>Salah satu yang bukan hanya muskil tetapi juga mustahil bagi laki-laki untuk dilakukan adalah melahirkan. Satu-satunya lelaki yang bisa hamil dan melahirkan hanyalah orang yang bernama Junior dalam film dengan judul sama yang diperankan oleh Arnold Swarzchenegger. Dan saya anggap orang tolol jika anda tetap ngotot menganggap lelaki dalam film itu sebagai sebuah fenomena yang menarik.

Bagi kita, yang namanya pejuang bisa menjadi variatif. Untuk generasinya orang-orang tua yang nasionalis plus patriotis, pejuang adalah mereka yang ikut terlibat mempertahankan kedaulatan atau memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Itu berarti manusia-manusia sakti seperti Pangeran Diponegoro, Pattimura, Cut Nyak Dien, atau mungkin anda punya pejuang idola sendiri yang seangkatan dengan pahlawan-pahlawan bangsa tersebut.

Lain orangtua lain anaknya. Orangtua mungkin jadi cengok bin terlongong-longong saat mendengar anak remajanya menyebut tokoh pejuang yang dia kagumi adalah Kaka Slank. Alasannya? Karena dia menyuarakan kebebasan. Atau Iwan Fals, yang dianggap tokoh reformis sejati. Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin tokoh yang hanya memegang gitar, tua dan butut lagi, ngamen lagi, bisa dimasukkan kelompok pejuang. Itulah barangkali protes yang disuarakan orang yang beda generasi. Bagaimanapun juga selalu akan muncul gap antara dua generasi yang berbeda. Dan perbedaan yang terjadi sudah pasti akan kontra produktif bila tidak disikapi dengan baik. Anda bisa lihat sendiri contoh gamblang dalam dunia politik. Muncul adanya dua kubu yang saling membela dan melindungi kepentingan masing-masing. Dari isu tentang usia, pendidikan, kepantasan, kompetensi, dan masih banyak lagi yang lain. Bagaimanapun, tidak bisa dipungkiri, sampai kapanpun yang namanya perbedaan pasti ada. Oleh karena itu sudah barang tentu perlu adanya diversity management dalam menangani perbedaan-perbedaan yang ada atau yang muncul.

Pencipta kehidupan ini bukan tanpa maksud membuat perbedaan. Yang namanya dikotomi itu bisa dibilang wajib hukumnya. Anda pasti tidak mau di muka bumi ini hanya ada perempuan atau laki-laki saja. Bumi ini akan gelap-gulita terus dan tidak ada kehidupan seandainya hanya ada malam. Sebaliknya dunia ini akan terbakar habis bila matahari bersinar 24 jam sehari atau siang tidak pernah diselingi malam. Dengan adanya perbedaan, itulah yang disebut dengan harmoni. Dan seharusnya menjadi harmoni. Artinya bila perbedaan itu menjadi bagian yang saling melengkapi, saling mendukung, dan saling menyempurnakan maka terciptalah sebuah harmonisasi. Makanya kenapa alat musik yang cara memainkannya seperti makan jagung itu disebut harmonika, karena besar kecilnya lubang yang berbeda-beda itu akan menghasilkan irama yang indah bila saling melengkapi. Mengapa suami istri yang bahagia disebut keluarga harmonis, karena mereka yang berbeda jenis kelamin, usia, kebiasaan, adat istiadat, suku, bangsa, dan lain-lain bisa merukunkan perbedaan yang mereka miliki itu.

Kembali tentang konsep pejuang. Saya hanya menyarankan kepada anda supaya tidak meledak dulu ketika teman anda mengatakan pejuang idolanya Cepot. Sudah pasti dia punya alasan yang sifatnya subyektif. Tinggal anda klarifikasi saja kenapa dia mendudukkan tokoh punakawannya wayang golek ini menjadi pejuangnya. Itu baru kata pejuang, yang bisa menjadi bermacam-macam pemaknaannya. Bagaimana bila ada embel-embel lagi yang lebih spesifik di belakang kata pejuang? Bisa menjadi tidak berbeda. Tetap akan muncul arti dan gambaran yang melebar… bar… bar… bar…

Saya ajukan satu istilah. Pejuang kemanusiaan. Siapa dia menurut anda? Relawan yang membantu korban bencanakah? Kakek-kakek dari lereng Gunung Merapi yang memiliki pabrik sirupkah (mbah Marijan)? Atau anda setuju jika saya katakan ibu rumah tangga biasa yang buta huruf dan tinggal di tengah belantara Papua sana adalah seorang pejuang kemanusiaan? Anda punya jawaban sendiri-sendiri tentunya.

