The challenge of leadership is to be strong, but not rude. Be kind, but not
weak. Be bold, but not a bully. Be thoughtful, but not lazy. Be humble, but not timid. Be proud, but not arrogant. Have humor, but without folly.
(Jim Rohn, America’s foremost business philosopher)

Saya bukan pengagum Benazir Bhutto. Tahu diapun dari media. Saya juga tidak anti terhadapnya. Tetapi ketika headline news di televisi jam 22.00 wib (Kamis, 27/12/07) memberitakan penembakan disertai bom bunuh diri yang ditujukan kepadanya, saya tersentak. Kematiannya yang tragis benar-benar mengagetkan dan mengharukan saya. Sampai-sampai, ketika paginya Delta FM menyelenggarkan bincang-bincang tentang pembunuhan itu, saya sempatkan mengirim sms. Benazir yang pernah berucap tidak takut mati sekarang dipaksa menghadapinya. Kematian telah menghampirinya melalui peluru yang menembus leher dan dada. Itulah resiko seorang pemimpin.

Kematian Benazir yang digilai pengikutnya ini mengingatkan saya pada tingkatan kepemimpinan versi John C. Maxwell yang dikutip Rhenald Kasali dalam bukunya Re-Code Your Change DNA. Menurutnya leadership itu ada lima tingkatan. Level yang mana si Benazir ini, silahkan anda nilai sendiri setelah mengetahui lebih lanjut penjelasan dari tiap level yang saya coba tulis di bawah ini.

The Door. Tingkatan yang paling rece-rece oleh Maxwell disebut the door. Pemimpin di level ini modalnya adalah sebuah SK. Dengan surat keputusan yang dipegangnya dia menganggap sudah menjadi pemimpin. Otomatis semua bawahan harus mengikuti apa yang dia perintahkan. Legal formalnya sudah dia miliki berupa surat keputusan. Itu berarti secara struktural, dia ada di posisi paling puncak. Suka tidak suka semua jajaran yang ada di bawahnya harus mengakui dia sebagai orang pertama. Kebijakan yang dia keluarkan harus diikuti semua anggota. Semua kegiatan harus sepengetahuan dan seijin dia. Layaknya sebuah pintu, semua jajarannya harus melalui dia. Jika anda ada di level ini, anak buah anda mengikuti perintah anda karena suatu keharusan. They follow you because they have to, suka atau tidak suka.

Permission/Relationship. Pemimpin level 2 menjalankan tugasnya bukan sekedar berbekal SK. Surat itu buat dia hanya sebagai legalitas posisinya doang. Hatinya mulai digunakan dalam menjalankan pekerjaan dan memutuskan suatu masalah. Bagi dia pendekatan personal terhadap bawahannya perlu dilakukan. Anak buah yang dipimpin pun akan merasa dimanusiakan. Mereka bisa melihat dan merasakan pemimpinnya tidak kaku hanya mengikuti aturan yang ada. Pemimpin ini akan maklum bila suatu saat anak buahnya tidak maksimal kerjanya karena ada masalah pribadi di luar kantor. Bila anda pemimpin level 2, anak buah akan kerja semangat karena anda memimpin dengan cinta. Mereka tidak keberatan anda pimpin. Intinya mereka bukan kerja dengan terpaksa, tetapi memang mau dan dengan senang hati. They follow you because they want to.

Production (Result). Pemimpin level 3 bukan hanya pintar menyenangkan hati anak buahnya dan memelihara hubungan baik, tetapi secara kemampuan dia memang hebat. Anak buah bisa melihat hal itu. Mereka mengakui bila pemimpinnya memang orang yang kompeten. Karena itulah mereka bukan hanya senang dengan pimpinannya yang supel tetapi juga mengagumi (admire) karena kinerjanya. Hasil kerja pimpinannya bukan hanya kacangan tetapi luar biasa. Bukan hanya omdo, omong doang, tapi ada buktinya. Semua orang bisa melihat dan merasakannya.

People Development (Reproduction). Pimpinan di level 4 ini bukan hanya menjaga hubungan dengan anak buah dan berkinerja baik, tetapi juga memikirkan kesinambungan kepemimpinan yang dia jalankan. Bagi dia, anak buah yang extraordinary bukan menjadi lawan atau ancaman tetapi merupakan benih berharga yang harus dibina. Bila perlu, bawahan lain yang ordinary, biasa-biasa saja, berusaha dikembangkan menjadi extraordinary juga. Oleh karena itulah dia terus berusaha menciptakan calon-calon pemimpin di organisasinya untuk menggantikan posisinya kelak atau menjadi pemimpin di tempat lain. Anak buah yang melihat pimpinannya tidak egois, tidak mementingkan kemajuan diri sendiri, mereka bukan hanya sekedar kagum (admire) tetapi sudah meningkat menjadi loyal. Muncul kesetian terhadap pemimpinnya. Loyalitas ini bila perlu akan ditukar dengan nyawanya sendiri. Dia rela nyawanya dipersembahkan untuk pemimpinnya.

Personhood. Orang yang sudah menjadi pemimpin level 5 bukan hanya menimbulkan hormat (respect) bagi anak buahnya, juga pihak lain. Manusia ini layaknya dewa. Orang menjalankan perintah karena dia yang mengatakan, karena dia orangnya. Segala hal yang menimbulkan kekaguman dan kesetiaan sudah mewujud dalam bentuk pribadi pemimpin ini. Dalam tataran ini bisa saja dia tidak memiliki SK. Bukan dia pemimpinnya, tetapi semua orang menghormatinya. Di masa Firaun, nabi Muhammad bukan rajanya, tetapi orang hormat terhadapnya. Dalam sebuah organisasi, akan sangat mungkin kita temukan pemimpin resminya baru ada di level 1 sedang di antara yang dipimpin itu ada pemimpin level 5. Akan menjadi luar biasa jika anda ini bukan hanya pemimpin resmi tetapi juga pemimpin level 5.

