andrea hirataSaya maklum jika Andrea Hirata bersembunyi di kempitan ketek kuasa hukum dalam menghadapi seorang blogger bernama Damar Juniarto (@sriptozoid) yang mengkritiknya lewat tulisan. Dia mampu membayar. Royalti menulisnya tentu lebih dari cukup untuk membiayai upayanya mencari keadilan. Itu sah-sah saja. Uang, uang dia sendiri. Tapi tunggu dulu. Dia penulis, kan? Bahkan mengklaim dirinya penulis karya international best seller, kan? Lalu, mengapa dia membayar Yusril untuk menjadi kuasa hukumnya? Memang tak percaya diri menulis pembelaan atas kritik yang diterimanya itu?

Hah! Mengherankan sekali seorang penulis sekelas dia lebih memilih jalur hukum, bukan menggunakan hak jawab di media. Ke mana kemampuan menulisnya yang berhasil melahirkan karya yang dia gadang-gadang menjadi buku pertama Indonesia yang mampu meraih status international best seller dalam hampir 100 tahun sejarah sastra Indonesia? Dari cara dia mengambil tindakan itu, saya mendapat kesan dia takut berpolemik. Hanya sebatas itu rupanya nyali Andrea. Jika demikian, saya jadi tak yakin dengan kapasitas kepenulisannya.

Saya sudah membaca tetralogi Laskar Pelangi, pun tetralogi Bumi Manusia milik Pramoedya Ananta Toer. Apa yang saya dapat dari kedua tetralogi milik kedua penulis yang tidak pantas untuk disandingkan apalagi dibandingkan karena ibarat bumi dan langit tentu saja sudah bisa ditebak. Perbandingan ini saya lakukan karena klaim Andrea yang mengatakan bahwa selama 100 tahun tidak ada karya sastrawan Indonesia yang mendunia sangat menafikan sastrawan-sastrawan hebat bangsa ini, salah satunya adalah Pramoedya Ananta Toer. Selanjutnya klaim tersebut dia bantah dengan pernyataan, “Yang saya maksud adalah dalam hampir 100 tahun sejarah sastra Indonesia, ‘Laskar Pelangi’ adalah buku pertama Indonesia yang mampu mencapai status internasional Best Seller.

Ketika membaca buku pertama tetraloginya Andrea Hirata ini, ya, saya terhibur karena kalimat-kalimatnya yang mengalir, ringan, dan mudah dicerna. Pengalaman dan petualangan masa kecil bersama konco-konconya dia kisahkan cukup menarik. Tamsil yang dia sisipkan membuat cerita lebih gurih untuk dinikmati. Andrea memang jago bermetafora dalam bertutur lewat karyanya itu. Di buku kedua, ketiga, juga keempat atau terakhir, caranya berkisah masih tetap sama. Namun yang disayangkan, bagi saya, Andrea gagal di buku terakhir yang berjudul Maryamah Karpov. Saya begitu kecewa dengan buku ini sampai-sampai ketidakpuasan tersebut saya tuangkan dalam tulisan berjudul Kecewa yang saya unggah pada 26 Desember 2008. Harapan saya rupanya terlalu tinggi atas karyanya. Setelah buku keempat itu, saya memutuskan tidak akan pernah beli dan berhenti membaca karya dia selanjutnya. Hingga detik ini.

