarnya tak masalah bila mereka hanya duduk dan ngobrol. Entah saya ini tepatnya disebut penumpang istimewa atau penumpang kena kutukan, mereka duduknya bukan anteng dan anggun layaknya putri keraton tapi kedua kaki mereka diangkat lurus ke atas disandarkan ke dinding kabin di depannya. Sudah roknya mini di atas lutut, duduknya seperti itu lagi. Kan rok mininya jadi makin ketarik, kan jadi makin melambai-lambai itu paha putih mulus. Kan sayanya jadi ngeri tolah-toleh. Mereka bicara sambil ketawa-ketiwi tak peduli kalau di seberangnya ada penumpang istimewa. Betul-betul kurang ajar!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here