Bermimpilah, karena dari situ keberhasilan akan datang menghampiri. Dengan bermimpi anda bisa menjadi sebagaimana yang anda inginkan. Apapun. Namun hati-hati, bila anda memiliki mimpi-mimpi yang ingin anda raih, ada pihak lain yang akan mengambil impian anda. Mereka adalah para pencuri mimpi.

Jangan salah sangka bila pencuri mimpi itu selalu orang jahat. Dia bisa merupakan orang-orang jujur yang ada di sekeliling dan anda kenal baik. Mungkin saja mereka adalah sahabat, teman, tetangga, saudara, atau malah orang yang tinggal serumah dengan anda: orangtua, kakak, adik, anak, istri, atau suami. Sikap, perilaku, pikiran, dan perkataan mereka barangkali anda anggap biasa dan setiap hari anda hadapi. Namun bisa jadi anda tidak sadar bahwa anda sedang berhadapan dengan pencuri mimpi.

Mengapa saya menyebut mereka pencuri mimpi? Anda pasti akan menganggap saya sebagai orang yang ‘asbun’ bila saya tidak dapat memberikan penjelasan tentang para pencuri mimpi. Bila memang anda menilai saya ini ngawur, anda boleh mencerca saya sebagai tukang obat kaki lima. Namun jika apa yang saya sampaikan ini benar tetapi anda tetap tidak mau percaya dan akhirnya celaka, itu salah anda sendiri. Sebagai orang Jawa, saya hanya bisa berucap, “Sudah diberitai kok masih menyangkali.”

Sekarang mari kita lihat peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan kita. Pernahkan anda punya cita-cita, misalnya ingin jadi pilot, kemudian orangtua anda mengatakan, “Tahu dirilah, sekolah saja ngos-ngosan gitu.”? Atau, anda sangat antusias untuk bisa membeli mobil mewah, tetapi sahabat anda malah bengong sambil memelototkan matanya ke anda. “Mau ngrampok bank lu?” Dia bingung dengan mimpi anda yang tidak masuk akal. Barangkali yang ini, anda nilainya biasa-biasa saja selama ini. Ketika anda sampaikan ambisi anda untuk jadi yang terbaik, semua teman anda tertawa ngakak. Bila anda belum sadar, orang-orang yang sedang anda hadapi itulah para pencuri mimpi.

Seringkali pencuri mimpi ini tidak sadar bahwa dirinya adalah seorang pencuri mimpi orang lain. Yang dia sampaikan bentuknya memang fakta, misalnya bahwa temannya bodoh itu benar, adiknya tidak cantik memang betul, saudaranya miskin semua orang juga tahu. Kadang-kadang bukan fakta tetapi berupa nasihat. Jangan ke sana berbahaya, pulang saja biar tidak celaka, sembunyi aja, jangan dilayani trouble maker seperti itu, usaha yang aman-aman saja, dan masih banyak lagi.

Banyak label yang diberikan oleh para pencuri mimpi ini kepada anda yang tentu saja terlihat positif. Keamanan, rasa sayang, kesehatan, adalah beberapa di antara label-label tersebut. Karena terlihat baik maka dengan tidak sadar anda akan mengikuti apa yang mereka sampaikan sehingga akhirnya apa yang anda impikan akan menguap dan tidak akan pernah terwujud. Anda yang tadinya ingin menyaksikan matahari terbit dari puncak gunung, kemudian membatalkan rencana tersebut karena teman anda mengatakan banyak resiko dalam mendaki gunung. Banyak rencana yang akhirnya tinggal rencana karena munculnya para pencuri mimpi dengan nasehat, fakta, dan opini yang memang benar dan masuk akal.

Saya tidak menyalahkan para pencuri mimpi ini. Saya harap anda juga tidak. Mereka memang benar dengan apa yang mereka sampaikan dan lakukan. Hanya saja, mereka berada di sisi yang berbeda. Seperti mata uang, anda yang memiliki mimpi ada di satu sisi sedangkan pencuri mimpi berada di sisi yang lain. Bila ada orangtua yang memperingatkan anaknya untuk tidak memanjat pohon agar tidak jatuh, itu bukan perbuatan salah. Si anak tidak akan jatuh dari pohon karena tidak naik. Itu dari satu sisi. Tahukah anda satu sisi yang lain? Pasti anak itu kemudian tidak bisa dan tidak berani naik pohon. Lebih parah lagi, tidak heran bila dia mengidap acrophobia (takut dengan ketinggian). Anda yang selalu dipaparkan resiko gagal ketika akan melakukan sesuatu akhirnya akan menderita atychiphobia (takut gagal).

Tentu saja kita tidak boleh durhaka kepada orangtua, memutus tali silaturahim, atau tidak mau bertegur sapa lagi agar mimpi kita menjadi kenyataan. Memang, kita tidak akan bisa menghindari mereka berada di sekeliling mimpi-mimpi kita. Mereka adalah teman, tetangga, saudara, atau keluarga kita. Terus bagaimana menghadapi mereka agar menghasilkan solusi menang-menang, semua pihak merasa senang? Tidak gampang memang tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Fokus, merupakan tindakan yang perlu dilakukan untuk mencapai apa yang diinginkan. Kira-kira anda akan sampai ke tujuan tidak ketika anda jalan mata anda ditutup? Fokus adalah mengupayakan sumber daya yang dimiliki untuk tetap tertuju pada sasaran. Boleh para pencuri mimpi ini memberi nasehat, saran, opini dan lain-lain, tetapi selama kita fokus pada mimpi kita, mereka tidak akan dapat merebutnya.

Bertindak. Tidak semua orang berani bertindak. Mereka memiliki ide cemerlang, rencananya bagus-bagus dan brilian, perhitungannya detail dan akurat, namun ketiba tiba saatnya merealisasikan rencana hebatnya itu, mereka tidak bergerak. Keragu-raguan tiba-tiba muncul. Mereka tidak berani action. Ide-ide itu kemudian menjadi impoten. Berani mengambil tindakan inilah yang kelihatan gampang tetapi faktanya banyak orang tidak sanggup disebabkan alasan yang macam-macam. Salah satu penyebabnya adalah yang datang dari pencuri mimpi.

Bila dilihat sebenarnya kunci pertama keberhasilan adalah keberanian mengambil tindakan. Memang, keberanian bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya butuh keberanian, termasuk hal yang sepele. Anda bisa cari sendiri contohnya. Boleh anda memiliki ide luar biasa, silakan anda menyusun rencana yang sempurna, matangkan segala persiapan, tetapi selama anda tidak bertindak, semua itu omong kosong. Anda akan menjadi orang yang hanya bisa ngomong dan berencana. Itulah kerjaan seorang pelamun. Seribu langkah tidak akan tercapai bila tidak diawali oleh langkah pertama.

Jangan sampai anda ini menjadi anggota NATO. Bukan, bukan North Atlantic Treaty Organization. Itu sih keren. NATO alias OMDO alias No Action Talking Only alias OMONG DOANG.

3 COMMENTS

  1. […] Pencuri mimpi bisa datang dari mana saja. Kerap kali, mereka datang dengan baju rasionalitas, kepantasan, kewajaran, dan hitung-hitungan. Juga, ketika pencurian itu dilakukan, dalil yang digunakan terdengar, terlihat, dan terkesan baik. Persis seperti kelakuan pencuri budiman dalam cerita Robin Hood. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here