Beda jauh dengan pengalaman yang saya dapat saat membaca tetraloginya Pramoedya Ananta Toer. Buku pertama yang berjudul Bumi Manusia membuat saya bukan hanya terhibur tetapi juga terkagum-kagum. Minke, Nyai Ontosoroh, Anneliesse, Millema, dan tokoh lain benar-benar menggerakkan pembacanya. Begitu dahsyat cara bertutur Pram di buku tersebut. Tak heran jika Soeharto memberedel buku itu pada masa kekuasaannya. Tak aneh pula bila buku tersebut jadi bacaan wajib para aktivis masa itu meski untuk membaca dan mendapatkannya harus sembunyi-sembuyi, bahkan walaupun dalam bentuk fotokopian. Pernah, kamar kos seorang teman ada yang diobrak-abrik tentara gara-gara dicurigai menyimpan bukunya Pram. Sampai sebegitunya ketakutan penguasa atas karya sastra anggitan Pram. Saya sendiri pada masa itu pernah ngiler ingin membeli buku-bukunya Pram tetapi tidak jadi karena tak mau berurusan dengan pihak imigrasi di bandara. Buku Pram itu saya lihat di sebuah toko di Singapura saat saya melakukan perjalanan dinas dulu. Di atas tumpukan buku-buku Pram itu terdapat selembar kertas bertuliskan “Banned in Indonesia”. Saat Soeharto lengser dan buku-buku karya Pram mulai muncul lagi, kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Semua buku tulisan Pram yang saya temukan saya lahap habis. Di rak buku saya sekarang, koleksi karya Pram terpajang, dari yang berbentuk buku asli sampai buku hasil fotokopian karena buku aslinya sudah tidak ditemukan lagi baik di toko buku maupun tukang loak.

Saya pernah membincangkan Laskar Pelangi dengan seorang teman yang kritikus sastra. Kepakarannya di bidang sastra sudah tidak diragukan lagi. Banyak penghargaan yang dia terima baik dari dalam maupun luar negeri. Sudah beberapa tahun hingga sekarang menjadi dosen tamu di Hankuk University Korea untuk mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Saat di KRL dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta, saya tanya apakah  karya Andrea ini bisa bertahan lama seperti karya Pram, dia menjawab singkat, “Sepuluh tahun paling sudah dilupakan orang.” Laskar Pelangi edisi pertama terbit 2005, masih ada dua tahun lagi untuk membuktikan benar tidaknya ramalan kawan saya ini. Dengan adanya kasus tulisan dilawan tindakan hukum antara Damar dengan dia, bisa jadi setelah sepuluh tahun orang masih ingat Laskar Pelangi. Bukan ingat bukunya, tetapi penulisnya yang ‘cemen’ karena tidak melakukan perlawanan sebagaimana seorang penulis sejati bersikap: tulisan dilawan tulisan.

Sumber gambar: di sini

9 COMMENTS

  1. AH gak kenal YB Mangunwijaya, ataupun Pramoedya A. Toer, apalagi tetralogi Bumi Manusia-nya.
    Yang AH kenal ya karyanya ndiri yang maunya hanya dipuji….

  2. Meski saya juga ga terlalu ngeh dengan karya Andrea, tapi saya kok ga ngeliat dia salah cuma karena memperkarakan hal ini, bahkan dia sudah punya hak berdasarkan UU ITE

    Pasal 26
    (1) Kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundangundangan, penggunaan setiap informasi melalui media
    elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus
    dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan.
    (2) Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana
    dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas
    kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang
    ini.

    Berdasarkan Pasal tersebut udah jadi hak Andrea untuk memperkarakan, kalo emang dia ngerasa dilanggar hak nya. Atau dalam kasus ini nama baiknya. [itu juga kalo saya ga salah ambil pasal –a]

  3. saya baru sempat membaca karya Pram yang “bukan pasar malam”. roman itu sangat tipis, namun sampai sekarang cerita itu sangat membekas dalam benak.
    kali lain harus baca yang tetralogi bumi manusia nih.

  4. sayang banget emang klo penulis seperti AH malah memilih jalur hukum untuk menanggapi kritikan orang lain, ciloko nek aben penulis memperkarakan orang2 yang mengkritik karya mereka

  5. mungkin karena itu adalah kisah hidupnya… jadi ketika kisah hidup tersebut dimasalahkan orang, dia merasa terusik hidupnya. Lantas apa latar belakang dia menuliskan kisah hidupnya jika bukan untuk dicerca orang banyak?

  6. kita tunggu saja, AH memberikan tanggapan dalam sebentuk tulisan. mungkin sekarang ia sedang sibuk dengan banyak pekerjaan akibat popularitasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here