pencuri mimpiPencuri mimpi bisa datang dari mana saja. Kerap kali, mereka datang dengan baju rasionalitas, kepantasan, kewajaran, dan hitung-hitungan. Juga, ketika pencurian itu dilakukan, dalil yang digunakan terdengar, terlihat, dan terkesan baik. Persis seperti kelakuan pencuri budiman dalam cerita Robin Hood.

Tidak gampang menghadapi pencuri mimpi. Yang sering terjadi adalah sebuah dilema karena menghadapi pilihan sulit. Layaknya buah simalakama, manapun yang dipilih, yang satu pasti menjadi korban. Ketika pilihan itu diambil, itu artinya harus memilih antara mempertahankan mimpi atau membiarkan mimpi itu dicuri. Jika ada kesempatan untuk kompromi, itu lebih baik. Sayangnya, mengkompromikan impian sering berarti merelakan pencuri mimpi melakukan aksinya.

Tidak ada rumus baku yang bisa digunakan untuk mengatasi pencuri mimpi. Karena ketiadaan rumus baku itu, sering kali si pemilik mimpi kebingungan saat bertemu si pencuri. Ketidakbakuan itu muncul karena menyangkut prioritas pilihan. Setiap orang memiliki pertimbangan dalam memutuskan sesuatu termasuk saat harus memilih. Terkait dengan mimpi yang sama dari dua orang, hasilnya bisa berbeda antara orang pertama dan kedua. Mungkin saja orang pertama lebih memprioritaskan impiannya, yang kedua membiarkan mimpinya sirna meskipun terpaksa.

Siapa pencuri mimpi itu? Tidak sedikit mereka adalah orang-orang yang sangat kita kenal dan begitu dekat dengan kita. Percayakah bila para pencuri itu adalah sahabat anda, kakak, adik, anak, suami, istri, orangtua, guru, tetangga, dan orang dekat lainnya? Barangkali anda akan menolak. Celakanya, memang merekalah yang kadang-kadang sebagai pencurinya. Kok bisa?

Orang-orang dekat anda itu tentu saja tidak bermaksud jahat. Mereka justru menunjukkan fakta, kebenaran, sesuatu yang masuk akal, dan juga perhitungan matematis. Semua itu memang terlihat logis dan betul tetapi itulah yang menjadi media terjadinya pencurian mimpi. Pencurian itu bisa berlangsung tidak sepenuhnya salah mereka. Anda sendirilah yang paling berperan terjadi tidaknya pencurian itu. Memang tidak gampang mencegahnya karena anda harus memilih antara impian dan, misalnya, kebahagiaan orangtua anda.

Pencuri mimpi sama dengan pencuri ayam. Mereka mengambil barang milik orang lain. Bedanya adalah cara melakukannya. Pencuri ayam mungkin akan datang ke kandang dan menyergap ayam yang ada di dalamnya. Pencuri mimpi akan datang ke anda kemudian men-discourage atau melakukan demotivasi terhadap anda. Pencuri ayam mengambil secara fisik, pencuri mimpi mengambil secara mental. Akibatnya jelas jauh berbeda. Kerugian yang ditimbulkan pencuri ayam senilai ayam colongannya. Kerugian pemilik mimpi bisa berujud sebuah penyesalan seumur hidup.

Bagaimana proses pencurian itu berlangsung? Seperti di bawah inilah yang kadang-kadang terjadi. Mungkin tidak sama persis, tetapi kurang lebih seperti itu. Dan saya tidak heran jika ternyata dari beberapa contoh yang saya sebutkan tersebut, salah satunya adalah yang sedang menimpa anda.

Pernahkah sahabat anda mengatakan ”Sudahlah, nggak mungkin dia milih lu. Tampang nggak seberapa gitu mau dapat bidadari.” saat menanggapi niat anda mendapatkan gadis yang paling cantik di kampus? Itulah contoh pencuri mimpi sedang beraksi. Wajar dan logis ketika sahabat anda berbicara seperti itu. Tetapi jika anda menuruti omongannya, berarti anda membiarkan impian anda dicuri. Contoh lain, orangtua anda berucap, ”Mau makan apa dengan bermain musik? Masuklah ke Fakultas Kedokteran, dan kamu jelas akan terjamin hidupnya dengan menjadi dokter.” Sementara itu, anda benci melihat darah. Anda sebenarnya ingin menjadi musisi terkenal. Maksimalkah bila anda kemudian kuliah kedokteran? Karena yang disampaikan orangtua anda masuk akal dan anda sayang mereka, anda selanjutnya menuruti apa yang meraka katakan. Dengan demikian, anda harus mengubur impian anda meskipun dengan terpaksa. Satu contoh lagi, saudara anda bilang, ”Emang berapa modal lu? Uang saja nggak punya kok bermimpi mau buka usaha.” Hitungan matematis saudara anda itu jelas benar dan masuk akal. Namun sadar atau tidak, saudara anda itu sedang beraksi sebagai pencuri mimpi. Begitu anda percaya omongannya kemudian berhenti berusaha maka tercurilah mimpi anda.

Anda blogger? Percayakah anda bila ada yang mengatakan bahwa tulisan blogger tidak mungkin sekualitas karya para penulis buku? Jika anda percaya sehingga menghentikan impian anda menulis buku, berarti anda membiarkan pencuri mimpi di luar sana merampok mimpi anda.

Mulai sekarang, jika anda tahu sedang berhadapan dengan pencuri mimpi dan anda tidak menginginkan impian anda tercuri, PLAK!, tampar saja. Jangan orangnya tentu saja. Kecuali anda cari perkara. Apalagi pencuri itu orangtua anda, bisa durhaka. Tampar aksi pencuriannya. Enyahkan upaya mereka mencuri mimpi anda. Tidak gampang memang, terutama ketika yang kita hadapi orangtua karena kita sayang dan menghormati mereka. Jika bisa kompromi tanpa ada impian tercuri sekaligus pendapat orangtua tetap kita hormati, itu yang paling terpuji.

Selamat bermimpi.

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here