Jika anda mau jadi pemimpin, atau sekarang sudah ada di posisi itu, pemimpin apapun, jadilah pemimpin level 5. Perlu upaya memang, tetapi sangat mungkin kan? Nah bagaimana jika anda merasa dipimpin oleh orang yang anda rasa bukan orang pandai? Tentu saja pandai di sini bukan hanya terkait dengan kecerdasan otak. Yang jelas, pimpinan yang tidak pandai ini pasti hanya ada di level 1.

Ada resep yang mungkin berguna bagi anda tentang hal-hal yang harus dilakukan jika atasan anda bukan orang pandai. Kiat-kiat ini saya ambil dari buku Manajer Bijak karya Sam Deep dan Lyle Sussman (judul aslinya Smart Moves).

  1. Jangan mengharapkan lebih daripada yang dapat dilakukannya. Jika anda tidak mempunyai harapan terhadap atasan, anda tidak akan kecewa.
  2. Pandanglah perilaku yang tidak anda sukai sebagai masalah atasan, bukan masalah anda.
  3. Jangan menjadi jengkel terhadap sesuatu yang sebenarnya bersumber pada ketidakmampuan. Pengalaman kami menunjukkan bahwa kejengkelan tidak ada gunanya. Sebab utama dari keputusan yang keliru seringkali adalah ketiadaan informasi atau sekadar ketololan.
  4. Perbanyaklah berhubungan dengan bawahan dan kurangi hubungan dengan atasan.
  5. Tunjukkan pada atasan apa yang seharusnya dilakukannya untuk membuat hubungan anda berdua lebih produktif dan organisasi lebih sukses.Ini harus dilakukan dengan hati-hati. Salah satu caranya adalah dengan mengajak atasan mengikuti sesi umpan-balik, seperti berikut. Ambillah selembar kertas kosong yang hanya berisikan tiga judul: “Lakukan lebih banyak… Lakukan lebih sedikit… Pertahankan…” Di bawah masing-masing judul ini tulislah perilaku anda yang anda yakin akan ditempatkan dalam kategori yang sama oleh atasan anda. Mintalah atasan anda melakukan hal yang sama dengan menuliskan perilaku yang ia yakin anda akan menempatkannya dalam kategori yang sama baginya. Sekarang anda mempunyai dasar untuk diskusi yang selalu anda harapkan berlangsung antara anda dengan atasan. Masing-masing dari anda akan melihat perilaku tadi dan katakanlah mana yang anda setujui, tidak anda setujui, dan ingin anda tambahkan. Aturan dasar terpenting dalam sesi umpan-balik ini adalah bahwa masing-masing dari anda harus memilih sendiri tiga perilaku dari daftar akhir yang akan anda ubah demi memperbaiki hubungan anda berdua dengan bantuan dari pihak lainnya.
  6. Jagalah peluang anda di luar kalau-kalau anda memutuskan untuk mengundurkan diri. Peliharalah ketampakan anda di organisasi dan profesi anda. Perbaruilah terus resume anda.
  7. Bertahanlah dan nantikanlah pengganti atasan yang lebih baik.
  8. Prestasi baik anda mungkin akhirnya membuat anda dipromosikan ke posisi yang sekarang diduduki atasan anda.
  9. Bila semua gagal, sempurnakan resume anda dan kirimkan itu ke perusahaan pencari tenaga kerja.

Sekarang anda coba tengok diri sendiri bila saat ini kebetulan mendapat amanah menjadi pemimpin. Pemimpin apapun. Apakah anda ini seperti bangsa dinosaurus yang gambarannya pernah disampaikan dalam Lokakarya Kepemimpinan, Manajemen, dan Penataan Universitas Pakuan Bogor, 29-30 Agustus 2007, di bawah ini atau tidak.

DINOSAURUS, apakah anda termasuk juga?

Suka bertingkah aneh-aneh, lucu dan menggelikan.
Kemauannya enggak jelas, sulit untuk dimengerti orang.
Suka mengancam, menakut-nakuti dan menggertak orang.
Sering marah-marah dan mengamuk tanpa ada sebab yang jelas.
Suka mengejek dan merendahkan orang lain.
Bahkan kalau menghukum orang merasa bangga dan senang.

Tidak mau “mainannya” diganggu.
Teritorialnya tidak boleh dimasuki orang.
Egois, mau menang sendiri, tanpa ada toleransi.
Sok disiplin, sok peraturan, nggak ada keluwesan sama sekali.
Suka cekcok dan berantem dengan sesama “species.”
Tega menekan dan memeras sesama “bangsa.”
Enggak peka terhadap perasaan orang lain.
Sulit diberitahu, ndableeeg!!

Merasa paling kuat, paling besar dan paling berkuasa.
Anggap enteng orang, tidak menghargai sesamanya.
Merasa paling berjasa, sok pahlawan.
Suka ngambek dan bersikap masa bodoh.
Berani hanya di kandang sendiri.
Badan segede gunung, nyali cuma sekecil kacang ijo.

Anda boleh ngomelin saya jika tersinggung setelah membaca tulisan di atas. Bila demikian, ada peribahasa bagus yang cocok buat anda yang marah-marah. Barang siapa yang berkotek ialah yang bertelur. Siapa yang merasa tersindir, dialah yang berbuat seperti yang disindirkan itu.

Anda ayam bukan? Eh dinosaurus?

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here