Bila anda melihat di sekeliling anda, mungkin anda akan temukan seorang perempuan yang sedang hamil atau habis melahirkan, entah itu orang lain atau anggota keluarga anda sendiri. Anda tahu? Itulah pejuang kemanusiaan sejati. Dialah sejati-jatinya pejuang. Dari rahimnya kemudian akan lahir berbagai jenis pejuang. Jadi bisa dikatakan ibu anda itu pabriknya pejuang. Oleh karena itu hormatlah pada emakmu. Hormatilah perempuan, perempuan dilihat posisinya sebagai pejuang kemanusiaan. Bila ada perempuan yang suka memamerkan auratnya, yang bangga dengan goyangan-goyangan sensualnya yang dipamerkan untuk konsumsi publik, anda cukup mendoakannya agar segera terbuka mata hatinya. Mudah-mudahan dia sadar bahwa goyangan mautnya itu hanya berusia sesaat saja. Bila tiba waktunya (bila sampai) menjadi nenek-nenek maka dia pasti akan menangis-nangis minta ampun jika diharuskan melakukan goyang mautnya. Bisa-bisa, maut menjemput.

Barangkali anda yang merasa perempuan ingin tahu, saya yang laki-laki ini, kadang iri dengan anda yang diberi hak ekslusif oleh Allah untuk melahirkan. Terdengar absurd mungkin, tapi bisa jadi saya tidak sendirian bila kadang-kadang iri. Saya hormat sehormat-hormatnya dan salut sesalut-salutnya terhadap anda. Bila diadu siapa yang lebih berani, mungkin anda yang menang. Jika laki-laki disuruh merasakan kesakitan selama sembilan bulan sepuluh hari barangkali akan langsung ngacir. Apalagi diberi kesempatan untuk merasakan puncak kesakitan di ujung waktu yang sembilan bulan sepuluh hari itu alias pada saat melahirkan, seratus persen akan nyerah bulat-bulat. Boro-boro merasakan sakitnya melahirkan, melihat istrinya melahirkan saja langsung pingsan. Bukannya para asisten membantu bidan atau dokter menolong yang sedang melahirkan, eh, lha ini kok malah menolong suami yang sedang pingsan. Apa ya nggak malah ngrepotin?

Bukannya tidak menghargai perjuangan para pejuang kemanusiaan sejati seperti anda ini, tapi saya lebih salut dan angkat topi tinggi-tinggi bagi mereka yang berani dan mau melahirkan secara normal. Mungkin bisa dimaklumi bila anda terpaksa harus melahirkan secara caesar (bener nggak sih tulisannya seperti ini bu dokter?) karena alasan medis atau membahayakan jiwa si ibu atau anak atau kedua-duanya, tetapi jika semata-mata karena alasan kosmetis artinya anda takut serabi jenggot (maaf) anda berubah jadi tidak menarik atau hal-hal lain yang sepele-sepele, saya dengan geram akan mengatakan, ”Makan tuh serabi!” Maafkan saya bila begitu eksplosif. Tidak ada maksud atau dendam apa-apa kok, hanya sebuah ungkapan kecil emosi melihat orang-orang egois yang lebih mementingkan urusan ragawi dan duniawi dibandingkan fungsi terhormat dia sebagai media reproduksi mahluk Allah yang paling mulia.

Buat para pejuang kemanusiaan di manapun anda berada, salam hormat dan takjub saya atas kesabaran, ketabahan, kekuatan, dan keberanian yang telah anda tunjukkan selama sembilan bulan sepuluh hari, bisa lebih dapat kurang tapi anda tidak boleh menawar. Semoga manusia-manusia yang anda lahirkan bukan hanya berbakti buat orangtuanya, bangsa, negara, dan agamanya tetapi juga menjadi manusia yang bisa mengangkat derajat dirinya sendiri di mata manusia lain dan terutama di hadapan Sang Maha Pencipta.

Saya mewakili para suami di dunia, suami yang sealiran dengan saya tentunya, perlu menyampaikan kepada para istri, terutama yang khawatir dengan kondisi fisiknya pasca melahirkan, tidak usahlah khawatir dengan keadaan anda setelah anda melahirkan. Bukan cantik atau langsing yang membuat para suami bahagia, tetapi anak-anak cantik dan tampan milik kita bersama yang menjadi kebanggaan itulah. Jika anda tetap cantik dan menarik pasca melahirkan karena menomorduakan anak yang anda lahirkan, kami para suami tidak menganggap kecantikan dan kemenarikan anda itu suatu kebanggaan. Kami tidak bangga dengan anda. Anda hanya menjadi perempuan egois yang kebetulan cantik dan menarik. Itu saja.

Bila anda gemuk setelah melahirkan, saya akan bilang, ”Big is beautiful.” Jika anda tetap langsing, saya akan berkata, ”You are incridible.” Seandainya anda gemuk tidak langsing juga tidak, saya akan berucap, ”You’re unbelievable.” Kalau anda kadang-kadang gemuk kadang-kadang kurus, saya akan terbengong-bengong sambil bergumam, ”You’re unpredictable.”

Buat Eka, tulisan ini adalah kado untuk keluarga bahagiamu yang Selasa (8/4/08) kemarin telah kedatangan adiknya Zaya.

SHARE
Previous article>Gratis?
Next article>Libido

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here