Tidak dapat disangkal lagi Bogor adalah salah satu tujuan wisata utama di Jawa Barat. Bukan hanya turis lokal, pelancong bule atau turis manca negara pun sangat berminat mengunjungi Bogor. Magnet yang paling menyedot para turis ini tidak lain adalah Kebun Raya yang persis berada di tengah kota. Dengan luas 80 hektar dan koleksi jenis tanaman lebih dari 15.000 termasuk 400 jenis pohon palem, Kebun Raya merupakan surga terutama bagi pecinta tanaman.

Dengan banyaknya pelancong berkunjung ke Bogor, hal ini merupakan peluang untuk membuka bisnis wisata. Salah satu peluang bisnis yang terkait dengan kepariwisataan adalah menjadi tour guide atau pemandu wisata. Profesi ini sangat menarik untuk dijalani. Selain mendapatkan uang, teman dari penjuru dunia juga akan bertambah. Apalagi dengan adanya teknologi internet, peluang berpromosi dan berinteraksi langsung dengan wisatawan di seluruh dunia terbuka sangat lebar.

Banyak pengalaman menarik menjadi pemandu wisata. Pengalaman-pengalaman itulah yang saya ingin coba bagi dengan anda. Tulisan ini merupakan kisah perdana dari serangkaian cerita tentang pengalaman menjadi pemandu wisata. Mengapa tulisan ini saya beri judul Pemandu Tahi Kebo? Silakan dibaca terus bila ingin tahu jawabannya.

Awalnya saya membuat situs wisata di internet semata-mata hanya untuk membantu pelancong, terutama turis asing, memiliki informasi tentang Bogor sebelum mereka datang. Kemudian dalam perkembangannya saya juga menawarkan jasa pemandu wisata. Tidak beberapa lama setelah layanan itu saya luncurkan, sebuah email masuk ke mailbox. Si pengirim memperkenalkan diri bernama Raniyeh Gilani dari Sydney. Dia akan datang ke Bogor. Maksud dia mengirim email adalah untuk memesan sebuah kamar di hotel bintang empat atau lima di Bogor. Dia maunya hotel bintang empat atau lima, bukan yang lain. Dalam hati saya mengatakan, turis ini pasti tajir.

Hati saya berbunga-bunga. Ini dia yang saya tunggu-tunggu. Selain banyak uang, dia merupakan tamu pertama saya. Agak bingung juga saya mesti bagaimana. Segera muncul banyak pertanyaan juga kekhawatiran. Bagaimana cara menyambutnya? Hotel mana yang harus saya rekomendasikan? Bagaimana nanti jika dia kecewa dengan pelayanan saya? Perasaan saya campur aduk tidak karuan.

Karena yang dia inginkan hotel berbintang, pikiran saya langsung tertuju ke hotel yang menghadap Kebun Raya. Hotel ini adalah salah satu yang saya jadikan rekanan bila tamu saya menginginkan kamar hotel berbintang. Saya akan mendapatkan komisi 30% dari harga kamar yang dipesan. Pihak hotel selanjutnya menyediakan kamar pesanan saya untuk Raniyeh.

Komunikasi via email dengan Raniyeh terus berlangsung. Setiap pertanyaan yang dia kirimkan saya coba jawab sejelas dan serinci mungkin, termasuk ketika dia menanyakan extra bed yang dia pesan di kamar hotel yang akan dia tempati nanti. Sesuai penjelasan dari pihak hotel, informasi tentang extra bed itu pula yang saya kirimkan kepadanya. Nggak salah kan saya?

Beberapa hari kemudian, Raniyeh mengirim email. Dia memberi kabar telah mentransfer uang dengan jumlah sesuai kesepakatan ke rekening saya. Uang tersebut merupakan uang pertama yang saya terima dari bisnis menawarkan jasa wisata lewat internet. Bisa dibayangkan hati ini senang bukan kepalang. Setengah percaya setengah tidak. Apalagi jumlahnya tiga kali dari gaji yang saya pernah terima ketika menjadi karyawan perusahaan di Jakarta.

Uang yang sudah ada di tangan segera saya bayarkan ke hotel. Sisanya yang merupakan komisi 30% dari hotel saya gunakan untuk membayar hutang. Lega rasanya telah melunasi hutang yang jadi beban selama ini. Puas, sebab situs wisata yang saya buat ternyata bisa menghasilkan uang. Uang pertama itu bisa melunasi hutang lagi.

Raniyeh datang beserta dua temannya pada waktu yang telah direncanakan. Mereka langsung check-in di hotel. Semua berjalan lancar. Proses check-in dilakukan sesuai standar hotel. Room boy kemudian mengantarkan tamu-tamu terhormat saya ini ke kamarnya. Ketika mereka sampai di kamar, extra bed yang ada ternyata tidak sesuai dengan yang diinginkan. Mereka komplain. Pihak hotel kemudian menghubungi saya untuk berbicara dengan Raniyeh. Di ujung telepon terdengar suara perempuan. Tanpa babibu dia langsung nyerocos, “Adi, I want all my money back!” Saya sedang dihadapkan pada kanguru betina yang sedang meradang. Sebisa mungkin saya bersikap tenang. Selanjutnya saya sampaikan sejelas dan sesingkat mungkin perihal extra bed yang mengecewakan dia. Rupanya dia tidak mau terima dan tidak peduli penjelasan saya. Raniyeh bersikeras menuntut semua uangnya kembali. Begitu marah dan frustasinya, dia bahkan mengancam segala. “Adi, give all my money right now. If you don’t, I won’t recommend your service to all my friends in Australia.” Kata-kata pedas juga dia lontarkan. “You’re a liar. Your service is bullshit. You’re bullshit.” Aduh-duh alangkah galaknya kanguru betina bila sedang mengamuk.

Bukannya saya tidak mau mengembalikan uang dia yang 30% lagi. Masalahnya adalah uang itu sudah tidak ada di tangan saya. Semua sudah digunakan untuk membayar hutang, dan itu tidak mungkin saya ceritakan kepadanya. Agar terdengar resmi, saya katakan kepada dia bahwa uang yang 30% itu adalah biaya administrasi karena melakukan pembatalan. Seandainya uang itu masih saya pegang, dengan senang hati akan saya kembalikan.

Kejadian dengan Raniyeh Gilani yang galaknya bak kanguru bunting merupakan pengalaman berharga bagi saya. Dia adalah turis yang menjadi tamu pertama saya dari bisnis online. Dari dia saya mendapat pelajaran untuk tidak menggunakan dulu uang komisi sebelum semua benar-benar beres sampai si turis sudah kembali ke negaranya. Kapok deh diomel-omelin. Meskipun tidak sakit hati, karena menurut saya tidak ada yang salah, yang ada hanya kesalahpahaman saja, saya jadi merasa bersalah juga. Saya ini kan ingin jadi pemandu wisata beneran, bukan bullshit guide alias pemandu tahi kebo.

Sumber gambar: wikimedia.org

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here